Site icon Berita Kota Makassar

Putus Sekolah Karena tak Punya Seragam

BANYAK sekali kisah memilukan yang dirasakan anak negeri ini, dimana mereka dalam keadaan yang tak mampu harus merelakan pendidikannya untuk mengumpulkan sesuap nasi. Seperti yang dirasakan Fajrin siswa berprestasi di sekolah yang tidak lanjut sekolah.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Siang, Selasa 17 April kemarin , gerimis tercurah membasahi sebagian Kota Makassar. Meski begitu masih saja kepadatan kendaraan terjadi di pertigaan Jalan Hertasning-AP Petta Rani.
Sebentuk tubuh kecil Fajrin berdiri terpaku di tengah taman kota, ia mendekap puluhan lembar koran terbungkus plastik. Tubuhnya yang hanya terbungkus secarik baju lusuh dan celana pendek terlihat tersenyum. Dia lebih memilih melindungi korannya dari rintik air. Lampu merah menyala, bocah kecil menghambur ke tengah jalan. Tawarkan korannya.
Penulis yang tepat berada di Gedung DPRD Makassar melihat jelas aktivitas Arfin dan terhenyuh ingin mengetahui suka duka dari kehidupan Arfin.
Bagi Arfin lampu merah adalah anugerah. Karena, ia bisa menawarkan korannya jika kendaraan berhenti.
Dari pagi sudah tujuh koran yang terjual. Banyak duka dari sukanya. Arfin terpaksa menjual koran, karena rumahnya di Rappocini Raya dan seragam sekolahnya ludes dilalap si jago merah tahun 2016 lalu sehingga tidak ada harapan lagi untuk bisa bersekolah dan menikmati bermain bersama teman-teman sekolahnya.
Di usianya 12 tahun sebagai anak jalanan bukanlah pilihannya, namun keadaan menuntutnya untuk menjadikan dirinya berprofesi sebagai penjual koran. Padahal, Fajrin terkenal di sekolahnya sebagai siswa yang teladan dan cerdas.
Bahkan Fajrin sangat menyukai seluruh mata pelajaran terutama matematika. Sewaktu sekolah dirinya tidak ingin bermain sebelum menuntaskan pekerjaan sekolah. Dirinya giat untuk belajar tidak hanya di sekolah, teman-teman sebayanya di tempat penjualan koran juga mengakui kecerdasan Fajrin.
“Putus mi kak sekolahku, sampai kelas empat SD ji,” akunya. Ditanya mengapa tidak bersekolah lagi, Fajrin mengaku seragam sekolahnya sudah tidak ada setelah rterbakar bersama rumahnya.
Meski dalam kondisi itu, dirinya tetap ikhlas putus sekolah guna membantu perekonomian orangtuanya kembali pulih.
“Kalau sekolah ka nanti tidak ada yang bantu mama dan bapakku cari uang. Tidak bisa mi na kasih sekolah ka karena tidak bisa beli seragam dan biaya sekolah,” katanya. Waktuku sekolah selalu ka juara di sekolah dan rangking 1 atau 2 di kelas. Mata pelajaran yang kusuka matematika, hitung-hitung itu,” tambahnya.
Selain itu, anak ke empat dari lima bersaudara ini juga, mempunyai cita-cita sebagai tahfiz Alquran, makanya seusai menjual koran ia menyempatkan dirinya untuk pergi ke Tempat Pengajian Anak (TPA) di dekat rumahnya. Seusai pulang dirinya juga harus membantu orangtuanya di rumah bersama kakaknya yang lain.
“Pulangka nanti ini pergi mengaji, mau kah hapal semua Alquran. Nanti pulang pergi ka lagi bantu mamaku di rumah karena biasa sakit adekku,” ujarnya.
Uang hasil jual koran yang ia dapatkan hanya bisa untuk ditabung dan diberikan ke orangtuanya untuk kebutuhan sehari-hari. Seharusnya Pemerintah Kota Makassar dan wakil rakyat yang prihatin terhadap rakyat miskin, jangan hanya ketika ada moment demokrasi berlomba –lomba ketempat kumuh warga miskin mencari simpati supaya dipilih.
“Kutabung ji kak yang bisa ditabung, karena kalau tidak bisa saya pakai belanja untuk beli makan. Di sekitar sini ji saya menjual di Hertasning,” katanya.(ita)

Exit mobile version