MAKASSAR, BKM– Akibat gerusan ombak, abrasi di dua pulau di gugusan Kepulauan Spermonde di Kota Makassar terus terjadi. Dua pulau yakni Pulau Bone Tambung dan Kodingareng.
Akibat abrasi, pengikisan di kedua pulau diperkirakan mencapai ratusan meter. Hingga saat ini pemecah ombak untuk mencegah abrasi baru sementara dibangun.
Pulau Bone Tambung berjarak 13 kilometer dari Kota Makassar dan jarak tempuh sekitar 30 menit melalui jalur laut.
Begitupun dengan Pulau Kodingareng yang berjarak 13,6 kilometer dari Kota Makassar atau sekitar 20-30 menit melalui jalur laut.
Kedua pulau tersebut berada dalam Kecamatan Sangkarrang termasuk Pulau Barrang Lompo, Barrang Caddi, Lanjjukang, Langkae, dan Lumu lumu, serta ditambah dengan Pulau Kodingareng Keke yang tidak berpenghuni dan dijadikan sebagai tempat wisata.
“Yang rawan dan sering terjadi abrasi di Pulau Bone Tambung dan Kodingareng. Tetapi sekarang ini sudah mulai dibangun tanggul untuk mengantisipasi serta mencegah terjadinya abrasi. Baru tahun ini dilaksankan, jadi belum bisa dilihat hasilnya. Anggaran saya tidak tahu berapa itu,” singkat bicara Camat Sangkarrang, Firnandar Sabara, Senin (26/3).
Terpisah, Camat Ujung Tanah Andi Unru yang sempat memegang delapan pulau sebelum terjadi pemekaran wilayah mengatakan, memegang wilayah kepulauan di Makassar harus perlu ekstra perhatian. Sebab setiap tahun pulau-pulau pasti terjadi pengikisan dan abrasi yang membuat tanah di pulau tekikis. Jika diacuhkan, tentu berpengaruh buruk.
Dari pengalamannya, Oktober hingga April menjadi kekhawatiran warga pulau. Di bulan itu terjadi musim angin barat dengan intensitas hujan yang lebat, angin kencang, dan ombak tinggi. Tidak hanya itu, musim angin timur juga patut diwaspadai.
“Jadi dulunya kami membuat tanggul seadanya pemecah ombak. Kalaupun dermaga yang rusak kami mengganti sedikit demi sedikit kayu balok yang rusak. Tetapi dulu tidak ada yang parah, jadi bisa diatasi secara swadaya oleh warga,” tambahnya.
Adapun perbaikan pulau-pulau di Makassar kata Unru, harus menggunakan dana besar. Selain memperbaiki kondisi dermaga yang miring atau rusak, membuat tanggul pemecah ombak membutuhkan dana yang besar dan tidak cukup jika menggunakan APBD.
“Perlu dana APBN. Dulu saya tidak usulkan karena masih dapat kita tangani dengan anggaran yang ada. Kalau ini kondisi pulau sekarang parah, baiknya melalui APBN,” terangnya. (arf)