MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan kekecewaannya di depan manajemen PT Energi Bayu dan pihak PLN.
Pasalnya, selama ini, tak ada laporan soal progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Tolo, Jeneponto tersebut. Berbeda dengan pembangunan PLTB Sidrap yang hampir setiap saat laporannya masuk.
“Saya merasa berjarak jauh dengan proyek ini. Bagi saya, dikasih tahu atau tidak bukan itu yang penting walaupun saya tetap monitor. Tapi kan saya yang pelopori itu, jangan nanti ada apa-apa baru datang melapor,” tegasnya.
Syahrul menyebutkan PLTB yang sedang dibangun bukan hanya sekedar proyek. Tetapi juga menunjukkan Sulsel berupaya membangun peradaban baru melalui energi terbaharukan.
Penegasan itu disampaikan Syahrul saat pihak PT Energi Bayu Jeneponto yang dipimpin Komisaris Hamid Awaluddin didampingi PT (Persero) PLN Sultan Batara melalukan audiens ke Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Kamis (1/2) di ruang kerja gubernur.
Komisaris PT Bayu Energi, Hamid Awaluddin pun mengakui selama ini pihaknya secara rutin memberikan laporan ke PLN terkait progres pembangunan. Karena itu dirinya meminta ke PLN agar hal tersebut diteruskan ke Gubernur Sulsel sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah.
Lebih jauh, mantan Menteri Hukum dan HAM era Presiden SBY ini menjelaskan proses pembangunan fisik sudah dimulai November 2017.
PLTB Tolo I menurut rencana beroperasi November 2019. Namun PT Energi Bayu Jeneponto selaku pengembang berjanji bulan Juni sudah rampung.
Dia melanjutkan, di PLTB tersebut nantinya akan ada 20 turbin dengan tinggi tiang 135 meter dan panjang baling-baling 64 meter. Lokasi di tengah persawahan dekat poros jalan nasional Jeneponto. PLTB Tolo 1 berkapasitas 72 Megawatt (MW).
Selain akan menghasilkan energi listrik, PLTB Tolo diyakini akan menjadi salah satu daerah pariwisata baru seperti di Amsterdam, Belanda.
“Amsterdam di Belanda saja yang turbinnya rendah pemandangannya sangat cantik, apalagi kalau di Jeneponto yang turbinnya sampai 200 meter. Ini akan menjadi objek wisata baru,” katanya.
Manajer Pelayanan Teknis PT Energi Bayu Jeneponto (Equis Energy) , Daniel Astbury menambahkan nilai investasi untuk PLTB Jeneponto sebesar USD 160,7 juta, dengan memanfaatkan lahan 60 hektar dengan masa pengerjaan dua tahun.
Hingga saat ini progres pembangunan secara keseluruhan sebesar 58,2 persen dengan target penyelesaian 15 Juni mendatang. Saat ini memasuki tahap pemasangan tiang dan turbin. Proses pengerjaan pondasinya sudah hampir rampung.
Adapun perusahaan akan membangun 20 turbin angin tipe SWT-3.6-130 setinggi 138 meter, dengan tinggi total pembangkit 198 meter, dengan kapasitas masing-masingnya 3,6 MW. Sementara panjang kincir mencapai 64 meter dengan berat 17 ton.
“Ada 20 set, tiangnya dari China dan turbinnya dari Denmark. Sepuluh set sudah ada di Makassar dan akan diangkut dengan truk sepanjang 74 meter. Setiap turbin memiliki tiga baling-baling,” kata Daniel.
Tak hanya membangun turbin, PT Energi Bayu Jeneponto juga akan membangun 10 tiang listrik transmisi dan satu garda induk. Sebagai akses ke lokasi turbin, pengembang juga membuat jalan 14 kilometer. Setelah selesai, jalan ini bisa dimanfaatkan oleh petani juga. (rhm)
