KAFE Lele yang menjadi lokasi cekcok hingga berujung terbunuhnya Briptu Isha, akhirnya ditutup polisi. Dari pantauan BKM di lokasi pada pukul 15.30 Wita, kemarin, tempat yang berdinding seng dan dicat warna pink itu telah dipasangi garis polisi.
Absa selaku pemilik Kafe Lele yang didampingi bapaknya, mengatakan peristiwa pengeroyokan tersebut berlangsung di luar kafe. Karenanya, ia tidak tahu terjadinya perkelahian tersebut. Sebab pelaku dan korban sama-sama keluar setelah membayar minumannya masing-masing.
”Saat berada di dalam kafe tidak ada keributan yang terjadi. Mereka hanya minum balli,” kata Absa diamini ayahnya Lebbae yang ditemui kemarin.
Penutupan kafe miliknya oleh polisi, disayuangkan oleh Absa. Sebab dari tempat inilah ia menafkahi keluarganya.
”Bukan saya saja yang menjual ballo. Ada empat kafe lainnya yang juga jual ballo. Kenapa tempat saya saja yang ditutup. Saya merasa dirugikan,” cetusnya.
Mestinya, kata Absa, pihak kepolisian menutup semua kafe di wilayah ini yang menjual ballo. Apalagi Kafe Lele baru dua minggu lalu buka. Sementara yang lainnya sudah bertahun-tahun beroperasi, namun tidak pernah tersentuh. (smr/rus/c)
”Tutup Semua Kafe yang Menjual Ballo”
