Site icon Berita Kota Makassar

Amat Percaya Kekuatan Doa dan Salat

BUKANLAH hal yang kebetulan atas semua pencapaian Ririn kini. Setidaknya, butuh sebuah ketekunan dan kerja keras. Ia pun tak sungkan membagi tips agar sukses dalam dunia perkuliahan.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

YANG pertama adalah doa. Berdoa menjadi kunci utamanya. Termasuk dari kedua orang tua. Jangan remehkan doa, karena dengan doalah Ririn bisa dimudahkan dalam setiap kegiatannya di kampus. Putri tunggal pasangan Sujimin Wedyo dan Herawati ini benar-benar amat percaya pada kekuatan doa.
“Setiap saya berdoa sebelum mengerjakan sesuatu, semua tahap kegiatanku selalu dimudahkan. Beda sekali kalau saya tidak memulainya dengan doa,” tuturnya.
Yang kedua adalah ibadah salat. Di balik semua kegiatannya, Ririn mengatakan jika ia tak pernah sekalipun melupakan sembahyang. Baginya, kewajiban ini adalah sebuah kesempatan untuk diberikan anugerah oleh Tuhan. Tak ubahnya dengan doa, salat juga memiliki kekuatan sendiri bagi Ririn.
Yang ketiga adalah attitude yang baik. Bersikap sopan kepada dosen, menyayangi junior-juniornya, dan selalu sharing dengan para senior menjadi modal awalnya membangun karakter di kampus.
Baginya, sangat percuma jika seseorang pintar, namun tidak memiliki attitude yang baik. Jika hal itu terjadi, maka justru akan merugikan diri sendiri.
Tips selanjutnya adalah mengakrabkan diri kepada semua orang. Setiap orang dipandang sama oleh Ririn. Baik itu dosen, pimpinan birokrasi, pegawai-pegawai, satpam, sampai penjual makanan, semua diakrabinya.
“Mereka itu bagian dari kampus. Saya sebagai mahasiswa tidak monoton yang hanya akrab dengan beberapa orang. Saya kan ekstrovert orangnya. Jadi saya bisa akrab dengan mereka. Biarpun siapa, mereka juga akan membantu kita tentunya,” begitu alasan Ririn.
Tips terakhir adalah memperhatikan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) dan absensi. Ririn sangat memperhatikan IPKnya selama kuliah. Ia juga sangat menghargai kehadiran di kelas.
Saat mengerjakan tugaspun ia juga begitu sungguh-sungguh. Seperti pengalamannya yang ia ceritakan ini.
Pernah suatu hari, dosen menyuruhnya untuk mengerjakan tugas linguistik. Tugas yang diberikan sebenarnya hanya beberapa lembar saja, namun Ririn malah mengerjaannya sampai sekitar 100 lembar. Dosennya pun biasa terkaget-kaget dengan kemampuannya. Kadang seorang dosen tak percaya seorang mahasiswa seperti Ririn bisa mengerjakan soal sebanyak itu.
Hal ini ternyata berdampak pada skripsi yang dibuatnya. Skripsi Ririn terbilang amat tebal. Isinya saja mencapai kurang lebih 100 halaman. Padahal untuk ukuran normal, isi skripsi biasanya hanya berkisar 50 halaman.
“Itu dosenku kaget juga lihat skripsi yang saya buat. Malah dia kira desertasi yang saya buat,” katanya sambil sedikit tertawa.
Meski menjadi wisudawan terbaik, mahasiswa angkatan 2014 ini sebenarnya tak pernah menargetkan prestasi itu. Yang ia ancang-ancang hanya bisa selesai kuliah selama 3 tahun 5 bulan saja.
Namun kenyataannya terbalik. Ririn baru sanggup menyelesaikan masa studinya selama 3 tahun 6 bulan, meleset 1 bulan dari targetnya. Tapi ia bisa menyabet predikat sebagai wisudawan terbaik.
Alumni SMAN 10 Makassar ini berharap bisa melanjutkan studi lagi di jenjang S2. Targetnya adalah beasiswa. Ada Beasiswa Unggulan (BU) dan beasiswa LPDP yang ia rencanakan bisa diperolehnya.
“Mudah-mudahan bisa lulus beasiswa itu dan kuliah lagi. Kalau bukan di Unhas, UGM, atau Unnes. Kalau dikasih kesempatan lanjut di luar negeri, saya harap bisa lulus di Australia,” imbuhnya. (*/rus/b)

Exit mobile version