MAKASSAR, BKM — Cuaca ekstrem melanda wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam sehari, Kamis (22/3), bencana angin kencang serta hujan dengan intensitas lebat, serta banjir terjadi di sejumlah daerah.
Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel memperkirakan, dalam tiga hari ke depan, sebagian besar wilayah Sulsel masih akan turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Prakirawan BMKG Sulsel Rizky Yudha, menjelaskan masyarakat di Sulsel harus tetap berhati-hati terhadap angin kencang yang kerap menyertai hujan lebat.
”Potensi angin kencang dalam tiga hari mendatang bisa terjadi di pesisir barat maupun selatan Sulsel. Masyarakat, khususnya yang berprofesi sebagai nelayan untuk waspada saat melaut,” ujar Rizky Yudha, kemarin.
Secara umum, kata dia, potensi hujan sedang hingga lebat berpeluang terjadi di wilayah Sulsel bagian barat. Seperti di Kabupaten Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Takalar dan Gowa. Sementara di wilayah Sulsel bagian utara, besar peluang bisa terjadi di daerah Malili, Masamba, Palopo, Belopa, Rantepao dan Makale.
Khusus untuk hari ini, Jumat (23/3), berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, hujan ringan akan terjadi beberapa di wilayah Sulawesi Selatan. Hujan sedang di wilayah Makassar, Sungguminasa, Takalar, Maros, Pangkep serta Barru.
Sementara berawan di wilayah Watampone, Sinjai, Masamba, Palopo, Rantepao, Belopa, Malili, Makale, Enrekang, Bulukumba, Bantaeng.
Untuk siang dan sore hari, hujan ringan terjadi hampir di seluruh wilayah Sulsel. Hujan sedang di wilayah Masamba, Palopo, Malili dan berawan di wilayah Watampone, Sinjai, Belopa, Enrekang.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Samsibar mengatakan, kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir cuku fluktuatif. Kadang hujan deras, kemudian panas terik dan sebaliknya.
Aa beberapa peristiwa bencana yang laporannya masuk ke BPBD Sulsel saat ini. Diantaranya ada beberapa titik longsor di Kabupaten Toraja. Juga terjadi angin puting beliung di Kabupaten Pangkep.
Namun untuk penanganan bencana di dua kabupaten itu, kata Samsibar, standar operasional prosedur (SOP) sudah berjalan. Skalanya belum terlalu besar sehingga masih dalam penanganan kabupaten/kota.
“SOP sudah berjalan. Alhamdulillah bencana sudah tertangani. BPBD kabupaten dan kota sudah bekerja. Jika skalanya besar dan membutuhkan penanganan provinsi, pasti kita akan turun, ” ungkapnya.
37 Rumah dan Satu Masjid Rusak
Dari Kabupaten Pangkep dilaporkan, angin puting beliung di pagi hari sekitar pukul 07.30 Wita, kemarin telah meluluhlantakkan 37 rumah dan satu masjid di tiga kelurahan Kecamatan Pangkajene. Rumah warga yang rusak terbanyak di Kampung Lombo, Kelurahan Tekolabbua. Jumlahnya 28 unit.
Sementara di Kampung Paccelang, Kelurahan Anrong Appaka, sebanyak tujuh rumah mengalami kerusakan. Dua di Kelurahan Mappasaile, serta satu masjid.
Kepala BPBD Pangkep Sahaba Nur, mengatakan timnya sudah berada di lokasi kejadian. Sebagai langkah awal, pihaknya mendata rumah warga yang rusak. Setelah itu diambil langkah selanjutnya.
Lurah Tekolabbua Anwar, mengatakan di wilayahnya paling banyak rumah warganya yang diterjang puting beliung. ”Paling banyak warga di sini yang jadi korban. Sudah didata tingkat kerusakan rumah,” ujar Anwar.
Lurah Mappasaile Wahid Perdana Putra, menyebut ada dua rumah warganya dan satu masjid yang rusak akibat puting beliung. “Kejadian di Kelurahan Mappasaile, tepatnya di Kampung Solo. Kami bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa sudah turun ke lokasi mengidentifikasi rumah yang rusak,” ucap Wahid.
