ZAITUN Alhamid memiliki banyak talenta. Sukses di karir dan pendidikannya, ia juga punya hobi menyanyi serta menciptakan lagu.
Laporan: Ardhita Anggraeni Nur
BAGI Zaitun, olah vokal menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan. Bakatnya di dunia tarik suara sudah terasah sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hanya saja, pada saat itu lebih banyak tawaran yang menghampirinya dari dunia modelling.
Perempuan berzodiak Aries ini juga banyak aktif di dunia sosial. Semua dilakoninya, karena orang tua mendukung. Dengan catatan, sekolah dan kuliah tidak boleh terganggu.
”Saya ingin menyampaikan kepada perempuan di luar sana, bahwa ini sudah zamannya emansipasi wanita. Sekolah yang tinggi. Ikuti berbagai kompetisi. Perbanyak pengalaman, dan eksplore diri dengan skill yang kita punya,” kata wanita berzodiak Aries ini di sela-sela fitting baju yang akan dikenakannya pada acara pernikahannya nanti.
Telah banyak lagu yang diciptakan anak kedua dari empat bersaudara ini. Ia lalu publish di soundcloud miliknya. Sebut saja lagu berjudul Tetap dalam Cinta, Tapi Bukan Aku, Kesempatan Kedua, Ketika Tuhan Jatuh Cinta dan Biarkan Dia Pergi.
Kemerduan suaranya juga bisa didengar ketika Zaitun melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Bahkan pernah diperdengarkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional.
”Hobi saya memang menyanyi. Itu sudah sejak lama. Sampai sekarang masih ada panggilan untuk manggung dan MC,” tuturnya.
Zaitun kembali mengenang, bahwa dulunya ia ingin menjadi seorang dokter kandungan. Namun seiring berjalannya waktu, tujuan itu berubah. Diapun masuk Fakultas Hukum Unhas tahun 2014.
Di akhir kuliah, Zaitun yang memilih hukum pidana berhasil meraih nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97. Lama studinya 3 tahun 3 bulan dengan predikat cumlaude.
Setelah kuliahnya di Unhas selesai, Zaitun telah mengukuhkan niatnya untuk melanjutkan studi di Belanda. Apalagi ia pernah terpilih dari sekian banyak pendaftar kejuruan hukum pidana di Univesitas Leiden, untuk mengikuti Program Student Exchange selama setahun. Program ini merupakan kerja sama penelitian dan pertukaran pelajaran.
”Waktu itu saya ingin sekali melihat seperti apa kampus yang menjadi primadona mahasiswa hukum Indonesia. Karena aturan hukum di negeri kita masih banyak berkiblat ke sana,” jelas Zaitun.
Sebenarnya, ia ingin lebih banyak mengunjungi dan mengeksplore negara-negara Eropa untuk proyek proposal pengembangan studi lanjutannya di bidang hukum pidana. Namun, ia terlebih dahulu harus menuntaskan semua urusannya di Makassar. (*/rus)
