Site icon Berita Kota Makassar

Sejumlah Mahasiswa Gagas Gerakan Sekolah Kolong Langit

MAROS, BKM — Sekelompok mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar, membuat langkah inspiratif. Mereka menjadi relawan pengajar di sekolah pelosok. Kegiatan ini mereka namakan ‘Gerakan Sekolah Kolong Langit’.
Uniknya, mereka tidak dibiayai dari lembaga manapun. Secara sukarela, akomodasi perjalanan hingga makanan selama di lokasi, mereka tanggung sendiri. Untuk sampai ke lokasi pelosok yang mereka dampingi, mereka harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer. Selain itu, mereka juga butuh biaya yang terbilang cukup besar.
Sejak tahun 2014, komunitas ini sudah memiliki 300-an relawan pengajar dari berbagai latar belakang kampus dan jurusan. Tahun ini, mereka mendampingi Sekolah Dasar Negeri 186 Inpres Bontomanai, Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Maros.
Selain akses yang sulit, sekolah ini belum memiliki fasilitas ruang kelas memadai. Di sekolah ini hanya terdapat empat ruang kelas Beberapa murid dari kelas berbeda terpaksa digabung dalam satu ruangan yang hanya disekat tirai.
”Sebenarnya sih bukan komunitas. Kami namakan gerakan sekolah kolong langit. Tahun ini kita pilih di lokasi ini,” kata koordinator lapangan Sekolah Kolong Langit angkatan 25, Anda Saga, saat ditemui pada Senin (26/2).
Komunitas ini memang hanya fokus pada pelajaran tambahan yang tidak diajarkan guru. Mereka juga tidak hanya mengajar saat sekolah, tapi mereka juga mendampingi siswa belajar di rumah mereka masing-masing.
Di sekolah ini, ada puluhan siswa yang harus berjalan kaki hingga lima kilometer untuk sampai ke sekolahnya. Jalurnya pun terbilang tidak mudah, karena harus menyeberangi sungai dan melewati hutan.
Bukan hanya pada murid, relawan ini juga berinteraksi dengan masyarakat setempat. Tak lain, mereka ingin agar para orangtua bisa berfikir agar anak-anak mereka tetap bersekolah meski dalam kondisi penuh keterbatasan.
””Yah, buat apa juga kita mengajar, kalau orangtua mereka malah kurang peduli. Makanya, gerakan ini juga kita lakukan penyadaran ke para orangtua untuk mengutamakan pendidikan kepada anaknya,” ujarnya.
Sebelum pemberangkatan, sekolah ini memang sudah disurvey terlebih dahulu. Mereka memilih sekolah ini karena aksesnya yang sulit dan jumlah tenaga pengajarnya masih sedikit. Setiap kali ke lokasi, mereka menetap hingga lima hari dalam satu minggu.
”Tahun ini merupakan lokasi pertama. Ada sekitar 40 orang relawan yang terlibat di dalamnya. Saat ini kami belum menentukan program pendampingannya karena kami masih tahap awal. Setiap lokasi, programnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa,” terangnya.
Di angkatan sebelumnya, mereka mendampingi sekolah pelosok yang ada di Kabupaten Barru dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Selama satu tahun, mereka melakukan pendampingan agar anak-anak dapat mengenyam pendidikan lebih layak. (ari/mir/c)

Exit mobile version