MEMUTUSKAN terjun ke dunia usaha di tahun 2015, Fia diliputi optimistis. Ia yakin pilihannya menggeluti dunia fashion tidaklah salah.
Laporan: Juni Sewang
DI awal memulai bisnis, modal yang dimiliki Fia amatlah minim. Tak memungkinkan dirinya untuk memproduksi sendiri busana muslimah yang diinginkannya, dan juga keinginan pasar. Jadilah ia membeli busana yang sudah jadi lalu dijualnya kembali.
Siapa sangka, respons pembelinya cukup besar. Fia lalu mencoba memproduksi sendiri, dengan terlebih dahulu menambah modal.
Dari mana uang itu diperolehnya? Ternyata Fia masih punya sisa tabungan sewaktu masih kerja di bank. Jadilah ia seorang desainer dan membuat sendiri busana muslimah hasil kreasinya.
Wanita yang lahir Parepare, 15 Maret 1986 ini berharap ke depannya fashion, khususnya busana muslimah semakin banyak peminatnya. Desainer yang ada terus berkarya dalam mencipta model-model terbaru.
Dalam menggeluti usahanya, Fia mengakui jika peran keluarga amatlah penting. Mereka menjadi tempat ternyaman untuk saling berbagi kisah dan kasih sayang. Mengingatkan serta saling mendukung.
Meski sibuk dengan rutinitas bisnis dan desainer, ada satu prinsip yang dipegang teguh oleh Fia. Ia tak akan pernah mengorbankan kepentingan dan urusan keluarga, walau harus terus bergerak dalam mengembangkan karirnya.
Sebagai ibu dari dua orang anak, Kayla Azzahra dan Muhammad Al Hilly Rizza, Fia selalu berusaha menjadi yang terbaik mereka. Selalu ada ada di setiap mereka butuhkan, dan menjadi orang pertama yang merasakan kesedihan dan kebahagiaan anak-anaknya.
Untuk tetap mempertahankan kualitas waktu bersama, Fia selalu menghabiskan kesempatan luangnya bersama buah hatinya. Meski tak ada tempat favorit untuk dikunjungi, tapi ia selalu memilih lokasi yang dapat menciptakan memori yang indah dan berbeda-beda.
Di sela-sela aktifitas desainer dan mengelola butik, ternyata Fia juga aktif mendukung kegiatan sosial. Meski tidak bergabung dalam satu yayasan tertentu, namun ia memiliki 68 anak asuh yang selalu didatanginya secara rutin dengan mencukupi kebutuhannya.
Fia tak pernah merasa terbebani selama melaksanakan kegiatan sosialnya. Ia selalu percaya bahwa Tuhan selalu memberi rezeki bagi anak-anak asuhnya melalui tangannya.
Hebatnya lagi, Fia selalu menyediakan waktu dan memberi kebebasan kepada anak asuhnya itu untuk menghubunginya kapan saja. Sebab, ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakannya ketika melihat mereka tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.
Sibuk dengan berbagai rutinitasnya, Fia sadar bahwa ia adalah seorang wanita. Lazimnya perempuan, perawatan diri tak pernah luput. Ia merawat kecantikannya dengan rutin mengoleskan krim perawatan wajah.
”Tidak ada perawatan khusus untuk perawatan wajah. Cukup krim. Kalau untuk menjaag berat badan, hanya membatasi diri dengan tidak makan berlebih. Juga tidak mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi,” tuturnya.
Sementara untuk fashion, Fia jatuh cinta pada batik dan sutra. Ia menyukai keduanya, karena motif dan warna. Saat mengenakan batik, Fia tidak hanya tampil cantik dan percaya diri. Namun juga merasa bangga dengan warisan budaya bangsa. (*/rus)
