SIANG KEMARIN, penulis sempat beristerahat di depan Monumen Emmy Saelan di Jalan Hertasning. Monumen yang berdiri kokoh itu tak diperhatikan oleh satupun orang yang lalu lalang, hanya salah seorang bertubuh kurus dengan perawakan yang sederhana sedang duduk termenung menatap monumen. Dia-lah M Hasbi Rahman penjaga monumen.
Laporan: ARIF AL QADRY
Seketika lamunannya terusik setelah penulis Mendekatinya dan bekenalan dengan bapak yang sudah 20 tahun menjaga dan merawat monumen yang penuh sejahar di Makassar ini.
Saat ditanya bagaimana antusiasme warga kota untuk mengunjungi monumen tersebut, warga Jalan Hertasning Timur RT 03-RW 13 Kelurahan Kassi-kassi, Kecamatan Rappocini itu mengaku tidak begitu banyak bahkan sepi. Hanya anak-anak kecil berkunjung dan bermain.
Dia menegaskan, saat ini warga kota hanya mengetahui tempat berbelanja seperti mal dan warkop, padahal di kota ini terdapat cukup banyak tempat dan peninggalan bersejarah di Kota Makassar. Apakah karena lokasinya berada di tengah pemukiman padat penduduk dan tersembunyi, membuat monumen itu terlupakan.
Selain Monumen Emmy Saelan, ada sejumlah monumen lainnya yakni Monumen Mandala yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, dan Monumen Korban 40.000 jiwa di Jalan Langgau.
Pengunjung yang masuk ke Monumen Emmy Saelan sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Jika ingin berkunjung ke Monumen Emmy Saelan, haruslah memasuki sebuah lorong depan kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar, Jalan Hertasning Raya Timur. Lorongnya cukup lebar karena bisa dilalui kendaraan roda empat jenis truk.
Ketika sudah berada dalam lorong, gerbang bertuliskan Monumen Maha Putera Emmy Saelan menyambut yang ingin masuk. Warna gebangnya merah kombinasi putih.
Selain karena lokasinya yang berada di tengah padat penduduk, pelataran Monumen Emmy Saelan dijadikan sebagai tempat parkiran kendaraan truk, angkutan kota (Pete-pete) dan gerobak jualan Pedagang Kaki Lima (PKL).
Menurut Hasbi, ia seringkali menegur pemilik gerobak dan kendaraan yang parkir tepat di pelataran monumen.
“Saya hanya berharap mariki sama-sama menjaga kebersihan di monumen. Siapa lagi yang menjaga dan mencintai sejarah kalau bukan kita,” kata pria kelahiran Bone, 21 September 1968.
Sudah lebih 20 tahun, Hasbi Rahman bermukim di samping monumen. Ia juga dipercaya menjadi ketua RT 03-RW 13, Kelurahan Kassi-kassi. Semenjak awal tinggal di samping monumen, ia berinisiatif menjadi tenaga sukarela membersihkan monumen meskipun tanpa digaji.
Posisi rumahnya yang hanya berjarak tiga meter dari tembok monumen membuatnya cukup mudah melihat semua aktifitas di monumen mulai jika ada tamu masuk ke dalam monumen, sampai gerobak dan kendaraan yang masuk dan parkir di pelataran monumen. Semua mudah dia ketahui.
Jika kondisi monumen sudah banyak di tumbuhi rumput liar, lumut, dan sampah-sampah plastik, dia langsung turun membersihkan. Itu dilakukan hampir setiap hari dipagi dan sore hari.
Sering juga dia mengajak warganya khususnya anak-anak kecil yang bermain di monumen untuk bersama-sama membersihkan sampah-sampah secara sukarela. Dengan begitu, dia bisa mengajarkan anak-anak untuk sadar sejak dini pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Saya tidak dapat gaji bersihkan ini momumen, dan saya memang tidak permasalahkan itu. Karena kalau bukan kita lagi warga disini, masa orang lain yang turun untuk bersihkan monumen ini. Jadi setiap hari saya masuk dan kontrol kebersihan dalam monumen. Kalau kotor saya ajak anak-anak untuk sama-sama bersihkan,” sebutnya.
Menjadi kegembiraan bagi anak-anak yang sering terlibat membersihkan pelataran monumen ketika ada kegiatan atau acara di monumen. Karena sering ada uang kebersihan yang diberikan oleh pembuat acara. Uang kebersihan yang diterima Hasbi kemudian dia bagi rata dengan anak-anak untuk bersih-bersih. “Kalau ada acara bagus, biasanya kami dikasihkan uang kebersihan. Dan uang itu saya bagi raya ke anak-anak biar lebih semangat lagi bersih-bersih,” terangnya. (arf)
