Site icon Berita Kota Makassar

Sulsel Nomor Dua, Gubernur: Itu Tandanya Kerja

MAKASSAR, BKM — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait tingkat pertumbuhan ekonomi setiap provinsi di Indonesia di Indonesia tahun 2017.

Data itu menempatkan Provinsi Sulsel di urutan kedua dengan pertumbuhan tertinggi setelah Maluku Utara. Pertumbuhan ekonomi Sulsel tercatat 7,23 persen tahun lalu.
Pencapaian ini cukup luar biasa karena dicapai ditengah melambatnya ekonomi dunia dan regional, serta kondisi ekonomi nasional yang masih tidak pasti.
“Ditengah kondisi ekonomi regional dan nasional yang kurang baik, justru pertumbuhan ekonomi Sulsel bisa naik dari peringkat tiga tahun 2016, menjadi peringkat kedua nasional. Kinerja ekspor kita juga positif, meskipun impor kita juga agak naik. Tapi, impor kita itu adalah barang-barang modal yang nanti dampaknya akan dirasakan empat hingga lima tahun ke depan,” kata Jufri Rahman, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Sulsel, Senin (5/2).
Adapun data yang diterima Bappeda Sulsel dari BPS, total PDRB Sulsel 2017 mencapai Rp418,93 triliun atau meningkat 10,35 persen dibanding tahu. Pada 2016 hanya Rp379,63 triliun. Sedangkan PDRB perkapita mencapai Rp48,21 juta pertahun, meningkat 9,29 persen dibanding tahun 2016 yang hanya Rp44,11 juta per tahun.
Pertumbuhan ekonomi Sulsel 2017 sebesar 7,23 persen sedikit lebih kecil dibanding tahun 2016 yang mencapai 7,42 persen. Namun, berhasil menempati urutan kedua tertinggi nasional setelah Maluku Utara, dengan total PDRB diciptakan mencapai Rp418,93 triliun atau meningkat sebesar 10,35 persen dibanding tahun 2016 yang sebesar Rp379,63 triliun. Sementara, Maluku Utara diperingkat pertama, dengan PDRB Rp37,72 triliun.
Demikian pula PDRB perkapita Sulsel tahun 2017 mencapai Rp48,21 juta atau meningkat 9,29 persen jika dibandingkan tahun 2016 Rp44,11 juta.
Pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2017 yang mencapai 7,23 persen sedikit lebih kecil dibanding tahun 2016 yang mencapai 7,42 persen, tidak terlepas dari beberapa faktor. Antara lain, perlambatan jasa keuangan/perbankan, yang disebabkan karena melambatnya peran perbankan yang terlihat dari perlambatan value added (nilai tambah) yang tercipta dari 16,02 persen di tahun 2016 menjadi hanya 0,12 persen di tahun 2017.
Penyebab lainnya, perlambatan pertumbuhan di lapangan usaha pertanian yaitu dari 7,86 persen di tahun 2016 menjadi 5,34 persen. Perlambatan ini sebagian besar didorong oleh perlambatan pertumbuhan produksi padi dari 7,73 persen di tahun 2016 menjadi 5,63 persen. Perlambatan ini semata-mata karena hampir sepanjang tahun 2017 terjadi gangguan cuaca atau iklim di kantong-kantong produksi padi.
Meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan, namun produksi padi tetap meningkat dari 1,12 juta ton pada tahun 2016 menjadi 1,18 juta ton di tahun 2017.
Selanjutnya, perlambatan industri pengolahan dari 8,23 persen menjadi 4,65 persen. Hal ini disebabkan karena perlambatan produksi industri makanan dan minuman dari 9,47 persen di tahun 2016 menjadi 9,36 persen di tahun 2017
Untuk ekspor dan impor, terjadi penurunan devisa yang tercipta dari USD 303,40 juta di tahun 2016 turun menjadi USD 125,34 juta. Namun, pertumbuhan ekspor barang luar negeri justru meningkat dari minus -19,08 persen di tahun 2016 menjadi 1,04 persen di tahun 2017.
Untuk impor barang luar negeri juga meningkat dari minus – 8,17 persen di tahun 2016 menjadi 21,89 persen di tahun 2017. Kontribusi impor barang modal cukup signifikan, tahun 2016 mencapai 46,68 persen dan 2017 mencapai 34,47 persen dari total nilai impor.
Menanggapi data BPS tersebut, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengaku bersyukur dengan pencapaian yang diraih. Itu berkat kerja keras dan kerjasama berbagai pihak di Sulawesi Selatan dalam menggeliatkan perekonomian.
“Mestinya kita bersyukur. Itu tandanya kita kerja,” pungkasnya. (rhm)

Exit mobile version