MAKASSAR, BKM — Dua hari setelah debat pasangan calon wali kota Makassar, Celebes Researc Center (CRC) merilis hasil riset terbarunya. Tingkat elektoral paslon petahana Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi) unggul telak atas rivalnya, pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).
Dari survei yang dilaksanakan 1 hingga 14 Maret, menunjukkan pasangan DIAmi mendominasi dukungan masyarakat Makassar dengan elektabilitas mencapai 71,8 persen. Sementara Appi-Cicu tertinggal jauh di angka 18,8 persen. Tersisa hanya 9,4 persen responden yang belum menentukan pilihan di pilwali mendatang.
Riset CRC yang melibatkan 1.000 responden terdistribusi secara proporsional pada 15 kecamatan, dengan tingkat kelurahan sebagai primary samplingnya. Jumlah maksimal sampel per kelurahan adalah 10 responden yang diacak menggunakan metode multistage random sampling.
“Melihat data ini, penantang dalam hal ini Appi-Cicu akan sangat keteteran untuk mengimbangi pergerakan calon petahana (DIAmi),” kata Direktur Eksekutif CRC Herman Heizer, dalam ekspose hasil survei di Hotel Aryaduta, Makassar, Minggu (18/3).
Meski unggul jauh, Herman memprediksi pergerakan elektoral hingga 3 bulan ke depan masih cair, sehingga masih ada kemungkinan perubahan yang signifikan. Margin of error survei ini adalah +/- 3 persen.
“Berdasarkan pengalaman kami dalam beberapa pilkada,
gerakan perubahan angka survei dalam tiga bulan itu bisa sampai 5 persen, tapi ada juga yang luar biasa sampai 20 persen. Tergantung pada bagaimana pergerakan calon dan timnya di lapangan yang bisa mengubah konstalasi politik,” kata Herman.
Untuk tingkat popularitas, petahana Moh Ramdhan Pomanto masih unggul dengan persentase 98,5 persen. Sedangkan rivalnya Munafri Arifuddin berada di angka 70,9 persen. Untuk masing-masing calon wakil wali kota Makassar, Andi Rachmatika Dewi (Cicu) lebih unggul 68,9 persen dari Indira Mulyasari Paramastuti dengan angka 60,8 persen.
“Data ini merepresentasikan survei pada saat dilakukan. Ini juga tidak memprediksi siapakah yang memenangkan pilwali nantinya. Karena pemilih sangat dinamis. Bisa bertahan ataukah berubah jika kita lakukan survei lagi. Tergantung pergerakan kandidat dan timnya turun melakukan sosialisasi kerja program,” terangnya.
Riset ini searah dengan riset kebijakan publik yang dilakukan CRC pada November 2017 lalu. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja wali kota Makassar sangat tinggi, yakni pada angka 88 persen. Angka ini adalah yang paling tinggi jika diperbandingkan dengan daerah lain di Sulsel.
“Jika masyarakat puas, maka peluang untuk dipilih menjadi semakin besar pula. Hal ini karena biasanya faktor terbuktinya kinerja menjadi salah satu alasan utama pemilih menentukan pilihan, tapi bukan satu-satunya alasan. Keputusan memilih para pemilih biasanya merupakan komposit dari banyak faktor,” kata Direktur Riset CRC Andi Wahyuddin Abbas.
Pekan lalu, lembaga survei Indeks Politica Indonesia (IPI) juga membocorkan hasil risetnya. Survei IPI menempatkan angka tak jauh berbeda dengan hasil CRC. “Elektabilitas pasangan Danny Pomanto-Indira Mulyasari itu berada di angka 64 persen. Sementara pasangan Appi-Cicu baru 19 persen. Selebihnya swing voter (pemilih mengambang). Ini di bulan Februari lalu,” kata Direktur Eksekutif IPI Suwadi Idris Amir, Rabu (14/3) lalu.
Dalam survei yang dilakukan IPI, pasangan DIAmi memiliki suara elektoral yang ril. Sehingga peluang menang di pilwali sangat terbuka lebar. Sebaliknya Appi-Cicu harus bekerja keras untuk bisa menyaingi calon petahana.
“Karena kalau kita ingin melihat kekuatan data elektoral, kita melihat seberapa besar pemilih fanatik yang dimiliki Danny Pomanto,” kata Suwadi.
