Site icon Berita Kota Makassar

Lanjutkan Usaha Orang Tua Untuk Bertahan Hidup

JIKA melintasi Jalan Syech Yusuf, akan sangat terbiasa kita belihat puluhan ekor kambing di sana. Apalagi jika berada di perempatan jalan perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Karena memang banyaknya penjual kambing di lokasi tersebut, termasuk kambing milik Dr Tarang.

Laporan: NUGROHO

Ternyata, keberadaan mereka telah cukup lama di wilayah tersebut. Sudah turun menurun. Bukan hanya ketika saat musim qurban saja atau saat perayaan hari-hari tertentu, melainkan tiap saat bisa kita dapati kambing yang diperjualbelikan di tempat tersebut.
Siang kemarin, penulis mencoba menemui salah seorang penjual kambing, Muhammad Al Muhaddang Dg Tarang. Ia kerap di sapa Dg Tarang. Beruntung karena orangnya baik, begitu terbuka ketika penulis mencoba mewawancarainya.
Ia merupakan warga Jalan Malengkeri, Makassar. Di rumahnya di Jalan Malengkeri, ia tinggal bersama istrinya yang bernama Fatma Irawati dan kedua anaknya.
Dg Tarang tampak begitu santai saat penulis berkunjung ke tempat dagangannya. Dengan dibalut kaos berwarna merah-abu-abu dan celana jeansnya, ia begitu santun saat menerima penulis. Pria berusia 30 tahun ini pun mempersilahkan BKM untuk duduk di kursi plastik warna biru yang tepat berada di depan kandang kambingnya.
Dengan cuaca yang cukup terik saat itu, terlihat kandang kambing milik Dg Tarang terlihat cukup luas. Ukurannya sekitar 4×6 meter. Cukup untuk menampung 80 ekor kambingnya yang kini ia jual langsung di tempat itu.
Kandang miliknya terlihat sederhana. Hanya dibuat dari beberapa balok kayu yang mengeliingi, dengan seng yang menutupi atapnya. Lantainya jelas merupakan tanah, dengan rumput yang berserakan sebagai makanan kambing tersebut. Siapa sangka jika Dg Tarang telah menekuni usaha jual beli kambing ini sejak tahun 1996.
“Dulu saya mulai ini sama bapak, waktu itu saya juga sudah mulai layani klo ada pembeli. Nah setelah bapak ndak bisa mi lanjutkan, tinggal saya mami sampai sekarang,” kata pria asli Makassar ini.
Kambing yang dijualnya pun bervariasi. Mulai dari kambing lokal, sampai kambing import. Begitupun dengan harga yang diterapkan kepada setiap kambing, berbeda berdasarkan ukurannya.
“Disini ada kambing jenis lokal, yang kecil-kecil itu. Ada juga kambing yang lumayang besar, kambing bandot. Orang sini bilang itu kambing Australia, itu sana kambingnya (sambil menunjuk), yang mancung hidungnya,” kata Dg Tarang tersenyum.
Kalau harga, Dg Tarang mengatakan jika harga kambingnya itu berdasarkan dari ukurannya. Untuk ukuran normal, harga kambing sekitarang Rp 1,2 juta perekor. Sedangkan yang ukuran paling besar, harga bisa mencapai Rp 5 juta perekor.(nug/b)

Exit mobile version