Site icon Berita Kota Makassar

Kodim Maros Lakukan Razia

MAROS, BKM — Dalam rangka mencegah penjualan beras ke tengkulak, jajaran TNI Komando Distrik Militer (Kodim) 1422 kabupaten Maros melakukan razia truk pengangkut beras di sejumlah titik di Kabupaten Maros, sejak beberapa hari terakhir.
Langkah ini ditempuh untuk memaksimalkan jumlah gabah nasional. Langkah ini tidak hanya dilakukan di Kabupaten Maros. Namun hampir semua wilayah yang menjadi lumbung padi di Sulsel dilakukan langkah seperti itu.
Komandan Kodim 1422 Kabupaten Maros, Letkol Kav Mardi Ambar Fajaryanto, membenarkan tindakan razia truk pengangkut gabah milik tengkulak. Menurutnya, hal itu sudah dua hari dilakukan anggota TNI. Tindakan itu dilakukan untuk mencegah petani menjual gabah miliknya ke tengkulak. Juga sebagai langkah untuk mendukung pemenuhan swawenda beras tingkat nasional.
Mardi Ambar Fajarianto, mengatakan, petani tidak perlu heran jika ada anggota Kodim yang bertindak menghalau penjualan gabah dari petani ke tengkulak di lapangan. Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah di Maros dan daerah lainnya. Hal itu dilakukan semata-mata agar gabah petani bisa diserap maksimal oleh Bulog.
”Semalam ada beberapa titik, anggota kami berhasil menghalau penjualan gabah petani oleh tengkulak yang akan di bawa ke Sidrap. Gabah itu kita arahkan ke mitra Bulog untuk dibeli. Mereka memang sengaja membeli gabah di malam hari,” ungkapnya.
Pihak Kodim mengaku, sebelum melakukan razia dan penahanan truk milik petani, pihaknya terlebih dahulu telah melakukan sosialisasi ke lembaga yang menaungi petani, yakni Perpadi Maros.
Sementara itu, pengusaha gabah lokal di Kabupaten Maros merasa resah dengan adanya razia penyelamatan gabah beras yang dilakukan TNI. Salah seorang pengusaha lokal Irwan, mengatakan, sudah empat malam ia dihadang TNI saat hendak membawa gabah yang dibelinya dari masyarakat.
Padahal, kata dia, sebagai pengusaha jual beli beras dan gabah, dia dilengkapi surat-surat perizinan yang lengkap. Namun mengapa pihak TNI tetap menahan kendaraan miliknya saat mengangkut gabah.
Sementara itu, salah seorang pengusaha lainnya mengaku, pihaknya dipaksa oknum TNI menjual gabah miliknya ke pihak TNI sebanyak satu ton dengan harga di bawah dari harga pembeliaannya di petani.
”Kami sudah beli dengan harga Rp4.700 per kg. Tapi di lokasi ada dari pihak TNI yang minta beli 1 ton dengan harga Rp4.500 per kg. Saya akhirnya memberikan 1 ton. Kita kasi karena kita takut meski pun kita sudah tahu itu rugi Rp200 per kg. Tapi daripada gabah saya yang lain itu sekitar 10 ton harus ditahan dan bisa saja itu rusak,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Maros, M Nurdin, menuturkan, untuk musim panen rendeng ini, Pemkab Maros sendiri menargetkan 11 ribu ton gabah atau setara dengan 8.800 ton beras dari petani. Target itu, optimis bisa dipenuhi lantaran tahun lalu bahkan melebihi dari 100 persen pencapaian. Sementara untuk serapan Bulog, tahun ini ditargetkan 6 sampai 7 ribu ton.
”Kita optimis bisa capai target produksi itu. Karena tahun lalu kita bisa lampaui. Saat ini memang semua pihak berkonsentrasi agar target serapan Bulog bisa dipenuhi. Kita heran produksi tinggi tapi malah serapan minim,” kata Kadis Pertanian Maros, Muhamad Nurdin. (ari/mir/c)

Exit mobile version