GOWA, BKM — Kartu Indonesia Pintar (KIP) kini telah dinikmati anak-anak Indonesia di seluruh nusantara. Termasuk anak-anak pelajar di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel. Untuk di Kabupaten Gowa total surat keputusan (SK) yang dikeluarkan Kemendikbud untuk penerima KIP tahun 2017 sebanyak 32.614 orang anak mulai SD hingga SMA.
Dari jumlah ini, yang telah diterbitkan rekeningnya sebanyak 31.703 anak (31.703 rekening). Sehingga masih ada sebanyak 911 anak yang belum memiliki rekening. Dari total SK tersebut yang sudah aktivasi (mencairkan) dana KIP sebanyak 27.708 anak dan yang belum aktivasi (belum mencairkan) sebanyak 3.995 anak.
Hal ini dibenarkan Kadis Pendidikan Gowa, Dr Salam, kepada BKM, Jumat (16/3). Salam mengatakan, sebanyak 911 anak yang belum terbit rekeningnya itu kini sementara difasilitasi ke pusat untuk penerbitan rekeningnya.
”Iya masih ada tiga ribuan lebih anak belum mencairkan bantuan dananya serta masih ada 911 anak belum terbit rekeningnya. Kita sementara fasilitasi ke pusat agar rekeningnya bisa segera terbit,” kata Salam.
Salam menjelaskan, setelah dinas pendidikan mendapatkan SK penetapan siswa penerima bantuan PIP dari Kemendikbud kemudian dinas pendidikan mengirimkan surat pemberitahuan dan daftar penerima PIP ke sekolah/lembaga pendidikan non formal lainnya yang dilengkapi lokasi dan waktu pengambilan dana bantuan.
Oleh pihak sekolah kemudian memberitahukan ke siswa atau orangtua waktu dan tempat pengambilan dana bantuan tersebut. Para orangtua siswa tinggal membawa dan menunjukkan bukti KK, KTP, ijazah atau tapor yang menjadi identitas siswa penerima ke bank yang ditunjuk.
Ditanya apa hambatan yang terjadi dalam penyaluran dan pencairan KIP di Gowa terkait 3.995 anak belum mencairkan dananya, Salam mengakui ada lima faktor penyebab. Yakni sebagian besar orangtua siswa berat untuk melakukan pencairan karena biaya yang harus dikeluarkan untuk mencairkan (biaya transport ke bank dll) lebih besar daripada yang diterima.
”Belum lagi jika harus bolak balik untuk mengurus kelengkapan administrasinya. Atau dengan kata lain, jarak antara sekolah dengan lokasi bank yang ditunjuk untuk mencairkan dana KIP sangat jauh dan memerlukan biaya yang cukup mahal. Yah misalnya karena dia tinggal di daerah terpencil. Termasuk juga menjadi kendala yakni beberapa kasus di sekolah masih ditemukan nama dan nomor rekening tercantum di dalam daftar penerima dana KIP, tapi ketika di cek saldonya tidak ada (kosong),” kata Salam.
Salam juga menyebutkan, di beberapa sekolah masih ditemukan ada siswa yang sudah tamat dari sekolah tapi namanya masih termuat dalam daftar penerima KIP. Juga ada penerima KIP yang sudah pindah ke daerah lain tapi namanya masih muncul pada daftar penerima KIP di sekolah tersebut.
Hal lain juga yakni ditemukan ketidak sesuaian data nama siswa/ orangtua di kartu keluarga dengan data di Dapodik, karena data KIP diambil dari Dinas Sosial tanpa mencocokkan/ mengsingkronkan data. Dan pihak bank tidak melayani ketidak sesuaian data tersebut. Ada juga peserta penerima KIP yang tercantum dalam daftar yang dikeluarkan oleh kementrian tapi di sekolah tersebut siswa tersebut tidak ditemukan keberadaannya,” jelas Salam.
Melihat dari beberapa faktor hambatan itu, Pemkab Gowa dalam hal ini Dinas Pendidikan pun menginstruksikan kepada kepala sekolah untuk membantu penerima KIP dengan cara mewakilkan orangtua penerima KIP tersebut untuk pencairan dana KIP tersebut secara kolektif.
”Kami juga akan meminta pihak penyalur (bank) untuk membantu memudahkan proses pencairan KIP oleh orangtua atau pihak sekolah antara lain adanya loket khusus yang harus disiapkan oleh pihak bank untuk melayani orangtua atau pihak sekolah dalam melakukan pencairan,” kata Kadis yang sempat tampil sebagai narasumber dari lima narasumber termasuk Dirjen Dikdasmen, Hamid Awaluddin yang hadir dalam pemaparan program PIP di Jakarta belum lama ini.
Dijelaskan Salam, dana KIP tahun 2017 untuk 32.614 siswa di Gowa dialokasikan pusat sebesar Rp13.007.700.000. (sar/mir)
32.614 Pelajar di Gowa Terima KIP
