MAROS, BKM — Puluhan petani mendatangi markas Komando Distrik Militer (Kodim) 1422, Rabu (14/3). Petani yang berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Bantimurung dan Simbang ini ingin mendapat penjelasan dari pihak Kodim yang telah menahan gabah milik pengusaha padi lokal yang akan dibawa ke Pinrang.
Juga, mereka pempertanyakan harga gabah yang terlalu rendah. Mereka diterima langsung Komandan Kodim (Dandim) 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Fajarianto di aula Makodim Maros.
”Saya ini petani pak. Biaya tiga bulan mengurus padi itu tidak sedikit. Tapi kenapa pada saat panen harganya dibatasi pak. Ada yang mau beli mahal tapi dilarang. Kenapa ini bisa terjadi pak. Jangan dibatasi kalau ada yang mau beli gabah tinggi pak. Karena kita juga mau sejahtera pak. Harusnya pendistribusian pupuk, ketersediaan racun, itu yang diawasi. Bukan pembeli gabah yang mahal diawasi,” ungkap seorang warga, Ibrahim, saat berdialog dengan pihak Kodim 1422.
Sementara itu, Kepala Desa Alatengae, Abd Azis, yang juga ikut pada dialog tersebut mengatakan, hubungan pihak desa dengan pihak TNI sangat baik. ”Hubungan kami dengan pak Babinsa di desa sudah sangat baik selama ini. Jangan karena ada hal seperti ini hubungan kita menjadi retak. Di bawah itu yang ditau sama masyarakat bahwa TNI yang menghalangi pengusaha membeli harga tinggi. Kami sayang sama tentara. Tolong kasi solusi pak,” ungkap Azis.
Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Fajarianto, mengatakan, ia meminta maaf atas miskomunikasi ini. Ini hanya kesalahpahaman. ”Jadi tidak ada itu penahanan gabah. Apalagi penangkapan gabah milik pengusaha. Ini adalah hasil koordinasi kami dengan pihak Bulog. Kita kuatir jika target tidak tercapai, maka akan ada impor beras. Makanya, kami harus turun tangan,” ungkap Ambar.
Diakui, sampai saat ini stok gudang Bulog belum terisi setengahnya. ”Kita kuatir kalau gabah ini dijual keluar. Kita ada target untuk Bulog. Tapi untuk saat ini pihak kami tidak akan melakukan lagi sweeping di jalan. Biar kita menunggu aturan dulu mengenai harga gabah,” ungkap perwira dengan dua melati ini.
Ia juga mengaku sudah bertemu dengan bupati untuk membahas ini. ”Kita akan menunggu Perbup dulu. Jadi mulai hari ini silakan semua berjalan sebagaimana sebelumnya,” tuturnya yang disambut tepuk tangan dari para petani. (ari/mir/c)