DENGAN jilbab yang bercorak bintik bintik besar, Daeng Lia terlihat bahagia mengambil tanaman hias dan bebatuan di samping taman. Kemudian Dg Lia menyusunnya satu persatu di sekitar kolam di taman wisata Bugis Waterpark.
Laporan: JUNI SEWANG
Di balik kulitnya yang sawo matang terdapat wajah yang ramah, bersahaja, tenang saat ditemui penulis. Ia adalah salah satu tukang pembersih taman di Bugis Waterpark.
Tak sengaja saat penulis beristerahat sejenak dan meluangkan waktu libur kerja pada akhir pekan, penulis sempat melihat sosok ibu tukang pembersih taman yang serius membersihkan rumput. Dia terlihat sangat menikmati pekerjaannya.
Sesekali aku melihat apa yang beliau lakukan, dan kemudian kembali lagi serius bersantai. Akhirnya penulis menanyakannya sedang kerjakan apa. Penulis berpikir, ada orang yang berusaha begitu keras. Bekerja pagi hingga sore hari menghidupi keluarganya. Membanting tulang dan menepis semua rasa sakit. Tapi tetap berkekurangan.
Ibu berusia 30 tahun ini ternyata telah memiliki dua orang anak. Anak pertamanya saat ini tengah duduk di kelas 1 SMA di Kabupaten Gowa, anak bungsunya kini duduk di kelas 2 Sekolah Dasar juga di Kabupaten Gowa.
Setiap hari Dg Lia bertugas membersihkan taman hiburan dengan seluncur air besar, dan kolam renang Bugis Waterpark. Setahun lebih Dg Lia bekerja sebagai petugas kebersihan, sebelumnya dirinya bekerja serabutan yang penting menghasilkan rezeki yang halal. Dg Lia yang berdomisili di Kabupaten Gowa setiap hari meninggalkan rumahnya pada pukul 05,00 subuh, setelah menyiapkan keperluan anak dan suaminya.
“Setiap hari kalau mau kerja saya sudah tinggalkan rumah jam 05,00, jadi bangun itu sekitar jam 03,00 untuk memasak persiapan sarapan untuk anak dan suami. Setelah itu saya berangkat sendiri bawa motor,” ungkap Dg Lia.
Di saat suasana sekitar rumahnya di Jalan Pattalassang Kabupaten Gowa masih sunyi dan gelap, Dg Lia sudah harus berangkat kerja, setengah jam sebelum jam menunjukkan pukul 07,00 pagi Dg Lia sudah harus memulai aktivitasnya sebagai petugas Kebersihan di Bugis Waterpark dan selesai pada pukul 06,30. “Saya takut dek dapat teguran dari bos, sehingga saya harus cepat-cepat berangkat dari rumah ke tempat kerja,” ujar Lia sambil mengusap keringatnya yang menempel di leher.
Ia menambahkan, sebelum bekerja di Bugis Waterpark, ia mendapatkan informasi dan bantuan dari teman kalau ada penerimaan di tempat itu. “Saya harus menjaga naba baik teman saya yang memasukkan saya bekerja di sini. Saya tidak mau ditegur bahkan dimarahi sehingga saya harus berangkat lebih dulu dari karyawan lainnya. Dalam 30 hari kerja kami dapat 1 kali libur dalam satu minggunya,” jelasnya. (*)
