UNTUK sementara ini, di lantai enam Gedung Graha Pena dijadikan basecamp sementara tukang pembersih dinding dan kaca gedung. Semua alat seperti autostop, carabiner, body harness, sling, sarung tangan, helm, tali kernmantle, sepatu hingga gandola di simpan dengan rapi.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pukul 08:00 adalah waktu tepat bagi tim pembersih dinding dan kaca gedung memulai aktivitas untuk keluar bergelantungan di luar gedung. Alasannya, di waktu pagi hingga pukul 12:00 kondisi angin masih bersahabat, risiko angin menghempas tubuh ke dinding kemungkinan sedikit terjadi.
Jika kondisi sedang diguyur hujan, maka tim pembersih dinding dan kaca gedung terpaksa harus berhenti dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Jika diteruskan, dapat berisiko dapat disambar petir hingga tergelincir oleh licinnya dinding gedung.
“Biasanya kalau sudah berada di posisi tengah dan sudah ada tanda mau hujan, kita harus percepat. Tidak boleh ditinggalkan karena harus diselesaikan satu hari untuk satu baris sisi gedung setiap kali keluar. Kalau sudah mau hujan mulai kencang angin,” jelas Taufik.
Untuk mengisi waktu, kata Taufik, ia bersama teman-temannya mengerjakan pekerjaan lain yang sudah diprogramkan. Pekerjaan di dalam gedung seperti cat atau perbaikan palfon,” kata Taufik.
Tidak ada pengalaman khusus sebagai pemanjat tebing, ataupun petualang bagi Taufik. Keberanian berada di ketinggian didapatkan sewaktu menjadi tukang buruh bangunan dengan menyusun batu bata hingga menjadi bentuk gedung bertingkat.
“Tidak pernah ji panjat tebing atau naik gunung. Saya berani jadi tukang pembersih dinding gedung karena pernah jadi tukang buruh bangunan dengan memasang batu bata dan membuat bangunan berlantai cukup tinggi. Sudah biasami kalau ketinggian,” sebutnya.
Sebelum jadi tukang pembersih dinding dan kaca gedung, Taufik awalnya ditempatkan menjadi cleaning service di Gedung Graha Pena. Profesi itu dilakukan selama hampir sembilan bulan dengan masa training.
Setelah melalui masa training, Taufik akhirnya dipanggil dan ditempatkan bagian tukang pembersih dinding dan kaca gedung. Sesuai dengan keinginan ketika mendaftar.
Orang tua Taufik juga turut mendukung profesi pilihan Taufik. Namun tetap tidak henti mengingatkan selalu berhati-hati dan berdoa sebelum memulai aktifitasnya yang cukup ekstrem.
Setiap hari, Taufik dan rekannya mampu membersihkan satu baris sisi gedung. Satu baris memiliki tingkat enam lantai. Untuk membersihkan dinding dan kaca gedung hanya membutuhkan busa spon, cairan penghilang noda yang di simpan dalam ember, dan selang panjang untuk air bersih.
“Kalau lantai dua puluh ke lantai enam kita pakai gandola dan alatnya sama juga. Harus satu hari satu sisi gedung kita selesaikan. Dua yang bergelantungan, satu berada di atas, dan satu teman di bawah gedung. Setiap kerja kita selesaikan dulu lantai dua puluh sampai lantai enam keliling. Setelah itu lanjut lantai enam sampai basement keliling. Orang tua mendukung ji dan selalu ingatkan untuk berhati-hati. Doa orang tua selalu saya ingat,” tambahnya.
Selama bekerja menjadi tukang bersih dinding dan kaca gedung, Taufik begitu menikmatinya. Dan seakan tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang sudah sesuai dengan passionnya. Untuk gaji, setiap bulan ia menerima sebesar Rp2,500,000. Dirasa cukup menutupi kebutuhan hari-hari dan menabung persiapan nikahnya.
“Gaji saya dapat lumayan juga untuk menutupi biaya hidup dan sedikit ditabung untuk nikah. Alhamdulillah sudah ada tabungan dari pekerjaanku dan kalau tidak ada halangan, tahun depan sudah nikah,” sebutnya. (arf)
