Site icon Berita Kota Makassar

Bahasa Daerah Jadi Perekat Tionghoa-Penduduk Lokal Makassar

Sulawesi Selatan bisa dianggap sebagai minatur keberagaman di Indonesia.
Sebab, di provinsi ini hidup rukun dan berdampingan empat etnik besar: Makassar,
Bugis, Toraja, dan Mandar. Selama ratusan tahun, masyarakat empat etnik ini
saling menghargai perbedaan satu sama lain.
Di samping empat etnik besar itu, komunitas Tionghoa juga cukup besar di
provinsi ini. Warga Tionghoa tersebar di beberapa kota dan kabupaten. Tetapi
yang cukup menonjol adalah di Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Tidak
bisa dipungkiri peran komunitas Tionghoa sangat besar dalam pembangunan di
Makassar, termasuk dalam menggerakkan roda ekonomi.
Beberapa literatur menyatakan orang Tionghoa sudah menjejakkan kaki di
Makassar pada masa abad ke-15 atau pada pemerintahan Dinasti Tang. Ketika itu
kerajaan Gowa sedang berada dalam masa kejayaannya dan menjadi sebuah pusat
maritim yang ramai di Nusantara. Namun jejak historis lainnya berupa teks pada
nisan di pekuburan Tionghoa di Makassar (sekarang kawasan pasar Sentral)
menyebutkan kalau orang Tionghoa sudah datang ke Makassar sejak abad ke-14.
Itu berarti bahwa warga Tionghoa nyaman dan tenang hidup di Makassar
selama ratusan tahun. Mereka hidup berdampingan dengan penduduk lokal
Makassar. Bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi keluarga karena hubungan
perkawinan.
Arwan Tjahjadi, salah seorang tokoh Tionghoa di Makassar mengakui
kerukunan yang terjalin baik antara warga Tionghoa dengan penduduk lokal
Makassar. Ia mengatakan tidak ada lagi sekat antara Tionghoa dan Non-Tionghoa di
Makassar. “Dahulu memang sebagian orang Tionghoa agak minder dan kurang
bergaul. Tetapi 30 tahun mereka sudah semakin rukun. Ini juga tentu karena
perhatian pemerintah yang proaktif membangun kerukunan dan kebersamaan di
Makassar,” katanya.
Lalu apa yang menjadi perekat utama kerukunan Tionghoa dengan penduduk
lokal Makassar? Jawabannya adalah bahasa lokal. Bahasa daerah Makassar. Bahasa
ini merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan berkomunikasi masyarakat
Makassar dalam situasi nonformal. Di pasar, di warung-warung kopi, bahasa ini
yang banyak digunakan dalam berkomunikasi.
Warga Tionghoa termasuk kelompok yang fanatik terhadap bahasa daerah.
Ando coba jalan-jalan ke kawasan pecinan seperti di pasar bacan atau toko
perhiasan emas di bilangan Jalan Somba Opu. Di sana akan Anda temukan interaksi
pembeli dan penjual yang menggunakan bahasa daerah Makassar dalam
berkomunikasi. Tentu saja kebanyakan penjualnya adalah warga Tionghoa dan
pembelinya warga Makassar atau suku lain di Sulsel.
“Mungkin tidak ada lagi warga Tionghoa di Makassar yang tidak bisa
berbahasa Makassar. Soalnya juga menjadi bahasa ibu bagi mereka. Orang
Tionghoa di Makassar bahkan lebih fasih berbahasa Makassar dibanding bahasa
mandarin,” kata Arwan.
Mantan anggota DPRD Makassar ini tidak memungkiri peran bahasa daerah
Makassar yang cukup berkontribusi terhadap kerukunan dan harmonisasi penduduk
lokal dengan warga Tionghoa di Makassar. Sebab dengan menggunakan bahasa
daerah, warga Tionghoa sudah merasa sebagai bagian dari penduduk Makassar.
Sebaliknya, warga Makassar juga merasa dihargai karena bahasa lokalnya ikut
dilestarikan.
Arwan menceritakan di lingkungan keluarga, ia bersama istri dan anak-
anaknya lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah
Makassar. Mereka jarang lagi menggunakan bahasa mandarin. Pertimbangannya
hanya karena kebiasaan saja. Begitu juga dengan anak-anaknya yang sudah kuliah.
Karena berteman banyak dengan penduduk lokal, bahasa komunikasi yang jadi
pilihannya adalah bahasa Makassar.
“Jadi kalau bahasa Makassar disebut sebagai perekat kerukunan Tionghoa di
Makassar, mungkin tidak salah,” kata Arwan lagi.
Kebiasaan serupa juga disampaikan William Laurin. Tokoh muda Tionghoa
Makassar ini juga mengaku akrab dengan warga Makassar karena persoalan bahasa
Makassar. Menurut dia, dalam berkomunikasi dengan bahasa daerah, warga
Makassar dengan komunitas Tionghoa seakan tidak ada jarak. Sangat akrab. Sangat
dekat. Bahkan sesekali bisa bercanda.
Ketua Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Sulawesi Selatan itu
mengatakan bahasa daerah Makassar tidak sekadar merekatkan kerukunan
Tionghoa dengan masyarakat Makassar tetapi juga sesama Tionghoa itu sendiri.
Menurut dia, bahasa Makassar digunakan tidak saja saat berkomunikasi dengan
penduduk Makassar, tetapi juga sesama warga Tionghoa.
“Mungkin karena sudah terbiasa. Jadi dengan siapapun kita ketemu, selalu
menggunakan bahasa daerah Makassar,” kata William.
William menceritakan dirinya memiliki banyak sahabat penduduk asli
Makassar. Mereka beragam profesi. Mulai dari pengusaha, politisi, jurnalis,
pegawai negeri, dan lainnya. Selama puluhan tahun berteman dengan mereka,
William mengaku tenang dan nyaman. Menariknya, setiap kali ketemu bahasa yang
digunakan adalah bahasa Makassar. Sesekali juga memang memilih menggunakan
bahasa Indonesia.
Sebetulnya, akulturasi budaya Tionghoa-Makassar lewat bahasa daerah
bukan baru terjadi saat ini. Jauh sebelumnya, kontribusi warga Tionghoa terhadap pelestarian bahasa daerah Makassar sudah terjalin. Salah satu tokoh Tionghoa yang
cinta bahasa Makassar adalah Ho Eng Dji lewat lagu daerah ciptannya seperti “Ati
Raja”, “Dendang-dendang”, “Sailong” dan “Amma Ciang”. Saat ini nama Ho Eng
Dji oleh Pemerintah Kota Makassar sejak tahun 2012 ditetapkan sebagai sebuah
nama jalan, menggantikan nama Jalan Jampea.
Peneliti bahasa di Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Muhammad Ridwan
mengakui loyalitas warga Tionghoa dalam menggunakan bahasa daerah Makassar.
Bahkan menurut dia, warga Tionghoa lebih fanatik terhadap bahasa Makassar
dibanding penduduk Makassar itu sendiri. Buktinya, saat ini banyak anak-anak
warga Makassar kurang bisa menggunakan bahasa daerah. Mereka lebih sering
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Akibatnya jumlah penutur bahasa daerah
Makassar setiap tahun semakin berkurang.
“Mungkin bisa jadi rujukan buat anak-anak Makassar yang ingin belajar
bahasa daerah Makassar harus bergaul dengan anak-anak Tionghoa. Sebab anak-
anak Tionghoa banyak yang lebih paham bahasa Makassar,” katanya. (fachruddin
palapa)

Exit mobile version