Site icon Berita Kota Makassar

24 Tahun Lakoni Profesi Meski Upah Sangat Minim

MESKI kulit tangannya sudah mulai kriput dan uratnya sudah nampak timbul, namun tidak menghilangkan semangatnya untuk tetap bekerja. Bahkan saat di tanya tentang suka dukanya berprofesi sebagai penggali kubur? Idris menjawab penuh suka dan duka.

Laporan: ARIF AL QADRY

Menurut Idris saat disambangi penulis, hanya keberanian dan semangat yang bisa membuat seorang bisa bertahan melakoni profesi sebagai penggali kubur. Selain upah minim dan tidak menentu, seringkali penggali kubur mendapat gangguan gaib atau menemukan kejadian-kejadian aneh.
Pria kelahiran Maros, 31 Desember 1970 ini melakoni profesi sebagai penggali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Panaikang, Jalan Urip Sumoharjo, selama 24 tahun lamanya.
Hal biasa dirasakan bagi penggali atau pembersih kubur ketika sedang bekerja dalam kompleks pekuburan, seperti bulu kuduknya berdiri. Apalagi jika kondisi saat itu sedang sepi dari aktifitas peziarah kubur.
Diakui Idris, seringkali secara tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri tanpa sebab. Namun semua tidak dihiraukan. Dan kesyukuran baginya di tengah ramainya cerita yang berkembang dari pengalaman rekan-rekan seprofesinya mengalami kejadian aneh, sejak tahun 1994 memulai sebagai penggali kubur belum dia temukankejadian-kejadian aneh.
“Hanya biasa merinding ji. Kalau kejadian-kejadian aneh teman-temanku banyak pernah alami. Menjadi penggali liang kubur memang haruslah berani demi mendapatkan uang. Kalau tidak begitu, tidak ada uang dan berarti tidak bisa ki makan,” sebut bapak dua anak itu.
Di TPU Panaikang, Idris bukan hanya bekerja sebagai penggali liang kubur. Pekerjaan yang rutin dilakukan juga adalah membersihkan pelataran pekuburan mulai depan sampai kuburnya.
Aktifitas tersebut setiap hari dilakukan mulai pukul 06:00 sampai pukul 17:30. Pekerjaan dilakukan bersama sembilan orang lainnya yang juga berprofesi sebagai pembersih dan penggali kuburan.
Laporan untuk menggali liang kubur diberitahu melalui posko pelayanan yang berada di pintu masuk pekuburan. Jika ada permintaan penggalian liang kubur, pengelola TPU Panaikang meminta langsung ke delapan orang penggali untuk bekerja.
Upah satu liang kubur tidak ditentukan. Sesuai tingkat kemampuan dan keikhlasan keluarga duka. Tapi sering, upah yang didapat Idris sebesar Rp70 ribu untuk satu liang kubur yang diberikan langsung oleh keluarga duka.
“Tarif atau biaya liang kubur tidak pernah kami tentukan. Kalau biasanya kami diberi Rp560 ribu dan itu kami bagi delapan. Jadi masing-masing mendapat Rp70 ribu. Sedangkan kalau ada peziarah yang minta kubur keluarganya dibersihkan upahnya itu biasa Rp20 ribu dan kami bagi empat. Bersihnya saya dapat Rp5.000,” akunya.
Untuk membersihkan kubur tidak membutuhkan waktu lama. Cukup 15 menit, satu kubur sudah selesai untuk dikerjakan dengan memulai membersihkan rumput liar, menambah tanah, sampai menyikat tegel kubur.
“Kalau tidak ada job terpaksa duduk maki saja di posko. Untuk galian liang kubur jarang ada, satu minggu saja belum tentu ada masuk. Kalau bersih makam sering ji kalau ada peziarah datang apalagi kalau ramadhan,” ujarnya. (arf)

Exit mobile version