TAK banyak orang yang bersedia mengabdi dan mendedikasikan dirinya pada ranah sosial. Apalagi seorang wanita. Salah satu penyebabnya, tak ada keuntungan materi yang didapat dari sana. Padahal, sebenarnya ada begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
NAMANYA Rezky Juniarih Nur. Lahir di Jeneponto, 10 Juni 1996. Ia putri dari Nurdin Sahabu. Sekarang tinggal di Kompleks Mangasa Permai, Makassar.
Rezky –begitu ia akrab disapa– sementara menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Mengambil jurusan Pendidikan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
BKM menemuinya di sela-sela perkuliahan. Orangnya bisa dengan mudah akrab. Diapun tak sungkan membalas semua pertanyaan tentang apa yang dilakukannya.
Rezky ternyata menaruh perhatian khusus terhadap Suku To Balo. Mereka di Desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru Sulsel. Sebuah penelitian pun ia lakoni.
“To Balo itu nama panggilan masyarakat terhadap orang dengan kulit belang. To itu artinya orang dan balo berarti belang. To balo itu bisa dikatakan bahasa Bentong (Bugis, Konjo, dan Makassar). Jadi orang To Balo punya kelainan warna kulit yang berbelang putih dan coklat” jelas Rezky membuka jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Awalnya ia hanya penasaran dengan semua berita yang beredar di internet tentang To Balo. Di beberapa referensi yang ia baca berkaitan Suku To Balo, banyak yang mengatakan jika mereka ada karena kutukan sehingga kulitnya belang. Ada pula referensi yang mengatakan bahwa jumlah mereka tak akan mungkin lebih dari 11 orang. Karena dasar itu lah Rezky coba mencari tahu.
Orang-orang To Balo juga sering dianggap memisahkan diri dari masyarakat. Karenanya, mereka selalu dianggap tak mau berbaur. Karena itu jugalah, Suku To Balo seakan terpinggirkan dari pergaulan masyarakat.
Atas dasar itulah, Rezky kemudian terjun langsung ke lokasi para orang-orang To Balo di Kabupaten Barru. Ia bersama teman-temannya, yakni Dian Astuti, Reski, Hesti Dwiana Putri, dan Syamsurya membuat dan mengaplikasikan penelitian yang berjudul; Studi Etnografi pada Suku To Balo di Desa Bulo-bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulsel.
Masih kurangnya masyarakat luas yang mengetahui suku ini, juga menjadi faktor utama mengapa Rezky punya keyakinan kuat ingin ke sana. Jawabanpun terkuak setelah dirinya berada di lokasi dalam beberapa waktu. Diapun menepis anggapan masyarakat yang keliru tentang orang-orang To Balo. (*/rus/b)
