TAK BANYAK orang yang mau mengabdikan dirinya untuk rumah ibadah. Apalagi harus senantiasa menjaga serta bertanggungjawab akan kebersihan rumah ibadah itu. Tidak bagi, Khairuddin, ia rela mengabdikan dan mewakafkan dirinya untuk masjid.
Laporan: NUGROHO
Tanpa perlu ceramah, dengan membersihkan masjid maka akan mendapat lebih banyak pahala. Jamaah lain juga menjadi betah ke masjid karena perasaan nyaman dan bersih. Maka makin banyak-lah pahala yang diterima orang yang membersihkan masjid. Bayangkan jika sholat jumat, ada ratusan orang yang merasakan kebersihan masjid maka pembersih masjid akan mendapat ratusan pahala tambahan tanpa perlu ceramah.
Kemarin saat ditemui penulis, Khairuddin yang masih memegang sapu tak sungkan memperkenalkan dirinya. Ia adalah petugas kebersihan Masjid Babul Hidayat yang berada di Jalan Daeng Tata Makassar. Sebagai petugas kebersihan masjid, tentu saja tanggungjawabnya adalah menjaga kebersihan masjid.
Selain sebagai petugas kebersihan, tak ada pekerjaan lain yang dikerjakan oleh dirinya. Karena setiap saat dirinya harus seantiasa melindungi masjid dari berbagai kotoran yang bisa mengganggu para jemaah dalam beribadah.
Ia bersama keluarganya tinggal di area masjid tersebut. Rumah yang ditempatinya adalah rumah pemberian dari pengurus masjid di sana. Ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya.
Istrinya bernama Syahriani. Wanita yang senantiasa mendampinginya walaupun sang suami hanya bekerja sebagai petugas kebersihan masjid. Anak pertamnya pun masih berusia 11 tahun, dan bersekolah di SD dekat area masjid.
Pria usia 43 tahun ini berasal dari Malino, Kabupaten Gowa. Setelah menamatkan sekolahnya di SD Jonjo Malino, ia melanjutkan sekolah menengahnya di Makassar. Dimana ia harus tinggal jauh dari orang tuanya. Alasannya adalah ia ingin sekolah. Mengingat pada masanya, tak ada sekolah menengah yang ada di kampungnya.
Di Makassar, pria yang memiliki kelainan penglihatan ini awalnya tinggal bersama sepupunya yang tak jauh dari lokasi Masjid Babul Hidayat. Ia bersekolah di SMP 18 Makassar, dan kemudian menamatkan sekolahnya di SMA Yappi Makassar.
Saat masa sekolah di Makassar itulah, Udin selalu bergaul dengan orang-orang masjid. Kebanyakan rekannya adalah orang yang lebih tua darinya, ia pun mulai aktif di Masjid tersebut.
Mulai hanya menyapu area masjid, lama-lama ia pun selalu membersihkan masjid serta halaman di sana. Sampai pada akhirnya ia sendiripun merasa nyaman dan akhirnya menjadi petugas kebersihan.
Awalnya ia hanya bekerja sukarela. Tanpa di gaji sedikitpun. Ketika akan berangkat ke sekolah setelah salat subuh, ia membersihkan masjid. Ketika pulang ke sekolah, setelah salat ashar, ia kembali membersihkan masjid. Hal itu ia lakukan sehari-hari bersama rekan-rekannya.
Sampai pada akhirnya pengelola masjidpun semakin profesional dengan memberinya upah. Walaupun tak seberapa, namun Udin tetap bersyukur. Karena melihat keikhlasannya itulah, sampai akhirnya pengelola masjid memberikannya rumah di dalam area masjid itu untuk ia tinggali. “Mata saya tidak bisa melihat jelas dan kabur. Tapi itu bukan alasan untuk kita tidak mengejar amal ibadah,” ujarnya sambil mengusap dahinya yang dipenuhi keringat. (nug/war/b)
