Site icon Berita Kota Makassar

Pemesannya Mulai Untuk Aqiqah Sampai Kematian

KESEHARIANNYA hanya menunggu pelanggan datang ke tempat dagangannya, namun hal itu ternyata bukan sebuah hal yang mudah. Suka dan duka pun kerap dialami Dg Tarang dalam menjalani hidup.

laporan: NUGROHO

Kambing yang dijual Dg Tarang berasal dari Jeneponto. Ia mengambil langsung kambing-kambing itu dari peternak yang ada di sana. Kambing-kambing yang diambilnya biasanya diangkut langsung menggunakan truk dan diturunkan langsung di tempat dagangan Dg Tarang.
Pembelinyapun variatif. Dg Tarang tak mengetahui betul darimana saja asal pembelinya. Namun ia mengatakan jika para pembelinya memiliki tujuan yang berbeda-beda saat membeli kambing miliknya.
“Banyak yang ambil kambing untuk aqiqah, ada juga yang untuk syukuran. Selain itu biasa juga ada yang ambil untuk acara orang mati, biasa kan kalau tujuh harinya itu pesan ki kambing. Ada juga yang sengaja beli kambing untuk nazar,” jelas Dg Tarang.
Kambing-kambingnya akan sangat laku terjual jika hari raya Idul Adha tiba. Bahkan banyak orang yang biasa antri untuk memesan. “Kalau mau mi lebaran Idul Adha biasanya tambah banyak yang mau beli, Alhamdulillah rezeki karena banyak mi juga orang yang tau ki sama ini tempat,” katanya.
Selain orang yang membeli kambingnya secara langsung, ternyata banyak juga tempat catering yang memesan daging kambing di tempatnya. Banyak pengusaha catering yang memesan daging kambingnya, jadi Dg tarang pun juga biasa memotong sendiri kambing miliknya, dan dagingnya dijual ke beberapa tempat catering tersebut.
Dg Tarang mengatakan ada 10 tempat catering yang ada di Makassar berlangganan di tempatnya hingga saat ini. Namun dari banyaknya tempat catering tersebut, ternyata tak selamanya menguntungkan. Dg Tarang pernah ditipu oleh salah satu pengusaha catering yang pernah berlangganan dengannya.
Saat itu ada salah satu tempat catering yang memesan daging kambing. Karena seringnya berlangganan, maka Dg Tarang tak ragu memberikan kebebasan kepada tempat catering tersebut kapan mau membayar. Namun setelah beberapa kali ditagih, tempat catering tersebut urung membayar daging kambing yang telah dipesannya hingga saat ini. Alhasil, Dg Tarang hanya bisa mengiklaskan.
“Kita sudah beberapa kali tagih, tapi banyak sekali alasannya. Jadi mau mi diapa, capek mka juga. Saya ikhlaskan mi saja,” katanya dengan raut muka kecewa.
Pengalaman pahit juga pernah dialaminya saat salah satu pelanggannya yang berasal dari Maros memesan kambing miliknya. Hampir sama, pelanggan tersebut juga tak membayar sampai pada saat ini.
“Kalau itu kambing hidup na pesan, sampai sekarang juga belum bayar. Kurang lebih totalnya itu Rp 3,5 juta,” sebutnya.
Tapi siapa sangka, Dg Tarang ternyata juga pernah berhenti berjualan kambing. Saat usianya menginjak usia sekitar 20an tahun, ia lebih memilih menjadi pelaut kala itu. Kurang lebih selama setahun ia menjalani profesinya mengarungi lautan.
Selama melaut, Dg Tarang pernah mengalami kejadian pahit. Neneknya kala itu meninggal dunia, sedangkan ia tak bisa menemuinya untuk terakhir kali karena sedang berada di tengah laut.
Atas kejadian itu pula, ia pun memutuskan untuk berhenti melaut dan kembali berjualan kambing. “Saya ndak mau kejadian seperti itu terulang lagi, lebih baik saya disini jualan kambing. Saya juga baru sadar, ternyata lebih enak berada di kampung sendiri daripada diluar,” tutupnya.
Di rumahnya di Jalan Malengkeri, ia tinggal bersama istrinya yang bernama Fatma Irawati dan kedua anaknya.
Dg Tarang tampak begitu santai saat penulis berkunjung ke tempat dagangannya. Terlihat kandang kambing milik Dg Tarang terlihat cukup luas. Ukurannya sekitar 4×6 meter. Cukup untuk menampung 80 ekor kambingnya yang kini ia jual langsung di tempat itu.
Kandang miliknya terlihat sederhana. Hanya dibuat dari beberapa balok kayu yang mengeliingi, dengan seng yang menutupi atapnya. Lantainya jelas merupakan tanah, dengan rumput yang berserakan sebagai makanan kambing tersebut. Siapa sangka jika Dg Tarang telah menekuni usaha jual beli kambing ini sejak tahun 1996.
“Dulu saya mulai ini sama bapak, waktu itu saya juga sudah mulai layani klo ada pembeli. Nah setelah bapak ndak bisa mi lanjutkan, tinggal saya mami sampai sekarang,” kata pria asli Makassar ini.
Kambing yang dijualnya pun bervariasi. Mulai dari kambing lokal, sampai kambing import. Begitupun dengan harga yang diterapkan kepada setiap kambing, berbeda berdasarkan ukurannya.
“Disini ada kambing jenis lokal, yang kecil-kecil itu. Ada juga kambing yang lumayang besar, kambing bandot. Orang sini bilang itu kambing Australia, itu sana kambingnya (sambil menunjuk), yang mancung hidungnya,” kata Dg Tarang tersenyum.
Kalau harga, Dg Tarang mengatakan jika harga kambingnya itu berdasarkan dari ukurannya. Untuk ukuran normal, harga kambing sekitarang Rp 1,2 juta perekor. Sedangkan yang ukuran paling besar, harga bisa mencapai Rp 5 juta perekor.(nug/b)

Exit mobile version