Site icon Berita Kota Makassar

Bersama 8 Cucu Tidur Dalam Rumah Panggung

HUJAN bukan hanya membawa berkah, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia yang merasakannya. Seperti halnya Kakek Bandi, warga Jalan Perintis Kemerdekaan 11 Lorong III, RW05/RT02, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Di saat sejumlah warga Kota Makassar menikmati dinginnya cuaca kala hujan dengan santai berbaring di sofa, makan yang cukup dan menonton televisi, ternyata tidak bagi Kakek Bandi.
Penulis yang menemuinya di sela bermain air bersama cucu-cucunya, wajah Kakek Bandi terlihat pucat, baju kaos kumal dan celana pendeknya basah.
Ia mengaku, sudah menjadi langganannya setiap tahun, harus hidup dalam kepungan banjir.
Diumurnya 62 tahun, Kakek Bandi sudah terbiasa menghadapi banjir dirumahnya selama 18 tahun lebih. Tidak hanya itu, di rumah panggung yang ukurannya tidak terlalu besar dan serba keterbatasan karena dindingnya terbuat dari gabungan seng dan tripleks harus menampung seluruh cucunya sebanyak delapan orang.
“Kalau hujan mi tiga hari berturut-turut tidak berhenti, pasti banjir mi disini. Kalau begitu saya suruh cucu-cucu dan anakku siap-siap mengungsi dulu di rumahnya anakku di Gowa,” ungkapnya saat ditemui memantau rumahnya yang kebanjiran.
Di rumah itupun, Kakek Bandi bersama cucu-cucunya hati-hati saat berjalan, karena sebagian besar lantai yang terbuat dari bambu telah rapuh.
“Tidak bisa ki tinggal di rumah kalau banjir karena banjirnya tinggi satu meter. Nanti anak-anak main tidak dilihat bisa jatuh. Barang-barang kita kasih naik di plafon,” jelasnya sambil mengusap dahinya yang berkerut itu.
Selama 18 tahun rumahnya terkena banjir, hanya satu kali mendapatkan bantuan dari PMI berupa bantuan kebutuhan pokok dan alat mandi di tahun 2013. Namun semenjak itu tidak satupun bantuan ia dapatkan baik dari pihak keluarahan dan kecamatan.
“Tidak pernah ada bantuan kalau dari pemerintah, Pernah ji satu kali tapi dari PMI bagi kebutuhan makanan karena waktu itu banjir besar sudah 2 meter lebih kayaknya,” ucapnya.
Lanjut Kakek Bandi bercerita, jika tinggi air sudah sepinggul orang dewasa, ia bersama istri dan cucunya harus makan seadanya dan dibagi rata, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Tidak hanya itu, ada beberapa cucunya harus putus sekolah karena terkendala biaya masuk sekolah, namun Kakek Bandi selalu menuturkan akan berusaha sampai sebisa mungkin menyekolahnya cucunya yang lain sampai tinggi.
“Kadang kodong habis pulang sekolah pergi bantu neneknya menjual lauk, nanti dikasih uang jajan kalau sudahmi cuci piring atau bersih bersih warung,” tuturnya.
Selain itu Kakek Bandi dan Nenek Sia berharap bantuan pemerintah tidak hanya bantuan ketika rumahnya mengalami kebanjiran. Melainkan untuk cucu-cucunya yang sedang bersekolah minimal biaya sekolah hingga cucunya lulus sekolah menegah atas.
Ditanya soal anaknya, mata Kakek Bandi berkaca-kaca. Menurutnya, tiga anaknya merantau diluar Makassar, sementara satu anaknya yakni perempuan yang telah bercerai tinggal di Gowa.
Apalagi, ada satu anaknya tinggal bersamanya tidak bekerja karena bisu.”Itumi dia titip anaknya sam saya ada juga yang merantau jauh dan ada juga yang di gowa. Tidak pernah saya minta uangnya anak-anakku, kalau mereka kasih saya bilang kasih saja uang jajan untuk cucu-cucuku. Tapi saya khawatir kalau tidak ada ma sama istriku siapa mi yang mau jaga ki kodong,” pasrah Kakek Bandi,” terangnya. (*)

Exit mobile version