Site icon Berita Kota Makassar

Main Kucing-kucingan Dengan Satpol PP

MENCARI hidup di Kota Makassar terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, selama masih ada keinginan untuk berusaha pasti bisa hidup. Susahnya jika berurusan dengan aparat pemerintah seperti Satuan Polisi Pamong Praja. Daeng Sewang juga merasakan hal sama, jika berjualan buah.

Laporan: ARIEF AL QADRY

Sore kemarin, suasana Jalan AP Petta Rani di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulawesi Selatan sedikit berubah. Sebelumnya wilayah tersebut seringkali disesaki aktivitas para Pedagang Kaki Lima (PKL), kini tidak ada lagi.
Hanya sisa kulit buah, dan botol plastik yang berserakan di jalan. Selain itu, terlihat satu unit mobil jaga kota milik kecamatan nongkrong di tepi jalan. Di atas mobil duduk beberapa personel Satpol PP Kota Makassar yang baru saja mengejar para PKL.
Sementara di samping kantor Dinas PU Sulsel, sebuah mobil pick up terparkir. Ia membawa rambutan segar yang begitu mencolok. Di samping mobil tersebut, berdiri seorang laki-laki ternyata Daeng Sewang.
Matanya begitu liar sambil melayani pembelinya, seakan ada yang aneh. Ternyata, dia baru saja lolos dari kejaran Satpol PP Makassar ketika asyik berjualan di depan kantor Dinas PU Pera Sulsel.
“Ada Satpol PP Makassar larang ki jualan. Jadi saya jualan di Jalan Pelita Raya saja. Barusan ka dikejar, kursiku diambil juga,” ujar pria kelahiran Ujung Pandang, 9 Oktober 1970 dengan suara terbata-bata ini.
Menurut Daeng Sewang kepada penulis, berjualan di tepi jalan lebih banyak dukanya. Hampir setiap hari selalu dikejar-kejar Satpol PP. Sedangkan keuntungan dan omzet jualan tidaklah besar yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari-harinya bersama istrinya.
Tingginya harga sewa tempat menjadi alasan Daeng Sewang tetap bertahan menjadi PKL, meski siap berpindah-pindah dan berurusan dengan Satpol PP.
Ada beberapa jenis buah yang ia jual, dimulai mangga, rambutan, langsat sampai semangka, sesuai musim atau waktu berbuahnya. September sampai Oktober adalah musim mangga, dan Desember sampai April adalah musim rambutan dan tidak lama lagi susul musim buah langsat. Tidak pernah dia lewatkan satu musim buah.
Buah rambutan yang dijual Daeng Sewang seharga Rp15 ribu per kilonya diambil dari saudagar dari Kabupaten Gowa. Karena timbangan yang normal, harga rambutan yang dipasarkan cukup murah sesuai harga-harga yang dipasaran.
Sudah 20 tahun, sejak tahun 1998, suami Daeng Caya menekuni usahanya menjual buah menggunakan mobil pick up. Usaha buah musiman dilakukan usai bekerja bersama dengan temannya.
“Dulu saya bekerja di temanku jualan buah juga. Saat ini sudah modal sendiri ma. Dua hari sekali saya pesan 200 kilo rambutan sama saudagar di Gowa. Saya pesan sehari sebelum saya ambil supaya disiapkankan. Kalau ini mobil saya sewa ji juga selama perbulan. Kebetupan keluarga yang punya jadi biaya sewanya murah ji dan harga keluarga ji,” katanya.
Memiliki tempat berupa toko khusus jualan buah saat ini menjadi harapannya. Tapi mustahil baginya itu dapat terwujud. Pasalnya memiliki toko sendiri membutuhkan biaya tidak sedikit. Sedangkan keuntungan dari jualan buah musiman hanya cukup makan dan biaya sehari-hari saja. Dia juga tidak ingin menyebut berapa pendapatan setiap harinya.
“Pernah saya kirim buah-buahan ke Kalimantan, tapi beberapa bulan ji. Mahal biaya kapal. Tadinya orang mau untung justru bisa rugi. Jadi saya jualan di Makassar saja. Kalau musimnya mangga saya jualan mangga, musimnya rambutan saya jualan rambutan. Tergantung musim ji saja,” tambahnya.
Sambi sesekali mengusap dahinya karena keringat, Daeng Sewang mengaku, tak hanya belajar memperoleh uang saja tapi juga belajar ikhlas. “Berdagang intinya adalah kita usaha untuk mendapatkan keuntungan dan kita juga mesti belajar ikhlas kalau dagangan sepi,” ujarnya.
Pemilihan lokasi ujar Daeng Sewang sangat menentukan kesuksesan usaha buah-buahan, seperti di tempat-tempat yang ramai dan strategis yakni di jalan yang begitu mudah diakses oleh mobil dan motor.
Kepada penulis sambil menawarkan buah rambutan, ia menceritakan kalau berjualan buah-buahan bukanlah sebuah mimpi atau cita-cita sejak kecil seperti orang pada umumnya. Pria kelahiran Ujung Pandang, 9 Oktober 1970 juga memiliki cita-cita besar, yaitu ingin menjadi Polisi.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), cita-citanya menjadi polisi begitu kuat. Dan itu terpelihara hingga ia selesai menempuh pendidikannya sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Semangat belajar untuk bisa mewujudkan cita-citanya menjadi polisi seketika lenyap. Orang tuanya yang hanya bekerja serabutan tak mampu lagi membiayai dan melanjutkan sekolahnya hingga di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Rasa sedih sempat dirasakan Daeng Sewang sewaktu itu. Selain tidak bisa merasakan masa-masa sekolah di tingkat atas, ia juga harus mengurungkan niat dan cita-citanya sejak kecil dulu. (arf)

Exit mobile version