JUALAN kue tradisional khas Bugis Makassar dimulaisejak awal 2015. Ide membuka bisnis jualan kue kering dan basah dengan berkeliling kantor-kantor dan pasar tidak lepas dari tingginya animo dan permintaan para pelanggannya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Dalam cerita perjalanannya sebelum memulai membuka bisnis jualan kue, ibu tiga orang anak mengaku jika dulu hanya berjualan telur asin dan gogos di Anjungan Pantai Losari Makassar setiap minggu pagi. Usai jualan sekitar Anjungan Pantai Losari, perempuan kelahiran Sidrap, 10 Oktober 1981 kembali bergerak menyusuri lorong pasar-pasar menjajakan telur asin buatan suaminya. Sering di Pasar Terong, Sentral, dan Senggol.
Telur asin yang dibuat Ridwan seharga Rp10.000 per cap, dan dalam tiap cap berisi empat butir telur asin. Untuk gogosnya dijualkan seharga Rp2.000. Jika cuaca sedang baik, 150 rak telur asin dapat laku terjual setiap minggu.
“Sewaktu saya jualan di Jalan Penghibur, sering mantan Wali Kota Makassar, pak Ilham borong telur asin ku juga. Kalau beliau beli langsung banyak karena untuk dimakan sama orang-orang yang ada. Jadi dikesempatan itu mi juga saya tanya-tanya untuk bisa jualan di Balai Kota Makassar. Tapi senyum senyum ji,” ingatnya.
Meski mengaku memiliki langganan di Kantor Wali Kota Makassar, namun Anti masih sering dikejar-kejar Satpol PP Makassar ketika kedapatan masuk menjajakan dagangan telur asinnya. Satpol PP Makassar memulai mempercayai Anti setelah melihat banyaknya pegawai-pegawai mencarinya dan memintanya untuk mengantarkan terlur asinnya ke dalam kantor.
“Tapi satu tahun ji saya jualan telur asin di Balai Kota Makassar dan itu setiap Senin sampai Jumat. Banyak pegawai minta untuk dibikinkan kue karena sempat coba beberapa biji kue bikinanku dan ternyata banyak suka disitumi saya kurangi telur dan perbanyak kue kering dan basah sampai sekarang,” katanya.
Sekarang ini Anti yang akrab disapanya tidak perlu lagi bersusah berjalan kaki mencari pelanggan telur asin dan kue buatannya dengan menyusuri lorong-lorong di pasar dan perkantoran. Pelanggannya yang ada di pasar-pasar jika ingin membeli telur asin ataupun kue buatannya sisa memesan melalui via telepon seluler atau bisa juga oleh jasa driver online.
Dengan seperti itu pemesanan melalui telepon dan jasa driver dalam jaringan (daring), selain dapat menghemat tenanganya juga dapat terhindar dari kejaran petugas keamanan yang berjaga di pasar-pasar. Namun untuk di kantor Balai Kota Makassar dan gabungan dinas, Anti tetap secara langsung turun menjajakan kue buatannya.
“Sekarang sudah banyakmi yang tahu, jadi kalau di pasar pasar saya tinggal antar saja pesanan pelanggan ku saja apakah itu telur asin ataukah kue. Mau pesan banyak dan sedikit tetap saya antarkan. Sekarang saya perlu mi lagi keliling-keliling lama, tidak kayak dulu karena harus cari pembeli banyak dan belum banyak yang kenal. Rencana kalau tabungan sudah cukup saya mau buka toko kue,” tutupnya.
Ada beberapa jenis kue yang dijual perempuan kelahiran Sidrap, 10 Oktober 1981, ada kue kering dan kue basah, seperti cucuru tekne, omba omba, biji nangka, bolu peca, putu tongka, dan cangkuning. Dari hasil bisnis usaha kue kelilingnya, ibu tiga anak mampu membeli rumah sendiri.
Kesuksesan istri Ridwan mampu memiliki rumah sendiri. Di mana berjualan kue keliling harus bisa berjalan kaki berkilo-kilo meter serta jadi incaran dan dikejar oleh Satpol PP Kota Makassar.
“Alhamdulilah sekarang sudah dimengerti dan diizinkan jualan kue di Balai Kota Makassar. Tapi tetap saya juga harus jaga kebersihan karena saya mencari rezeki halal dengan jualan kue tradisional di kantornya,” katanya kepada penulis.
Setiap Senin sampai Jumat, kata wanita berhijab ini, berjualan di kantor Balai Kota Makassar dan kantor gabungan dinas-dinas. Pagi di kantor gabungan dinas, siang baru di balai kota. Jadi hari minggu saya ke Anjungan Pantai Losari Makassar jualan kue dan telur asin lagi.
Jika dulunya sebelum berjualan kue di halaman kantor Balai Kota Makassar, ia dan keluarganya masih kontrak rumah, sekarang ini sudah memiliki rumah sendiri dan menabung untuk membuka usaha toko kue secara tetap.
“Lumayan pendapatannya. Dulu saya masih kontrak sekarang sudah adami rumahku. Bersyukurka bisa dikasih kesempatan cari rezeki jualan kue,” tambahnya.
Harga kue yang dijualnya terjangkau, mulai dari Rp5000 sampai Rp20.000 per bungkus. Tiap bungkus kue kering atau basah yang dijual bermacam-macam banyak isinya ada yang isi tiga biji dan ada juga hingga isi sepuluh biji seperti bolu. Dan pesanan kue dari pegawai pegawai yang ingin buat acara rutin masuk. (*)
