TAK banyak orang yang bisa bangkit dari keterpurukan hidup. Mereka dengan fisik normal saja terkadang merasa frustasi akan keadaan hidupnya yang begitu berat. Apalagi jika dia penyandang disabilitas. Namun, yang satu ini berbeda. Ia mampu bangkit dan meniti hidupnya agar lebih baik, meski kondisi fisiknya tidaklah sempurna.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEBUAH video pendek berdurasi 4 menit 45 detik diputar melalui sebuah gawai. Pemerannya adalah seorang lelaki dengan keterbatasan fisik. Mengenakan jaket hijau dan helem, ia mengendarai sepeda motor.
Ada yang berbeda dari kendaraan yang dibawanya. Rodanya bukan dua. Melainkan tiga. Satu di depan, dua di belakang.
Ia menerima pesan dari konsumen melalui aplikasi ojek daring di telepon selularnya. Dengan segera dirinya bergegas menuju ke lokasi yang tertera di gawainya.
Seseorang lelaki muda sudah berdiri di depan rumah usai berkomunikasi lewat HP. Pria itu lalu menyerahkan selembar kertas dan uang. Ternyata, itu untuk membayar angsuran kendaraan.
Diterimanyalah uang tersebut, lalu pengemudi ojek daring itu meluncur ke kantor pembiayaan guna membayar sesuai pesanan pelanggannya. Tak lama berselang diapun tiba. Tertatih dia melangkah masuk.
Di pintu masuk ia disambut seorang petugas dan langsung melayaninya. Tugasnya pun selesai. Selanjutnya kembali ke pangkalan menunggu orderan berikutnya.
BKM mencoba menelusuri gerangan pengemudi ojek daring itu. Ia bernama Andika Risman. Saat ini tinggal di Jalan Alauddin 2, Makassar.
Sehari-harinya, pria 26 tahun ini bekerja sebagai pengemudi ojek di salah satu perusahaan angkutan transportasi daring di Makassar. Keterbatasan fisik tak menghalangi aktivitasnya mencari nafkah buat keluarganya.
BKM menemui Andika di sebuah pangkalan ojek daring di Jalan Dr SAM Ratulangi, dekat Hotel Red Planet, Makassar. Ia bersama teman-teman ojek daringnya biasa mangkal di tempat tersebut jika sedang tak ada orderan.
Para pengemudi ojek daring ini begitu ramah. Apalagi Andika. Ia pun tak sungkan menceritakan pengalamannya.
Jika tak sedang mengendarai motornya, Andika terlihat biasa saja. Bagian tubuhnya semua utuh. Namun jika diperhatikan secara detil, beberapa persendian di tangan, kaki, dan jari-jarinya terlihat membengkok tak normal.
Terlihat pula saat ia berjalan, tak seperti orang kebanyakan. Cara jalannya seakan tak seimbang dengan kaki yang tak lurus sebagai penopangnya.
Tapi, keterbatasan fisik itu tak membuat Andika menyerah pada keadaan. Ia tetap bekerja dengan gigihnya. Setiap orderan yang datang selalu ia layani dengan baik. Baginya, setiap hal yang ia dapatkan adalah anugerah yang patut disyukuri. Karenanya, hingga kini ia masih bekerja.
Sebelum menjadi driver ojek daring, Andika dulunya adalah seorang pengamen. Ia kerap mengamen di Pantai Losari hampir seharian tiap harinya. Saat itu, ia harus naik petepete dari rumahnya ke Pantai Losari. Begitupun saat pulang.
Seiring perjalanan waktu, Andika berubah haluan. Ia memutuskan untuk berhenti dari aktifitas mengamennya. Dirinya merasa lelah dan tak sanggup untuk terus-terusan berjalan kaki mengelilingi Pantai Losari. Akhirnya dia memutuskan untuk bergabung menjadi driver ojek daring.
“Mengamen itu haruski keliling. Saya tidak sanggup jalan terus, jadi akhirnya berhenti,” katanya.
Namun, tak semudah itu Andika bisa melakoni pekerjaan baru yang diinginkannya. Sebab, ada kesulitan bagi dirinya untuk mengendarai motor yang beroda dua.
Akhirnya, iapun memutuskan untuk memodifikasi motornya supaya bisa digunakan mencari nafkah lagi.
Dari mana Andika mendapatkan uang? Ternyata, pria ini pandai menabung. Ketika masih mengamen dulunya, ia menyisihkan sebagian uangnya untuk disimpan. Hasil dari tabungan itulah yang kemudian digunakan memodifikasi motornya.
“Awalnya saya lihat di internet, di Surabaya ada modifikasi motor. Tapi mahal. Rp13 juta. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Akhirnya saya mencoba sendiri dengan teman yang membantu. Akhirnya, dengan uang tabunganku yang Rp8 juta bisa namodifikasi bannya jadi tiga roda. Alhamdulillah saya bisa ngojek sekarang,” jelas Andika tanpak antusias. (*/rus/b)
