GOWA, BKM — Seorang siswa SMK Balangpapa, Kabupaten Gowa bernama Hasrul menjemput ajal dengan cara tragis. Pelajar berusia 16 tahun itu ditemukan sudah tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan, Selasa (13/3) pukul 06.00 Wita.
Ia menggantung pada seutas tali nilon warna biru di pohon nangka dalam kebun milik orang tuanya di Batu Tinggia, Dusun Pakkatto Lompo, Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Gowa.
Jazad Hasrul ditemukan pertama kali oleh ayahnya Ahmad Dg Ronrong. Pagi itu, seperti biasa ia datang ke kebunnya. Ketika menengadah ke atas dekat sebuah pohon nangka, terlihat sesosok manusia menggantung.
Ahmad mengenali kalau itu adalah anaknya Hasrul, dari pakaian yang dikenakannya. Yakni baju kaos warna biru dan celana pendek ketat ukuran selutut.
Melihat darah dagingnya dalam kondisi seperti itu, diapun histeris hingga tak sadarkan diri. Jarak rumah korban dengan kebun rambutan milik orang tuanya kurang lebih 1 kilometer.
Seluruh tubuh putra pasangan Ahmad Dg Ronrong dan Suriati Dg Ngani itu sudah membengkak berwarna hitam dan melepuh. Serangga sudah menempel di badannya.
Setelah menerima laporan warga setempat sekitar TKP, petugas Polsek Bontomarannu dipimpin Kapolsek AKP Robert Naro bersama tim identifikasi datang ke lokasi. Tim identifikasi Polres Gowa juga ke TKP bersama Kapolres AKBP Shinto Silitonga. Selanjutnya dilakukan olah TKP.
Apa motif tewasnya Hasrul dalam kondisi tergantung seolah-olah sengaja bunuh diri, tak satupun warga yang tahu. Termasuk kedua orangtua korban.
Menurut orangtua korban, Hasrul sudah empat hari menghilang. Terhitung sejak Sabtu (10/3) petang lalu.
“Untuk saat ini kami masih dalami kasus tewasnya korban. Kita masih lakukan olah TKP,” kata Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga memimpin langsung olah TKP pukul 09.00 Wita.
Usai olah TKP, jazad korban lalu dibawa ke RS Bhayangkara untuk diotopsi guna keperluan penyelidikan.
Keluarga korban bernama Muhari, tidak yakin jika korban bunuh diri dengan gantung diri di pohon. “Ini sangat janggal bagi kami. Yang terlihat mata memang kemenakanku itu tergantung di pohon. Tapi kami belum tahu apa gantung diri atau ada motif lain. Biarkan pihak kepolisian mengusutnya,” ujar Muhari sedih.
Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga yang dikonfirmasi kembali pukul 14.48 Wita, mengatakan saat ini jazad korban masih berada di RS Bhayangkara untuk keperluan penyelidikan. “Hingga kini belum ada hasil dari tim Dokpol. Kami masih menunggu,” ujarnya.
Hasrul merupakan sulung dari tiga bersaudara. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dan kurang bergaul layaknya teman-teman sebayanya.
Bahkan menurut keluarganya Hasrul, saking kupernya (kurang pergaulan), dia sama sekali tidak memiliki akun Facebook.
Karena itu, warga sekitar heran jika korban sampai mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Apalagi diketahui Hasrul tidak pernah berselisih dengan siapapun.
Menurut Dg Mina, nenek Hasrul, sebelum meninggalkan rumahnya Sabtu jelang malam itu, cucunya itu kesal dan marah karena minta kunci motor kepada ibunya, namun tidak diberikan.
Usai itu, Hasrul pun pergi begitu saja dan tidak kembali lagi. Hasrul baru diketahui keberadaannya setelah ditemukan tergantung di pohon nangka di kebun rambutan milik orang tuanya. (sar/rus)
Empat Hari Hilang, Siswa SMK Tewas Tergantung
