PEKERJAAN yang dilakoni Syamsu ternyata tidak begitu mudah, selain harus berangkat sebelum salat subuh, ia harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih tidur nyenyak di kamar. Berangkat lebih awal untuk mengejar jadwal berangkat bus.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
“Saya berangkat dari rumah itu bisanya jam 4-5 subuh, biasanya saya singgah salat di jalan, karena rumah di Maros saya agak jauh dari tempat kerja di Kantor Perum Damri, Daya,” tuturnya.
Sebagai status tenaga kontrak, Syamsu mengaku gaji yang ia terima setiap bulannya tidak mampu menghidupi kelaurganya.
Perbedaan gaji sebelumnya saat menjadi supir di Papua dan saat ini di Perum Damri tentu dirasakan. Saat ia menjadi supir di perusahaan swasta di Papua gajinya bisa tiga kali lipat, dengan gaji sekarang hanya sebesar Rp1,3 juta.
“Tentu beda sekali waktu pekerjaan dulu, tapi besar juga kebutuhan disana. Saya syukuri saja, karena saat ini sudah bisalah menafkahi anak dan istri,” ungkapnya saat ditemui penulis, kemarin.
Meski gaji kecil, katanya, ia bersyukur sebab masih ada pemberian tip dari Damri kepada setiap mengantar penumpang ke daerah, yang dihitung pertiket yang laku. Syamsu mengejar tambahan gaji dengan tarif rit untuk mencukupi kebutuhannya.
“Untungnya ada tip begitu disini, jadi ia mendapatkan tambahan bonus setiap kali mengantar penumpang yang dikalikan dengan jumlah set. Biasanya sehari mendapat 7 persen dari pendapatan bus,” bebernya.
Diluar itu juga, ia mendapatkan biaya makan dari kantor sehingga ia tidak membutuhkan pengeluaran tambahan untuk makan dan minumnya, sebab telah dibiayai oleh kantornya. Tidak hanya itu, ia juga biasanya mendapatkan makan dari penumpang yang berbaik hati membelikannya.
“Jadi uang tips dan gaji saya kasih semua ke istri. Sisanya Insya Allah saya selalu percaya ada rezeki di jalan selama kita mencari nafkah yang halal,” katanya.
Semenjak memutuskan kembali ke Makassar tahun 2012 dan memutuskan menjadi supir Damri, banyak pengalaman yang Syamsu dapatkan. Utamanya saat ia harus menghadapi beberapa saingan di lapangan utamanya mobil antar daerah.
“Waktu pas awal-awal jadi supir, ia kaget dengan parsaingan disini, apalagi pernah dicegat dengan mobil-mobil panther antar daerah. Saya biasa dicegat dan dimaki-maki, tapi saya angggap biasa saja karena kalau diladeni tidak ada gunanya,” bebernya.
Tidak hanya itu, ia juga banyak belajar semenjak menjadi supir Damri utamanya prediksi waktu. “Orang biasa sudah capek di jalan, kalau saya jalur Camba termasuk dekat ke Sinjai, kita juga sudah belajar prediksi waktu,” ucapnya.
Selain itu Syamsu juga berharap suatu saat dirinya bisa diangkat menjadi pegawai tetap atau PNS lewat pekerjaan saat ini. “Saya cuman berharap suatu saat bisa diangkat menjadi pegawai tetap,” tutupnya.
Menjadi supir bus Perum Damri Makassar dengan jalur tempuh Sinjai-Makassar harus dilakoni Syamsu Alam setiap hari. Bahkan Syamsul terkenal ulet dan cekatan dalam menjalankan tugasnya sebagai supir bus.
Mengemudi adalah satu-satunya keahlian yang membuat Syamsu bertahan bekerja sebagai supir bus. Sebelum ia memutuskan menjadi supir bus, Syamsul juga pernah menjadi seorang supir truk yang ia lakoni selama 20 tahun lamanya.
“Waktu selesai kuliah di Makassar saya di ajak om merantau ke Papua. Disana saya bekerja sebagai supir bus di salah satu perusahaan swasta. Setelah berhenti, kembali menjadi supir truk pengangkut besi plat selama 20 tahun. Memang berat tapi harus dijalani,” ungkapnya saat ditemui penulis di Perum Damri Jalan Perintis Kemerdekan, Biringkanaya, Kamis (25/1).
Sosok bapak dua anak ini mengaku, sejak ia kembali ke Makassar, ia tetap memutuskan menjadi supir truk pengangkut pasir di Malino. Hanya saja, sejak 2016 ia memutuskan beralih menjadi supir bus Damri dengan status pegawai kontrak.
“Saya senang kerja mengemudi apalagi di lapangan. Saya bersyukur bekerja di Perum Damri karena sudah banyak kota kabupaten yang belum pernah saya datangi seperti Pinrang, Bulukumba, Sinjai,” bebernya.
Suami Habiba ini menjelaskan, banyak cerita dan pengalaman yang bisa ia ambil sejak memutuskan menjadi supir. Sebab sebelum menjadi supir ia adalah seorang peternak ayam dan pekerja sawah. Bahkan awalnya, orang tuanya melarang untuk merantau dan pergi jauh. “Awalnya orangtua tidak menyukai pekerjaanya sebagai supir bus antar kota, sebab waktunya akan lebih banyak di jalanan. Lama kelamaan mereka terima saja karena saya tidak pernah menyusahkan mereka,” tambahnya.
Bahkan ia mengaku sering dimarahi penumpang yang berangkat malam, karena bus yang terlalu melaju kencang. Tapi apa mau dikata, tuntutan ketepatan waktu membuatnya harus berkerja maksimal.
“Saya juga sering dapat omelan dari penumpang, karena jalanan rusak sementara mobil kencang. Sedangkan saya tidak bisa pelan-pelan. Saya cukup sabar saja dan berikan mereka pengertian,” ceritanya.
Jam kerja Syamsu tidak tentu dan tidak ada batasan bahkan bisa sampai seharin full setiap harinya. Bila ingin mendapatkan pendapatan yang lebih maka jam kerja harus lebih banyak. “Saya mengantar penumpang pulang pergi dalam sehari. Kebetulan jalur saya itu sinjai,” ujarnya. (ita)
