SEBELUM berjualan buis atau gorong-gorong beton di Jalan AP Petta Rani, Erni Bani dulu bekerja sebagai penjaga toko mebel di kawasan Jalan Andalas. Cukup lama dia bekerja sebagai penjaga toko hingga hampir 10 tahun.
Laporan: ARIF AL QADRY
Semenjak selesai menempuh pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), perempuan kelahiran Ujung Pandang, 26 Juni 1980 memutuskan langsung bekerja. Meski orang tuanya membuka usaha jualan bahan-bahan konstruksi di dekat rumahnya di Jalan Bontocinde, namun perempuan akrab disapa Daeng Bani lebih memilih mencari pekerjaan lain.
Apalagi di masa itu sewaktu lulus sekolah, usaha bapaknya cukup ramai. Banyak pesanan setiap hari masuk khususnya buis beton untuk pembuatan sumur. Disaat itu juga semua saudaranya sudah terjun langsung berjualan di kawasan Jalan AP Petta Rani.
“Saya sempat berpikir untuk mencari pekerjaan lain dan akhirnya menjadi penjaga toko mebel, setelah itu baru ikut jualan buis sekalian bantu-bantu keluarga,” katanya kepada penulis.
Sebenarnya menurut Erni, menjaga toko sudah nyaman dirasakan. Hanya saja, adanya ketidak cocokan dengan bosnya sehingga ia memutuskan untuk mengundurkan diri.
Di tempat jualannya, Daeng Bani bersedia mengisahkan perjalanannya saat bekerja sebagai penjaga toko. Di masa itu dia sudah dipercayai oleh bosnya atau pemilik toko. Kepercayaan itu dia jaga sebaik-baiknya, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepadanya.
Kecelakaan kerja terjadi padanya. Lemari tiba-tiba jatuh menimpanya. Kepalanya luka, dan tangannya juga ikut luka bahkan nyaris patah. Menjadi kekecewaannya dan turut dirasakan orang tuanya kepada bos, jangankan menjenguk dan memberikan bantuan atas musibah dan kecelakaan kerja, justru si bos meminta Daeng Bani yang saat itu masih terbaring kesakitan di atas tempat tidur masuk bekerja kembali.
“Disitulah bapakku marah juga. Dia minta saya untuk berhenti bekerja di situ. Masa orang sakit yang butuh istirahat karena kecelakaan kerja diminta dengan keras masuk. Jangan mi biaya pengobatan, perhatian saja tidak ada. Jadi setelah saya sembuh saya langsung mengundurkan diri dan ikut sama bapak,” akunya.
Setelah keluar bekerja sebagai penjaga toko, Daeng Bani lalu ikut bersama bapaknya berjualan. Tidak lama itu juga, bapaknya meninggal. Dia kemudian melanjutkan usaha yang sudah lama dirintis bapaknya sampai saat ini.
“Sekarang tempat jualan ku sudah ada dua, satu di Jalan AP Petta Rani dan Jalan Aroepala. Di Jalan Aroepala, yang jaga suamiku. “Suamiku berjualan pot bunga, saya juga pesan dari orang yang memang membuat pot. Saya bagi hasil saja sesuai harganya,” tutupnya.
Kurangnya peminat sumur konvensional juga sangat dirasakan Erni Bani, penjual buis atau gorong-gorong beton di Jalan AP Petta Rani. Ia sudah 20 tahun lebih berjualan gorong-gorong mulai dari tanah liat hingga buis beton. Ia mengaku sudah lima tahun terakhir pesanan buis beton untuk sumur galian mulai hilang. “Saya mulai kesulitan menjual buis beton. Berbeda tahun 90-an, dimana masyarakat masih membutuhkan sumur,” jelasnya.
Syukurnya, jelas Erni kepada penulis, ia tidak hanya menjual buis beton saja, ia juga menjual paving blok dan ventilasi udara rumah. “Orang rata-rata datang hanya memesan paving blok dan ventilasi rumah dari beton. ada juga yang memesan pot bunga. Kalau pesanan buis beton untuk sumur sudah sepi,” katanya.
Olehnya itu, kata Erni, ia beralih ke menjual buis beton untuk keperluan pembuatan WC. Buis beton pembuatan WC atau bak penampungan dan sebagai pondasi bangunan. hanya saja, ukurannya lebih kecil dibandingkan buis beton untuk sumur. Kalau sumur galian berdiameter 80 mm kalau untuk WC hanya 60 mm.
Beda ukuran tentu beda harganya juga. Buis beton yang dia jual dengan diameter 60 cm senilai Rp135 ribu per biji. Dan buis beton diameter 80 cm senilai Rp160 ribu per biji. Harga itu sudah termasuk ongkos kirim. Jika ingin membeli tanpa jasa antar buis beton cuma seharga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per bijinya.
“Sekarang pemesan buis beton sudah sepi. Lebih banyak orang pesan buis untuk fondasi bangunan dan buat bak WC. Kalau untung pasti lebih baik harganya buis untuk sumur karena bisa saya jual dengan harga Rp160 ribu per bijinya. Sekali buat sumur perlu enam sampai tujuh buis beton, jadi lumayan ji. Dari pada usaha tutup, mending kita terima juga pesanan buis ukuran kecil,” katanya.
Buis beton yang dijual di AP Petta Rani yang tidak jauh dari kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Makassar dia buat bersama keluarganya. Saudaranya semua adalah pembuat dan penjual buis beton, ventilasi, dan paving block. Takaran dan cara pembuatan semuanya dia dapat dari bapaknya yang sudah lama membuat dan menjualan bahan-bahan tersebut.
Kalau rezeki nomplok datang, dalam seminggu, ibu dua anak itu bisa membuat buis beton sebanyak lima 20 biji. Hanya butuh waktu tiga hari, buis sudah bisa diangkat. Dan ketika hujan, pembuatan buis sampai proses pengeringan bisa memakan waktu empat hari.
“Kadang dalam seminggu tidak ada yang laku. Untung maki kalau ada yang laku dalam satu minggu. Biasanya dalam satu bulan hanya laku tiga sampai empat biji ji. Sama ji paving block susah lakunya dan lama. Kecuali ventilasi lumayan cepat ji,” tambahnya.(arf)
