LUWU, BKM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid di Desa Barowa Kecamatan Bua Kabupaten Luwu, Jumat (30/3) siang tadi.
Kunjungannya Pemrpov Sulsel diwakili Kepala Badan Pengelolah Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Andi Arwin Azis. Dia secara langsung melihat kondisi pondok pesantren yang baru beroperasi sekira 2 tahun.
Dalam pertemuan dengan pihak pesantren, Direktur MTs. Putri Nurul Jadid Bua, Hj Buhari SPd dan Kepala Sekolah, Widyati Robihatun, kepada Arwin Azis mengungkapkan rencana pembangunan gedung sekolah Madrasah Aliyah saat ini.
“Lahan kami sudah ada lengkap dengan surat kepemilikan yang telah dihibahkan oleh yang pemilik sebelumnya. Rencana kami akan bangun gedung dua lantai untuk jenjang pendidikan MA di sini,” ujar Hj. Buhari saat mendampingi Andi Arwin Azis meninjau lokasi lahan tersebut.
Lahan yang dimaksud juga berada dalam lokasi pesantren dan letaknya berdampingan dengan bangunan MTs. Menurut pihak pesantren luas lahan yang mereka siapkan 1.089 meter persegi atau 18 meter × 61 meter.
Andi Arwin Azis yang juga menjabat sebagai Pjs. Wali Kota Palopo berjanji akan membantu pengusulan anggaran di APBD Perubahan Pemprov Sulsel tahun anggaran 2018.
“Saya akan coba usulkan anggarannya di APBD Perubahan tahun ini, semoga bisa terakomodir. Saya minta seluruh berkasnya dilengkapi termasuk bukti kepemilihan lahan, rekening yayasan termasuk profile sekolah,” ujarnya.
Andi Arwin berjanji akan mengupayakan dana dari Pemprov untuk pengembangan Pondok Pesantren Nurul Jadid di Bua.
Wakil Bupati Luwu, H Amru Saher, menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih kepada Pemprov Sulsel untuk membantu pengembangan pendidikan berbasis agama di Kabupaten Luwu.
“Pengembangan Pondok pesantren Nurul Jadid menjadi tanggungjawab kita bersama, tanggungjawab umat dan pemerintah meski statusnya adalah sekolah swasta. Kami juga telah beberapa kali melakukan komunikasi termasuk memantau perkembangan pesantren ini,” ujarnya.
Dengan berkembanganya pesantren tersebut di Bua diharapkan mampu memberi nilai lebih kepada masyarakat Bua yang dikenal religius.
“Bua adalah daerah yang pertama memeluk Islam di Luwu Raya bahkan Sulsel,” tambahnya.
Untuk diketahui, saat ini Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki enam ruang kelas. Kelas 1 terdiri dari dua rombongan belajar dan kelas 2 juga dua rombongan belajar.
Pihak sekolah mengaku sengaja hanya membuka dua rombel per satu tingkatan karena keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas. Selain itu mereka memegang prinsip mencari dan mengembangkan mutu siswi.
“Kami cari siswi yang bermutu, itu yang kami kejar bukan kuantitas. Di pendaftaran tahun ajaran baru ini sudah 13 pendaftar yang kami anggap gugur, seleksi masuk di sini cukup ketat dan memiliki standart baku ponpok pesantren nasional,” ujar Widyati Robihatun, Kepala Sekolah. (irwan musa)
