MAKASSAR, BKM — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel akan menggelar debat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, Rabu malam (28/3). Empat paslon akan tampil di acara yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta ini.
Dalam debat ini, paslon akan memaparkan kemampuan serta konsep bagaimana menata lingkungan. Termasuk soal reklamasi Pantai Losari. Khususnya yang berkaitan dengan pengembangan Centerpoint of Indonesia (CoI) di kawasan Pantai Losari. Lalu siapa yang berani menolaknya?
Paslon gubernur dan wakil gubernur Nurdin Halid-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) mengaku belum ingin memberikan tanggapan soal konsep reklamasi. NH-Aziz beralasan masih menata serta mengkaji semua yang berhubungan dengan persiapan materi debat. “Kalau itu (reklamasi kita masih mempelajari),” ujar NH-Aziz melalui juru bicaranya Muhammad Risman Pasigai, Senin (26/3).
Calon Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang juga enggan berkomentar terkait CoI. Menurutnya, biarkan materi debat berjalan dan mengalir apa adanya. Jika memang ada pembicaraan atau pembahasan seputar CoI, nanti di situlah baru akan dijelaskan bagaimana sikapnya. “Nanti kita lihat seperti apa pembahasan yang akan mengalir di debat,” katanya singkat.
Saat ini, kata mantan Wakil Gubernur Sulsel dua periode ini, dirinya lebih fokus dalam mendalami materi debat. Menurutnya, materi yang masuk dalam debat kandidat nanti menyangkut tiga topik. Pertama, pembangunan, lingkungan hidup berorientasi pada lingkungan hidup dan ekonomi kesejahteraan rakyat.
Kedua tentang peningkatan pelayanan publik dan pelayanan sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Terakhir penguatan kearifan lokal yang memperkokoh ideologi bangsa dan NKRI.
Agus menekankan dirinya sudah sangat siap menghadapi debat tersebut. Apalagi dia cukup matang di pemerintahan. Sebagai wakil gubernur dua periode dan ketua DPRD, ia cukup punya pengalaman untuk berbicara banyak soal topik yang akan jadi bahan debat kandidat.
Paslon Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) NA juga enggan menanggapi mengenai reklamasi Pantai Losari. Pihaknya juga tak menyatakan sikap apakah menerima ataupun menolak dengan reklamasi CoI yang menjadi program pemerintah Sulsel periode ini.
Tim media NA-ASS, Bunyamin Arsyad mengatakan, dalam debat nanti NA hanya fokus pada program yang akan dijalankan. Bukan malah mengurusi program lainnya. Dirinya mengatakan jika tak memiliki hak mengomentari program yang tidak menjadi haknya. “Kenapa na masalah itu (CoI)? Intinya, Pak NA hanya fokus pada program yang akan dijalankan. Bukan menanggapi masalah yang bukan menjadi programnya beliau,” kata Bunyamin.
Pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) juga mengaku tidak ingin memberikan tanggapan soal reklamasi atau semacamnya. Juru bicara IYL-Cakka, Henny Handayani yang dimintai tanggapannya malah tak ingin menjawab pertanyaan BKM. ”Kami dilarang memberikan tanggapan,” tulis Henny.
Isu Lingkungan Dinomorduakan
Terkait materi debat, Direktur Eksekutif Forum Studi Energi dan Lingkungan (Fosil), Anwar Lasappa mengharapkan isu lingkungan diutamakan. Utamanya reklamasi COI.
Anwar Lasappa menilai selama ini isu lingkungan sangat dinomorduakan. Padahal permasalahan yang mendera masyarakat adalah soal lingkungan, di mana penebangan pohon, sampah sulit teratasi, indstri merajalela dan banjir mengepung Sulsel.
“Kita mengharapkan semua kandidat gubernur mengusung pro terhadap lingkungan. Ini kan kita mau lihat sejauh mana keberpihakan kandidat terhadap persoalan-persoalan lingkungan,” ungkap Anwar, Senin (26/3).
Belum lagi tidak tuntasnya permasalahan lingkungan di Sulsel. Pemerintah diperhadapkan soal dampak dari reklamasi CoI, yang imbasnya ke masyarakat pesisir. Sehingga ia berharap dalam debat kandidat pilgub memasukkan dalam visi dan misinya untuk menghapus reklamasi.
“Dalam debat kandidat ini perlu ada keberpihakan persoalan lingkungan di Sulsel, mengingat isu soal lingkungan ini dinomorduakan. Padahal banyak bencana ekologi di Sulsel yang sering terjadi, mulai bencana banjir, tanah lonsor, dan sebagainya,” jelasnya.
Olehnya, persoalan lingkungan harus menjadi masalah pertama. Belum lagi muncul persoalan lain. ”Seperti kasus reklamasi pantai yang berjalan, ini yang harus menjadi perhatian. Seharusnya aspek-aspek lingkungan dalam misi dan visi, dimasukkan dalam debat kandidat,” terangnya.
Hal ini perlu, agar publik dapat mengetahui kandidat mana nantinya yang lebih berpihak terhadap isu lingkungan dan mana yang tidak. Karena apa yang dipaparkan dalam debat kandidat nanti menjadi patokan masyarakat menilai paslon dalam pilgub Juni mendatang.
“Itu sudah pasti. Jadi kita lihat nanti siapa berpihak. Semua nanti akan kita tahu, seperti apa pemimpin kita untuk lima tahun ke depan. Kita bayangkan saja jika pemimpin tidak peduli dengan lingkungan. Apalagi dengan masyarakatnya,” cetusnya. (rhm-ita-nug/rus)
