Site icon Berita Kota Makassar

Beras Picu Inflasi, Syahrul: Tak Perlu Dikhawatirkan

MAKASSAR, BKM — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat laju inflasi sekira 0,81 persen bulan Januari 2018. Salah satu penyumbang inflasi adalah harga beras yang melambung naik.

Diminta komentarnya seputar laju inflasi tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menanggapi santai. “Iya karena orang ramai-ramai ke Sulsel beli beras. Pasti picu harga beras naik disini,” katanya di kantor Gubernur, Jumat (2/2).
Kata Syahrul kenaikan 0 persen ke atas masih dalam batas ambang yang normal. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Menurutnya, inflasi juga diakibatkan oleh ekspor yang belum maksimal di awal tahun.
“Saya kira masih dalam batas yang wajar. Dalam pendekatan 0 persen sekian yang naik itu normal. Ekspor juga memang lagi konsolidasi sekarang,” tukasnya.
Sebelumnya, Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam mengatakan inflasi yang terjadi di Sulsel pada Januari 2018 ini dipicu kenaikan harga lima kelompok pengeluaran. Seperti kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, perumahan, sandang, dan kesehatan. Khusus kelompok bahan makanan, andil terbesar disumbang padi-padian, umbi-umbian.
“Andilnya ke inflasi itu 4,35 persen. Berarti beras ya berpengaruh ke inflasi,” ungkapnya.
Nursam melanjutkan selain beras, ada beberapa komoditas yang mengalami lonjakan harga selama Januari 2018. Di antaranya, cabai rawit, upah tukang bukan mandor, tomat buah, daging ayam ras, ikan layang, tomat sayur, kacang panjang, ikan kembung dan rokok kretek filter. Namun inflasi sedikit tertekan dengan adanya penurunan harga juga dari beberapa komoditas.
“Angkutan udara, telur ayam ras, daging sapi, bahan bakar rumah tangga, apel, kubis dan beberapa komoditas lain,” bebernya.
Pengamat ekonomi, Anas Anwar Makkatutu menuturkan inflasi yang disumbang komoditas beras sungguh mengherankan. Apalagi Sulsel memang selama ini sudah menjadi lumbung beras.
“Mestinya harga bisa lebih murah. Apalagi Sulsel tak impor apalagi ekspor. Ini seperti anomali. Lumbung beras tetapi berasnya penyebab inflasi,” terangnya.
Terlebih kata Anas, Pemprov selalu mengklaim stok beras di Sulsel aman. Bahkan Pemprov menyalurkan atau mendistribusikan ke provinsi lain atau ke daerah lain tapi harga di Sulsel rawan bergejolak. Kendati laporannya harga di Sulsel diklaim paling rendah.
“Beras ini memang konsumsinya tinggi secara lokal sementara Pemprov getol mengirim ke daerah lain. Mestinya stok dan permintaan bisa berimbang. Karena ini juga rawan memicu inflasi,” tukasnya. (rhm)

Exit mobile version