BERSYUKUR menjadi hal yang utama. Apapun pekerjaanmu, bersyukur akan menjadi kekuatan tersendiri dalam mengarungi hidup. Itulah yang diucapkan Zulkarnain kepada penulis.
Laporan: NUGROHO
Walaupun hanya sebagai pekerja drainase, Zulkarnain tak pernah berhenti bersyukur atas pekerjaannya. Ia selalu menganggap jika inilah pekerjaan terbaiknya saat ini. Karena baginya, bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya adalah kecukupan yang luar biasa.
Pemikiran seperti inilah yang tentu bisa dijadikan teladan bagi orang banyak. Terus bersyukur atas keadaannya kini, namun tak berhenti berusaha, bekerja keras, kelak menjadi yang lebih baik lagi.
Setiap pukul 08.00 pagi Zulkarnain sudah harus berangkat ke lokasi selokan yang bermasalah. Setelah mendapati titik tersumbatnya selokan, ia dibantu teman-temannya membongkar saluran drainase tersebut.
Zulkarnain pun mulai mengeruk selokan itu dengan menggunakan sekop, biasa juga dengan menggunakan tangannya sendiri jika merasa agak kesulitan mengambil material sumbatan. Jika selokannya berair, maka ia harus menanggul terlebih dahulu saluran itu supaya memudahkan.
Tanggul yang dibuatnya biasa berasal dari pasir yang dimasukkan ke dalam karung. Kemudian setiap karung itu dikumpulkan untuk disusun menjadi tanggul dan dimasukkan ke dalam selokan.
Setelah airnya tersumbat karena tanggul, maka pengerjaan akan lebih mudah dilakukan. “Susah kita biasa kalau kerja na tergenang air, makanya kita tanggul dulu supaya ndak mengalir terus airnya. Setelah kita kosongkan airnya, kita keruk mi, karena kalau masih airnya, biasa ndak bersih,” jelas Zulkarnain.
Kesulitan lainnya yang dirasakan Zulkarnain saat membersihkan selokan adalah banyaknya tanah atau lumpur yang menumpuk dalam selokan. Apalagi jika air dalam selokannya penuh dan banyak tanahnya, maka hal itu akan menyulitkan Zulkarnain dalam menggali.
Banyak material pula yang biasa menghalangi pekerjaannya. Bukan hanya sampah, dalam selokan biasanya ditemukan batu ukuran besar, kayu, plastik-plastik,serta ranting pohon. Material-material inilah yang biasa menyumbat selokan hingga menyebabkan banjir.
Selama empat tahun bekerja sebagai petugas drainase, sudah banyak selokan yang ia perbaiki. Bukan hanya di Jalan Hertasning saja, di beberapa tempat di Makassar juga sudah ia bereskan. Seperti di Jalan Veteran, Jalan AP. Pettarani, Jalan Gunung Latimojong, Jalan Sungai Saddang, Jalan Tidung, sampai Jalan Sangir pun ia bersihkan.
Ia menegaskan jika memang wilayah kerjanya kerap dirolling dengan rekannya yang lain. Walaupun begitu, ia seakan tetap menikmatinya. Mungkin beginilah jika seseorang bekerja dengan ikhlas.
Di beberapa ruas jalan itu pun terlihat telah ada kemajuan akan pekerjaannya. Di beberapa jalan yang telah ia perbaiki drainasenya memang terlihat telah berkurang intensitas banjirnya, namun di beberapa ruas jalan juga terlihat masih saja banjir.
Hal itu pun dikatakan Zulkarnain karena beberapa faktor. Faktor yang paling menunjang terjadinya banjir walupun drainase telah diperbaiki adalah manusia iru sendiri. “Kalau buang sampah sembarangan ki, biar sampah kecil biasa larinya ke selokan. Itu nanti menumpuk, tersumbat mi lagi, banjir lagi,” kata Zulkarnain.
Zulkarnain ternyata juga punya mimpi tersendiri. Tak menyangkal jika anak-anaknya nanti akan tumbuh besar dan semakin banyak pula kebutuhannya, ia pun berharap bisa memiliki pekerjaan yang lebih layak lagi. “Ya jelas mi kalau mau ka pekerjaan yang lebih layak, supaya bisa lebih hidupi lagi keluargaku. Walaupun sekarang saya bersyukurmi sama pekerjaan ini, tapi kalau ada pekerjaan yang lebih baik lagi, saya juga mau,” harap Zulkarnain.
Musim hujan kerap menjadi masalah tersendiri di Kota Makassar. Banjir telah menjadi bencana yang seakan sulit diatasi dari tahun ke tahun. Drainase menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan ini semua terjadi.
Banyaknya material yang menumpuk di dalam drainase menyebabkan aliran air sulit mengalir. Oleh karena itu. air yang sehausnya mengalir dengan lancar, malah keluar ke jalanan dan menyebabkan banjir.
Zulkarnain menambahkan, jika dulunya ia adalah seorang buruh bangunan. Seorang buruh bangunan yang kerjaannya tak menentu. Makanya, pria asli Makassar kelahiran 42 tahun silam ini pun merasa sangat bersyukur dengan pekerjaannya kini walaupun hanya sebagai pekerja drainase.
“Dulu waktu saya jadi tukang bangunan, kadang saya kerja, kadang juga tidak, pokoknya memang ndak menentu. Kadang itu bulan ini ki kerja, tiga bulan kedepan pi lagi baru ada kerjaanku. Jadi kasian istriku susah k nafkahi. Nah selama ini ku kerja, ada-ada lah sedikit perubahan. Setidaknya tiap bulan ada gajiku,” jelas Zulkarnain.
Namun Zulkarnain enggan menyebut nominal gajinya selama ini. Ia hanya mengatakan jika pendapatannya kini lebih besar dibanding dulu ketika ia masih menjadi seorang buruh bangunan. “Gaji bangunan itu tidak tentu, sekarang tentu mi. Biasa juga Alhamdulillah ada mi lebih-lebihnya. Mencukupi mi juga biasa apa yang mau saya beli,” tambah Zulkarnain sambil mengeruk selokan.
Saat ini, Zulkarnain sendiri telah memiliki istri bernama Ariska. Anaknya dua, semuanya masih sekolah. Anak pertamnya kelas 6 SD, sedangkan anak keduanya masih kelas 2 SD. Mereka ini lah yang setiap hari menikmati hasil keringat Zulkarnain dari mengeruk selokan.(nug/war/b)