Tak Membuat Puas
Hasil riset yang dirilis (CRC) tak membuat tim relawan dan pemenangan DIAmi berpuas diri. Untuk mempertahankan elektabilitas pasangan ini hingga terbukti di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang akan dibuka 27 Juni mendatang, tim pemenangan DIAmi terus dan akan semakin mengencangkan gerakan ke masyarakat dengan mensosialisasikan program dan visi misi paslonya.
“Survei CRC yang menempatkan pasangan DIAmi lebih unggul dengan 71,8 persen, itu tidak membuat tim pemenangan merasa puas. Kami ingin membuktikannya di pemilihan nantinya. Oleh karena itu, dengan survei yang ada, sosialisasi ke bawah akan terus kami lakukan untuk memperkenalkan lebih jauh program ataupun visi misi Danny-Indira,” kata Sekretaris Tim Pemenangan DIAmi Zulkifli Thahir, kemarin.
Sosialisasi ke masyarakat dimaksudkan untuk memberikan pendekatan dan pemahaman kepada mereka tentang apa saja program-program ditawarkan DIAmi untuk membangun Kota Makassar lima tahun ke depan. Apalagi, di Kota Makassar saat ini telah terjadi perubahan yang jauh lebih baik.
“Minggu depan kami akan sebar formulir program dari pasangan DIAmi ke seluruh wilayah di Makassar. Formulir itu adalah program Intagram yang memberikan kesempatan bagi masyarakat menyampaikan aspirasinya kepada Danny-Indira. Formulirnya akan kita sebar, baik di RT dan RW maupun tim-tim relawan pemenangan,” terangnya.
Sementara Awi selaku Ketua Komodo Pemenangan DIAmi, mengatakan hasil survei dan riset CRC menjadi representasi dari masyarakat bahwa mereka masih ingin dan mengharapkan DIAmi menjadi pemimpin di Kota Makassar. Hasil survei tersebut berkat kerja paslon bersama timnya yang aktif turun bersilaturahmi dengan masyarakat.
“Silaturahmi ke tengah masyarakat Kota Makassar akan terus dilakukan. Termasuk dengan memperkenalkan lebih jauh program-program unggulan pasangan DIAmi. Ini menjadi kebanggaan, tapi bukan kepuasan. Terus tetap silaturahmi kita lakukan di tengah masyarakat,” katanya.
Diragukan
Supratman selaku Ketua Tim Jaringan Appicicu, meragukan hasil survei yang dirilis CRC. Hal itu mengingat pengalaman lembaga tersebut di beberapa pilkada sebelumnya, tidak ada yang sesuai dengan hasil survei mereka.
“Kami sudah punya pengalaman buruk di Kabupaten Takalar saat CRC melansir data pasangan Bur-Nojeng di atas 60 persen. Calon kami saat itu dengan selisih di atas 20 persen. Kami hampir saja menyerah. Tapi ya namanya CRC telah sering kami ragukan datanya” cetus Supratman, kemarin.
Menurutnya, terlalu banyak data survei yang selalu memenangkan petahana yang berujung pada kekalahan. Tak hanya di Takalar, tapi survei juga terjadi di Toraja Utara dan Luwu Utara membuktikan hal itu, di mana petahana tumbang.
Direktur Pemenangan Parameter Strategi Indonesia (PSI) Basri Kajang, menyebut bahwa elektabilitas Danny yang mencapai 70 persen merupakan hal biasa.
“Kalau ada lembaga yang menyebut Danny angkanya 70 persen atau 80 persen, saya kira itu wajar. Apalagi mereka menggunakan data,” jelas Basri Kajang, kemarin.
Menurutnya, saat ini Makassar posisinya head to head. ”Sebelumnya kami pernah survei walaupun angkanya tidak sebesar CRC, yang menempatkan Danny masih di atas,” tambahnya.
Basri menambahkan jika data survei itu sebenarnya adalah mengukur opini publik tentang banyak hal. Setiap hari itu opini publik bisa cepat berubah.
“Bisa jadi saat survei CRC publik menilai Danny masih layak memimpin. Ya, kita tidak tahu bagaimana persepsi publik saat selesai debat atau saat hari H pemilihan,” ujarnya. (arf-jun/rus)
