USAI mengikuti apel, Syahrul menuju ke ruang kerjanya yang terletak di lantai dua gedung utama. Secara khusus, dia mengajak wartawan masuk ke ruang kerjanya.
Di sana, Syahrul melakukan salat dhuha. Kemudian menandatangani puluhan berkas yang disodorkan sekretaris pribadinya, H Suaib.
“Dalam sehari, saya bisa tandatangani ratusan surat loh. Bisa sampai 280 kali,” jelasnya.
Sambil tangannya terus bekerja, dia bertutur, dirinya terbiasa menyelesaikan kerja-kerja persuratan paling lama dua hari. Kalaupun molor, itu karena dirinya sedang berada di luar daerah.
“Di sini cuma kantor representatif. Saya bekerja di mana saja. Termasuk mobil. Waktuku disini hanya dua hingga lima jam. Selebihnya di segala tempat. Saya bekerja 24 jam,” tuturnya.
Dia mengaku selalu berusaha agar tidak ada surat yang tertahan alias tidak ditandatangani. Kalaupun ada, memang sudah disaring. Karena sebelum dirinya bertanda tangan, sudah melewati lima pejabat berwenang.
Dia menuturkan, saat ini perasaannya bercampur-campur. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Antara kesedihan, semangat, harapan, dan semuanya.
Syahrul termasuk tipikal orang yang selalu ingin menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. Karenanya, dia mengaku sedih kalau harus mengakhiri semua, sementara masih ada yang perlu diselesaikan. Katakanlah Stadion Barombong misalnya. Keinginannya untuk melihat stadion itu bisa selesai dan dipergunakan dengan baik di masa pemerintahannya, tak kesampaian karena waktu yang tidak memungkinkan.
Namun dia percaya jika penggantinya nanti mampu melanjutkan seluruh programnya dengan baik. Apalagi, saat ini Sulsel sudah terlanjur menjadi salah satu provinsi terbaik di Indonesia.
Kepada penggantinya, dia juga berpesan agar tetap bisa menghadirkan suasana yang nyaman, aman, dan tenteram di Sulsel.
Sudah banyak rencana yang menanti Syahrul pascamenuntaskan masa jabatannya. Dia mengaku dirinya sudah ditunggu di Papua dengan acara adat untuk sebuah acara kepartaian. Begitu juga di Maluku Utara.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Syahrul pun bergegas untuk mengikuti agenda selanjutnya. Namun sebelum meninggalkan ruang kerjanya, dia cukup lama terpaku di depan dinding yang ditempeli beberapa foto keluarga.
Sambil menghela nafas panjang, satu persatu foto berbingkai itu diturunkan untuk dipindahkan ke mobilnya. Tak mau lama-lama diliputi kesedihan, Syahrul segera beringsut menuju ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), di mana agenda berikutnya sudah menanti untuk dihadiri. (rhm/rus)
Keinginan yang tak Kesampaian
