Site icon Berita Kota Makassar

Keliling Pulau Sulawesi Pakai Mobil Antik

MENJALANI akivitas keseharian sebagai seorang birokrat, aneka permasalahan biasa ditemui. Tak jarang bisa memicu timbulnya stres. Karena itu diperlukan trik untuk mengatasinya.

Laporan: Arif Alqadri

SAAT ini, Daniel Pakambanan dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPP-KB) Kota Makassar. Di sela-sela rutinitas hariannya sebagai pejabat pemkot, ia menyempatkan diri untuk merawat dua mobil tua antik koleksinya.
Yang pertama adalah VW Kodok buatan Jerman tahun 1971. Mobil tersebut ia beli di Kota Magelang, Jawa Timur seharga Rp35 juta. Sedangkang VW Combi buatan tahun 1977, didapat 15 tahun lalu di Makassar dengan harga Rp15 juta.
Hobi dan passion Daniel Pakambanan ini merupakan salah satu caranya mengisi waktu dan memanjakan diri agar tidak stres menghadapi tekanan pekerjaan kantor.
Sudah 20 tahun ia mewujudkan impiannya untuk mengoleksi mobil klasik ini. Tidak heran bila cerita dan pengalamannya memiliki kendaraan jenis ini cukup banyak.
Makassar Volkswagen Club atau disingkat MVWC adalah komunitas bagi orang-orang pehobi mobil-mobil tua dan klasik. Komunitas yang berdiri sudah lama itu, kini memiliki 50 unit mobil anggota aktif. Setiap malam Minggu, pehobi tunggangan tua yang tergabung ini berkumpul di Jalan Arief Rate.
Karena memiliki anggota dengan latar belakang profesi berbeda, ketika berkumpul mereka saling sharing info seputar mobil-mobil tua, pengalaman, bisnis, dan juga pekerjaan. Sering pula jika unit anggota sedang rusak, anggota yang pandai mengutak atik mesin segera turun membantu memperbaikinya.
Demi mempererat tingginya rasa kebersamaan dan kekeluargaan anggota, setelah puas berbagi informasi, mengecek kondisi kendaraan, para anggota mulai jalan bersama-sama mengelilingi kota dengan mobilnya masing-masing.
Menjadi kesenangan tersendiri bagi pria kelahiran Rantepao, 8 Januari 1960 memiliki mobil tua klasik dan bergabung dalam sebuah komunitas. Sebab di tengah aktifitasnya yang cukup padat, bapak tiga anak ini masih bisa menikmati sensasi berkendara di atas besi tuanya.
Suami dari Charlota Elimatana ini begitu merawat dua mobil klasiknya. Bahkan, kendaraan itu telah menemaninya berkeliling Pulau Sulawesi.
Agar mobil kesayangannya itu selalu sehat, pria yang juga memiliki hobi sepeda santai memberikan perhatian lebih. Hanya saja, budget yang telah dikeluarkan untuk perawatan mobilnya tak pernah dihitung.
“Perawatannya biasa saja. Yang penting diperhatikan saja. Kalau besaran biaya yang sudah saya keluarkan, saya tidak pernah hitung. Yang terpenting bagaimana hobi saya tetap tersalurkan,” ujarnya.
Selain karena passion dan untuk menyalurkan hobinya, memiliki mobil tua klasik banyak memberikan dirinya pengalaman tambahan merawat mesin tua. Tak kalah penting, ia bisa menjelajahi daerah-daerah, khususnya Sulawesi serta bertemu dengan orang-orang baru.
Setiap tahun, komunitas mobil tua klasik melakukan jambore. Di momen itulah kesempatan dimanfaatkan berkumpul bersama pehobi mobil tua klasik dan saling bertukar pengalaman. Tidak ketinggalan dalam touring komunitasnya mengisi kegiatan sosial menyalurkan bantuan berupa sembako.
“Senangnya, selain karena hobi, saya juga bisa berkumpul dengan teman-teman berbeda profesi. Mulai mahasiswa, pejabat polri, dokter sampai mekanik mobil tua. Setiap tahun juga ada jambore nasional dan kita sering isi dengan kegiatan sosial,” katanya.
Selama 20 tahun memiliki mobil-mobil tua klasik, Daniel tidak pernah merasakan terbeban. Apalagi kesulitan dalam perawatan. Selain harga sparepart mobil tua murah yang murah, untuk mendapatkannya juga lumayan gampang. Karena di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Surabaya masih banyak yang menjualnya.
Jika mobil kesayangannya ingin diservice, ia tinggal datang ke bengkel teman komunitasnya di Jalan Toddopuli Raya Timur atau di Jalan Borong. Mekaniknya khusus mengerjakan mobil Eropa. Bila ada komponen yang rusak dan mesti diganti, mekanik tinggal memesan via daring. (*/rus)

Exit mobile version