GOWA, BKM — Pemerintah Kabupaten Gowa siap dijadikan laboratorium percontohan dalam mengeliminasi penyakit Kusta di Indonesia. Itupun menjadi komitmen Yohei Sasakawa.
Terbukti, Chairman The Nippon Foundation, Duta Goodwill Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini kembali menemui Pemerintah Kabupaten Gowa, Senin (19/3/2018) setelah melakukan kunjungan pemantauan aktivitas penanganan kusta Sabtu pekan sebelumnya.
Menurut Sasakawa, masih berkembangnya stigma di masyarakat di seluruh dunia bahwa kusta itu penyakit kutukan dan menular, padahal bisa dicegah dan diobati.
“Saya ke Gowa karena Pemkab ini telah menerbitkan Perda Pemberantasan Kusta ini sangat relevan dengan tujuan program pemberantasan penyakit kusta ini. Karena itu saya salut dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Pemkab Gowa. Kepedulian pemerintah sangat besar terutama terhadap penderita kusta di wilayahnya sangat agresif,” kata Sasakawa dalam bahasa Jepang.
Sasakawa berjanji untuk membantu Pemkab Gowa mengedukasi masyarakat. ” Instansi terkait sebaiknya memberikan penyuluhan yang tepat. Kami siap membantu dalam program edukasi ke masyarakat. Walaupun jumlah penderita kusta banyak, penyakit ini bisa sembuh dan bukan hal yang memalukan,” kata Sasakawa didampingi translaternya.
Sementara Pemkab Gowa diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Muchlis dalam penerimaan kunjungan Duta WHO itu di Baruga Karaeng Pattingaloang memantapkan Gowa untuk mendedikasikan wilayahnya jadi percontohan.
” Gowa sangat siap apabila dijadikan daerah percontohan atau replika dalam penanganan penyakit kusta, bahkan kami siap berbagi ilmu dengan daerah lain yang ada di Indonesia,” jelas Muchlis.
Terkait dengan lahirnya Perda TB-Kusta dan HIV di Kabupaten Gowa, Muchlis menjelaskan asal muasal diterbitkan Perda Kusta, TB dan HIV No 2 tahun 2017 karena pada 2017 itu penderita kusta mencapai angka 97 orang. Penyakit kusta di kalangan masyarakat merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan sangat menular dikarenakan sifat klinis atau masa inkubasi dari penyakit kusta sangat lama dan penderitanya terkadang tidak menyadarinya.
Olehnya itu, kata Muchlis pemerintah kabupaten mengambil berinisiatif untuk mengubah kebijakannya dengan menonjolkan program prefektif dan promotif dengan cara melakukan sosialisasi ke masyarakat yang didukung berbagai organisasi kemasyarakatan seperti Permata dan juga kalangan legislatif. (saribulan)
