MAKASSAR, BKM–Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) dipastikan tidak akan memberikan dukungan kepada usungan Partai Nasdem di kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 27 Juni nanti. Meski sudah menjadi pengurus di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem, namun mantan Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel ini diberi tugas yang lebih besar secara nasional. “Pak Syahrul tidak diberi tugas untuk pemenangan Pilkada di Sulsel, namun akan mendapat amanah yang besar secara nasional guna memenangkan Nasdem pada Pileg 2019 mendatang,”ujar Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Sulsel Syaharuddin Alrif diruang kerja Wakil Ketua DPRD Sulsel, Jumat (23/3).
Syahruddin mengemukakan SYL dalam kapasitasnya sebagai satu dari 12 wakil ketua di DPP mendapat tugas yang lebih besar dari sekedar mengurusi Pilkada. Sekedar diketahui, Nasdem mengusung pasangan Nurdin Halid-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar di Pilgub Sulsel, sementara adik kandung SYL yakni Ichsan Yasin Limpo yang berpasangan dengan Andi Mudzkakar juga ikut bertarung lewat jalur perseorangan.
Sebelum SYL bergabung di Nasdem, lebih dulu kakak kandungnya yakni Hj Tenri Olle YL dan besannya yakni Luthfi Halide sudah ikut bergabung.
Sementara itu, calon gubernur NH melanjutkan kampanyenya di Kabupaten Soppeng. Kali ini NH menemui pedagang di pasar Sentral Cabbenge di Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Lilirilau, Soppeng. Dihadapan NH, pedagang berharap program bantuan modal usaha tanpa modal, tanpa angunan dapat terealisasi. Jika mendapat bantuan modal usaha, ia berniat mengembangkan usaha daganganya.
Menurut pedagang, usaha kecil tak berkembang karena kesulitan dalam mengembangkan wirausahanya. Penyebabnya, pedagang kerap dibebani pinjaman kredit dengan bunga yang terbilamg tinggi.
Dengan bunga tinggi, pedagang tak kuasa meningkatkan keuntungan penjualan. Imbasnya, kesejahteraan pedagang kecil-kecilan masih berada dalam kategori rendah.
Salah satu pedagang ikan Sudirman Lompo menuturkan, penghasilan yang diperoleh dari dagangannya tidak meningkat signifikan dari waktu ke waktu. Sebab, sejumlah keuntungan di tiap penjualan masih harus dialokasikan untuk membayar pinjaman kredit modal.
“Kondisi usaha ya begini-begini saja. Pembeli sekarang melesu juga, jadi keuntungan ikut menurun. Padahal, ada pinjaman yang masih belum lunas,” pilunya.
Warga Lalabata ini pun berharap kepada NH agar memberikan dorongan kepada pengusaha UKM. Utamanya, bantuan modal dengan kredit rendah.
NH yang juga Ketua Dewan Koperasi Indonesia ini menegaskan, tidak boleh ada tempat bagi rentenir dengan membebankan nilai kredit tinggi kepada pengusaha kecil. “Kita akan membentuk tim untuk lakukan pendataan usaha-usaha yang perlu diberikan modal itu. Ini supaya menyempitkan kesenjangan antara pengusaha kecil dan besar,” ujarnya. (rif)
