BANYAK pengalaman berharga yang diambil selama mendampingi Syahrul Yasin Limpo sebagai Gubernur Sulsel. Utamanya terkait seluk beluk pemerintahan.
Laporan: RAHMA AMRI
Beban kerja sebagai seorang ADC atau ajudan cukup berat. Nyaris seluruh waktunya, diwakafkan untuk melayani gubernur. Apalagi saat ini, hanya Ryan satu-satunya ajudan yang diberi amanah.
Namun, sebagai seorang alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Ryan sudah terbentuk sebagai pribadi yang kuat, tangguh, dan disiplin. Baginya, IPDN merupakan kawah candradimuka untuk menempanya sebagai pamong praja berkualitas.
Dia merupakan salah satu lulusan IPDN yang cukup diperhitungkan. Banyak keahlian yang dimiliki. Salah satunya, Ryan merupakan seorang stick master drum band andalan IPDN saat masih pendidikan. Tak heran, saat Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menerima penghargaan Asta Pradja dari IPDN, dia sempat mempertontonkan keahliannya.
Selama satu tahun lebih menjadi seorang ajudan, Ryan jadi cukup memahami karakter seorang SYL.
Baginya, Syahrul seorang negawaran sejati. Seluruh tenaga, pikiran dan darma baktinya dicurahkan untuk kebaikan.
Ryan menggambarkan SYL sebagai bapak yang mengayomi, tulus dalam bekerja, tegas, cerdas, berwibawa, penyayang, pandai menempatkan diri, sopan, dan seorang guru yang baik.
Menurutnya, jika dirinya melakukan kesalahan, dirinya ditegur dalam tataran seorang bapak memperingati anaknya. Bukan sebagai atasan kepada bawahan.
“Kalau saya dapat teguran, itu sama saja saya gagal melaksanakan tugas. Karena itu, saya berprinsip, sekali ditegur, tidak boleh lagi terulang kesalahan yang sama, ” tegasnya.
Selama menjadi ajudan gubernur, lanjut Syahrul, Ryan mengaku selalu terbius oleh kharisma lelaki yang akrab disapa komandan itu. Dan menurutnya, walaupun gubernur adalah orang nomor satu di daerah ini, beliau tidak kaku dan tidak mau dilayani seperti seorang raja.
Saat ini, kesedihan sedang melanda Ryan. Bagaimana tidak, tinggal menghitung hari, Gubernur Syahrul Yasin Limpo sudah harus menanggalkan jabatannya sebagai gubernur.
Saat apel besar di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sulsel, Jumat (6/4), tak sadar, Ryan meneteskan air mata saat gubernur pamit dihadapan ribuan ASN.
Dia mengaku sangat beruntung diberi kesempatan menjadi seorang ADC dari gubernur terbaik yang ada di negara ini. Selepas gubernur mengakhiri masa jabatannya, dirinya akan kembali mengabdi di OPD dimana dirinya memang ditempatkan.
“Banyak pelajaran berharga yang saya dapat. Menjadi ajudan Bapak Gubernur merupakan momen spesial yang tidak bisa diukur dengan apapun, ” pungkasnya.
Tak terasa satu tahun tiga bulan ia mendampingi SYL sebagai ajudan.
Setelah lulus di IPDN lelaki berperawakan tinggi dan tegap ini diberi kesempatan magang di Pemprov Sulsel, tepatnya di Badan Diklat yang saat itu dipimpin oleh Irman Yasin Limpo. Ryan menjalani proses magang selama setahun di sana.
Selepas itu, dia mengantongi SK ASN 100 persen dan ditempatkan di Pemkab Luwu Timur. Secara kebetulan pula, Irman Yasin Limpo terpilih sebagai caretaker Bupati Lutim di kabupaten tersebut. Diapun ditawari menjadi ADC atau ajudan oleh lelaki yang akrab disapa None tersebut. Enam bulan Ryan mengabdi sebagai ajudan.
Setelah masa jabatan None sebagai caretaker selesai, Ryan pun pindah ke Pemprov Sulsel. Lagi-lagi, anak kedua dari tiga bersaudara itu ikut None yang terangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan Sulsel.
Saat menjadi staf di Disdik, tawaran untuk menjadi ajudan datang dari ajudan gubernur saat itu, Jamil Baharuddin.
Kebetulan, Gubernur Syahrul baru saja melakukan mutasi dan melantik sejumlah pejabat eselon III dan IV lingkup Pemprov Sulsel. Dan Jamil diberi amanah menduduki sebuah posisi sebagai pejabat eselon IV.
“Jadi ajudan Pak Gubernur yang kebetulan merupakan senior saya di IPDN menawarkan saya untuk melanjutkan tugasnya sebagai ajudan,” kata Ryan dalam bincang-bincang santai dengan penulis.
Lelaki kelahiran 23 Agustus 1992 itu tidak langsung mengiyakan. Dia meminta agar diberi waktu untuk konsultasi dulu dengan sang ibu.
Ryan pun berkonsultasi dengan ibunya, Ade Fatma Husain.
“Saya konsultasikan ke ibu, beliau mengatakan terserah ji nak. Tapi itu tawaran baik. Ambil saja. Setidaknya banyak yang bisa dipelajari dan menjadi pengalaman,” tutur Ryan.
Ryan akhirnya menerima tawaran tersebut dan dimulailah pengalaman baru dalam karirnya sebagai ASN. (*)
