RABU pagi (2/5) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kompleks Sambung Jawa, Jalan Baji Gau I, Makassar. Sesuatu yang tak biasa terlihat di dalam lingkungan sekolah.
Murid, guru dan pegawai lainnya silih berganti datang. Namun ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sebagian dari murid tersebut tidak mengenakan baju seragam anak sekolah. Melainkan berbaju korpri dan bercelana panjang, menyerupai seragam guru.
Ya, di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini, upacara peringatan di SDN Kompleks Sambung Jawa berlangsung tak biasa. Murid di sekolah ini diberi kesempatan untuk menjadi guru serta kepala sekolah dalam sehari.
Pelaksana upacara adalah para murid. Dari pemimpin upacara, bahkan hingga pembina upacara yang biasa dilakoni seorang kepala sekolah.
Ada 20 orang murid yang menjalani peran berbeda. Berpakaian layaknya seorang guru, mereka memeragakan keseharian seorang guru. Pada saat upacara, yang menjadi kepala sekolah menyampaikan pidato. Yang menjadi guru olahraga, berpakaian olahraga. Yang guru agama memakai baju berwarna coklat. Sementara yang lainnya mengenakan baju korpri.
Muimam Al Gazali yang menjadi pembina upacara, tampak serius berdiri dihadapan murid lainnya saat berlangsung upacara. Murid laki-laki yang biasa dipanggil Imam ini, mengaku sangat senang bisa menjadi kepala sekolah dalam sehari.
Sebagai seorang kepala sekolah sehari yang juga menjadi pembina upacara saat itu, ia menyampaikan pidato mengenai sejarah Hari Pendidikan Nasional dan mengenang tokoh Ki Hajar Dewantara.
Seusai upacara, para siswa ini pun masih tetap melanjutkan tugasnya sebagai guru. Yaitu dengan mengajar siswa-siswa lainnya di kelas, layaknya seorang guru.
Salah satu murid yang mengajar Saskia Salsa, mengatakan sangat bahagia bisa mengajar seperti layaknya seorang guru. Murid kelas V ini memang bercita-cita menjadi seorang guru.
Ia tampil dihadapan teman-teman lainnya. Dimulai pukul 08.00 Wita, Saskia mengajar di semua kelas yang dikumpul menjadi satu. Dengan cerianya, ia menjelaskan satu persatu setiap mata pelajaran kepada murid lainnya.
“Tadi saya mengajar tematik. Terus saya suruh membaca, sama kerja kelompok. Ada juga saya suruh menyanyi dan menari,” jelasnya sambil senyum-senyum.
Para siswa yang menjadi guru sehari ini pun tampak terus menggunakan pakaiannya sampai jam pulang sekolah berbunyi.
Kepala SDN Kompleks Sambung Jawa Fahmawati, mengatakan sekolah yang dipimpinnya ini selalu memperingati momen-momen penting, seperti Hardiknas.
Untuk kegiatan ini, pihak sekolah senantiasa memberikan kesempatan murid untuk berpartisipasi. Baik yang terlibat
melaksanakan, sampai pada yang menjadi tokohnya, seperti pembina upacara.
Hal itu dilakukan, menurut Fahmawati, karena sekolah memiliki program bernama Kenali Profesi yang disingkat Kepo. “Jadi hari ini (kemarin) bertepatan dengan Hardiknas, sehingga kita memberikan kesempatan lagi kepada anak-anak yang punya cita-cita sebagai guru. Jadi mereka diberikan kesempatan menjadi guru sehari, menjadi kepala sekolah sehari,” jelas Fahmawati.
Pertunjukan Mendongeng
SDN Kompleks Sambung Jawa juga mengadakan pertunjukan dongeng di sela-sela kegiatan mereka merayakan Hardiknas. Lagi-lagi, yang menjadi pendongeng adalah para murid.
Aisyah, seorang murid membawakan dongeng berjudul Putri Tandampalik yang berasal dari Luwu. Dengan begitu ekspresif, murid kelas V ini mendongeng sekaligus mengekspresikan setiap adegan.
Siswa lainnya Kanita Rana Fehima juga membawakan dongeng cerita rakyat. Rana, sapaannya membawakan dongeng dengan judul La Upe. Cerita dari suku Bugis.
Rana juga membawakan dongeng ini dengan mengekspresikan setiap penggalan dongeng begitu sempurna. Wajar saja, karena ia pernah menjadi juara 5 lomba dongeng se-Kota Makassar.
Sebagai rangkaian peringatan Hardiknas ini, diserahkan penghargaan bagi murid dan guru atas dedikasi serta membawa nama baik sekolah. Seperti menjuarai sebuah lomba.
Selain penghargaan kepada Rana sebagai juara dongeng, hal serupa diberikan kepada Elvina Devi Airafika. Murid kelas V ini berhasil menjadi juara 1 Olimpiade Matematika tingkat Kecamatan Mamajang.
Ada juga penghargaan yang diberikan kepada murid lainnya Ainin Nadya Utina. Ia berhasil menjadi juara 1 Komite Olimpiade O2SN tingkat Kota Makassar. (nug/rus/b)
