Site icon Berita Kota Makassar

Pernah Menggatungkan Hidup Sebagai penjual Ikan

SEBELUM menjadi penggali kubur, Idris dulunya adalah penjual ikan laut di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Maros. Usaha itu dilakukan sejak masih berusia 13 tahun.

Laporan: ARIF AL QADRY

Ikan yang dia jual Idris di pasar-pasar tradisional dibeli di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Bermodal uang sebesar Rp300 ribu, ia sudah bisa membawa dua gabus ikan untuk kemudian dijual. Ikan yang dia beli di TPI Maros harusnya laku paling lama dua hari. Sebab lewat dua hari ikan-ikan sudah busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi dan dijual.
“Karena pendidikanku hanya sampai SD saja, jadi tentu banyak waktu kosongku. Jadi saya jualan ikan di pasar waktu masih berusia 15 tahun,” tuturnya.
Beberapa tahun berjualan ikan, Idris mengalami kerugian besar. Dua gabus ikan laut segar yang dibelinya di TPI tidak laku terjual dan akhirnya busuk. Ikan-ikan busuk dibuang dan memutuskan untuk berhenti melanjutkan usaha jualan ikan.
Tiga bulan menganggur dan hanya tinggal di rumah, ia mendapat tawaran dari temannya ke Makassar untuk bekerja sebagai penggali kubur. Tanpa berpikir banyak, dia ikut ke Makassar dan memulai pekerjaannya sampai sekarang ini.
“Saya izin sama orang tua ke Makassar untuk jadi penggali kubur. Pertama kerja pasti takut, dan lama kelamaan sudah tidak dan terbiasa. Saya bersyukur sampai sekarang aman dan lancar saja,” sebutnya.
Menurut Idris saat disambangi penulis, hanya keberanian dan semangat yang bisa membuat seorang bisa bertahan melakoni profesi sebagai penggali kubur. Selain upah minim dan tidak menentu, seringkali penggali kubur mendapat gangguan gaib atau menemukan kejadian-kejadian aneh.
Pria kelahiran Maros, 31 Desember 1970 ini melakoni profesi sebagai penggali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Panaikang, Jalan Urip Sumoharjo, selama 24 tahun lamanya.
Hal biasa dirasakan bagi penggali atau pembersih kubur ketika sedang bekerja dalam kompleks pekuburan, seperti bulu kuduknya berdiri. Apalagi jika kondisi saat itu sedang sepi dari aktifitas peziarah kubur.
Diakui Idris, seringkali secara tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri tanpa sebab. Namun semua tidak dihiraukan. Dan kesyukuran baginya di tengah ramainya cerita yang berkembang dari pengalaman rekan-rekan seprofesinya mengalami kejadian aneh, sejak tahun 1994 memulai sebagai penggali kubur belum dia temukankejadian-kejadian aneh.
“Hanya biasa merinding ji. Kalau kejadian-kejadian aneh teman-temanku banyak pernah alami. Menjadi penggali liang kubur memang haruslah berani demi mendapatkan uang. Kalau tidak begitu, tidak ada uang dan berarti tidak bisa ki makan,” sebut bapak dua anak itu.
Di TPU Panaikang, Idris bukan hanya bekerja sebagai penggali liang kubur. Pekerjaan yang rutin dilakukan juga adalah membersihkan pelataran pekuburan mulai depan sampai kuburnya.
Aktifitas tersebut setiap hari dilakukan mulai pukul 06:00 sampai pukul 17:30. Pekerjaan dilakukan bersama sembilan orang lainnya yang juga berprofesi sebagai pembersih dan penggali kuburan.
Laporan untuk menggali liang kubur diberitahu melalui posko pelayanan yang berada di pintu masuk pekuburan. Jika ada permintaan penggalian liang kubur, pengelola TPU Panaikang meminta langsung ke delapan orang penggali untuk bekerja.
Upah satu liang kubur tidak ditentukan. Sesuai tingkat kemampuan dan keikhlasan keluarga duka. Tapi sering, upah yang didapat Idris sebesar Rp70 ribu untuk satu liang kubur yang diberikan langsung oleh keluarga duka.
“Tarif atau biaya liang kubur tidak pernah kami tentukan. Kalau biasanya kami diberi Rp560 ribu dan itu kami bagi delapan. Jadi masing-masing mendapat Rp70 ribu. Sedangkan kalau ada peziarah yang minta kubur keluarganya dibersihkan upahnya itu biasa Rp20 ribu dan kami bagi empat. Bersihnya saya dapat Rp5.000,” akunya.
Untuk membersihkan kubur tidak membutuhkan waktu lama. Cukup 15 menit, satu kubur sudah selesai untuk dikerjakan dengan memulai membersihkan rumput liar, menambah tanah, sampai menyikat tegel kubur.
“Kalau tidak ada job terpaksa duduk maki saja di posko. Untuk galian liang kubur jarang ada, satu minggu saja belum tentu ada masuk. Kalau bersih makam sering ji kalau ada peziarah datang apalagi kalau ramadhan,” ujarnya. (arf)

Exit mobile version