Kabag Humas dan Protokol Pemkab Pangkep Muh Tamrin Taba, menjelaskan bahwa Pemkab Pangkep melalui Dinas Sosial sudah menyalurkan bantuan berupa tenda sebanyak 26 lembar tenda kepada korban bencana angin puting beliung.
“Bantuan tenda sebagai langkah awal untuk memberikan perlindungan kepada korban bencana. Ini inilah bentuk perhatian pemerintah terhadap warganya yang tertimpa bencana,” kata Tamrin.
Banjir dan Longsor di Barru
Banjir dan longsor terjadi di wilayah Kecamatan Taneta Riaja, Kabupaten Barru. Terparah di Lingkungan Ralla dan Maruala di Kelurahan Lompo Riaja. Ketinggian air mencapai satu setengah meter. Akibatnya ratusan rumah terendam.
Gedung MTs di Ralla terendam banjir hingga nyaris mencapai atap. Banjir juga menyebabkan satu jembatan gantung terputus di dekat sumber air di Waesai.
Longsor di Dusun Menrong menyebabkan jalan poros Barru-Soppeng tertimbun material tanah dan batu dari gunung. Akibatnya, kemacetan panjang pun terjadi.
Peristiwa serupa juga melanda Dusun Toppo Lemo-lemo di Desa Harapan dan Desa Libureng.
Camat Tanete Riaja Mustakim yang dihubungi, membenarkan peristiwa banjir serta longsor di dua desa dan satu kelurahan di wilayahnya. Kata dia, banjir di lingkungan Ralla dan Maruala mencapai ketinggian satu setengah meter. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan rumah warga.
“Jalan tertimbun longsor yang menghubungkan Barru dengan Kabupaten Soppeng berlangsung beberapa jam. Sekarang jalur ini sudah normal kembali. Mudah-mudahan hujan segera reda, sehingga air secepatnya bisa surut,” kata Mustakim, kemarin siang.
BPBD Barru melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik H Nahnu, menjelaskan bahwa timnya sudah berada di lokasi kejadian dengan membawa beberapa bantuan. Diantaranya tenda, makanan ringan, pakaian hingga persiapan dapur umum.
Bupati Barru Suardi Saleh bersama Sekab Nasruddin AM, Kadis Pekerjaan Umum Herman Jaya serta sejumlah kepala OPD sudah meninjau lokasi banjir dan longsor di Dusun Menrong di Desa Harapan.
“Saat meninjau banjir di Ralla, Pak Bupati naik perahu untuk memantau langsung situasi banjir,” ujar Nahnu.
Poros Soppeng-Sidrap Terputus
Di empat kelurahan dalam wilayah Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng juga dilanda banjir, kemarin. Air dengan ketinggian satu meter merendam Kelurahan Attangsalo, Batu-batu, Limpomang dan Kaca. Selain rumah, banjir juga merendam sekolah dan kantor kelurahan.
Kapolsek Marioriawa AKP Syamsuddin yang ditemui di lokasi, mengatakan banjir terjadi pukul 08.00 Wita. Puncaknya berlangsung pada pukul 09.00 Wita. Sebab banjir sempat memutus akses transportasi dari Soppeng ke Sidrap dan sebaliknya.
”Jam 9 tadi (kemarin), mobil dari Soppeng yang mau ke Sidrap tidak bisa lewat, karena ketinggian air di jalan mencapai satu meter lebih. Ada sekitar 30 menit jalur Soppeng-Sidrap. Banjir ini merupakan air berasal dari gunung,” ujar Kapolsek.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Soppeng Andi Haeruddin yang dihubungi terpisah, mengatakan longsor pada ruas jalan yang terjadi di poros Soppeng-Barru tidak berlangsung lama. Material yang jumlahnya tidak seberapa sudah berhasil dibersihkan dan kendaraan sudah bisa melewatinya.
”Pak Bupati langsung ke lokasi longsor di Marioriwawo. Material longsor yang menutupi jalan sudah dibersihkan. Mobil sudah lewat,” jelas Andi Haeruddin. (rhm-udi-ono/rus)
