PEREMPUAN menjadi seorang politikus? Kenapa tidak. Sudah banyak diantaranya yang terjun di dunia politik, dan tak lupa akan kodratnya selaku ibu rumah tangga. Haslinda Wahab salah satu contohnya.
Laporan: Ardhita Anggraeni
TAK pernah sedikit pun terbersit di benak Haslinda akan duduk sebagai anggota DPRD Kota Makassar seperti saat ini. Dulunya ia sama sekali tak terlalu hirau dengan hiruk pikuk perpolitikan.
Di usianya yang masih belia kalau itu, ketika masih duduk di bangku kelas II SMA, ia sudah dipercaya untuk mengelola Yayasan Pendidikan Babussalam. Yayasan yang dirintis oleh orang tua Haslinda, menaungi SMP, SMA dan SMK Wahyu yang berlokasi di Jalan Abdullah Dg Sirua.
Di tahun 1987, setelah ayahnya berpulang, Haslinda menjadi penerus estafet kepemimpinan di yayasan. Tak sulit baginya dalam mengemban amanah tersebut. Sebab, Haslinda telah terbiasa dan mendapat didikan orang tua sejak duduk di bangku sekolah. Sembari melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana Unhas di jurusan Administrasi Negara, Haslinda mengontrol yayasannya.
”Dulu orang tua yang mengelola yayasan. Setelah ayah meninggal, saya yang kemudian ditunjuk melanjutkan pengelolaannya. Memang, sejak SMA saya yang mengikuti jejak almarhum,” tuturnya saat ditemui di kediamannya Jalan Borong Raya, baru-baru ini.
Selain mengelola yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, Haslinda juga aktif di bidang sosial. Ia menjadi bagian dari pengelola Pasar Antang dan Masjid Babussalam, Kelurahan Borong yang dibangun sejak tahun 1992. Haslinda juga baru merilis organisasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).
”Semasa hidup, ayah saya selalu bilang begini; alangkah baiknya jika kita hidup bisa membantu orang lain. Sebaik-baiknya manusia, yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Saat itu sekolah di Makassar masih kurang. Cukup banyak anak-anak yang wajib sekolah dari Manggala tidak bisa tertampung di sekolah yang ada. Makanya, berdirilah yayasan ini,” terang Haslinda.
Ada banyak suka dan duka yang dihadapi ketika menangani yayasan agar bisa lebih berkembang dari sebelumnya. Hingga akhirnya mampu membuka beberapa jenjang pendidikan.
”Kalau ditanya bagaimana saya mengembangkan yayasan ini, ada begitu banyak kendala yang mesti dihadapi. Tapi semuanya sebanding dengan apa yang didapat hari ini. Setidaknya, kehadiran kita bisa bermanfaat bagi orang lain,” jelas ibu dua anak ini.
Haslinda merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Ketika ayahnya masih hidup, ia kerap diajak pergi bersama. Baik dalam kapasitas sang ayah sebagai pengusaha maupun politisi. Jadi tidak heran jika kemudian dirinya banyak bergelut di organisasi dan politik.
“Ayah paling sering bawa saya kalau mengurus sesuatu. Sehingga dunia ayah sudah tidak asing bagi saya, karena sudah diperkenalkan sejak kecil. Begitu dipercaya mengurus yayasan, saya tidak lagi kewalahan untuk mengurus berkas dan dokumen lainnya,” tandas Haslinda.
Seiring berjalannya waktu, ia pun terjun ke dunia politik. Di tahun 2009, Haslinda ambil bagian dalam perhelatan pemilihan legislatif (pileg). Kala itu bergabung di PKPI. Selanjutnya pindah ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di tahun 2011.
”Terus terang dulunya saya tidak mau masuk partai politik. Lebih pilih konsen di yayasan saja. Tapi karena banyak dorongan dari keluarga dan masyarakat Manggala, tidak ada salahnya mencoba. Hingga akhirnya terpilih menjadi anggota dewan dari PKS,” tambahnya. (*/rus)
