BAGAIMANA jika kamu telah menempati posisi penting dalam sebuah instansi? Apakah tetap akan bertahan melanjutkan karir, atau malah keluar lalu mencari tantangan baru? Wanita yang satu ini punya pendapat sendiri.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
LAHIR dari keluarga dengan latar belakang pendidik, membuat Ir Syukrawaty Djalaluddin,MSi awalnya menjadi seorang dosen. Namun karena bakatnya adalah merias, perempuan yang karib disapa Waty ini memilih mendirikan usaha salon sendiri. Hingga akhirnya ia kini telah sukses dengan karir barunya.
Jika lewat di ruas Jalan Sultan Alauddin, Makassar tampak sebuah salon pengantin bernama Alfayed. Tepatnya di Jalan Sultan Alauddin Nomor 58 Makassar. Salon inilah milik Waty.
Usaha ini dirintis dari bawah. Ia kemudian mengorbankan posisinya sebagai seorang ketua jurusan di sebuah kampus ternama di Sulawesi Barat.
Waty anak keempat dari pasangan orang tua bernama almarhum Drs Achmad Djalaluddin dan Dra Hj Sitti Hatisah Djalaluddin,MAP. Ia alumni Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unhas angkatan 1992. Kemudian melanjutkan pendidikan S2nya di Proragm Studi Agribisnis Unhas hingga selesai pada 2001.
Awalnya Waty terjun di dunia akademisi. Ia sempat menjadi tenaga pengajar di Unhas sebelum ia menikah. Kemudian pada 2008, Waty juga sempat menjadi Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian dan Kehutanan Unsulbar.
Wajar jika karir mengajarnya cukup baik. Sebab ia mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Semua saudaranya saat ini punya posisi penting di berbagai instansi.
Kakak pertamanya Dr Ir Akhsan Djalaluddin,MS kini menjabat Rektor Unsulbar. Kakak keduanya drh Asman Djalalaluddin menjadi dokter hewan di Palu. Sedangkan kakak ketiganya Nurgadima Djalaluddin, SKM,MSi menjabat sebagai Sekretaris BKKBN Kabupaten Majene.
Waty adalah bungsu empat bersaudara. Dari semua saudaranya, hanya dialah yang menjadi seorang pengusaha.
Awalnya saat ia masih menjadi dosen biasa, Waty memang sengaja membuka salon perawatan kecil-kecilan. Lama kelamaan ternyata usaha salonnya mulai berkembang. Ia pun mengubah tempat yang sebelumnya untuk perawatan menjadi salon pengantin. Hingga akhirnya tahun 2012 ia keluar dari pekerjaan dosennya, dan mulai fokus pada usaha salonnya.
”Sejak dulu saya memang bakat merias. Karena tak satupun keluarga yang pernah membuka usaha seperti ini, saya berusaha sendiri, belajar sendiri, hingga membangun usaha sendiri tanpa bantuan keluarga,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (6/2).
Awalnya Waty membuka salon di Jalan Urip Sumohardjo. Namun karena tempatnya di sana sempit, sementara pelanggannya kian lama semakin banyak, maka ia membuka usahanya lagi di Jalan Sultan Alauddin dengan tempat yang lebih luas.
Kini Waty telah sukses membangun salonnya. Total karyawannya pun kini ada 10 orang. (*/rus/b)
