JALANGKOTE… Songkolo… Roko’-roko’ unti…. Suara Minah yang khas terdengar hampir setiap pagi di kawasan kantor Gubernur Sulsel. Dengan dua hingga tiga kantong plastik besar di tangannya, wanita itu memasuki hampir setiap ruangan yang ada di kantor tersebut.
Laporan: RAHMA AMRI
Di dalam kantong plastik tersebut berisi aneka penganan atau kue tradisional. Mulai dari onde-onde, lemet, pisang goreng, songkolo, risoles, jalangkote, dan beberapa jenis kue lainnya. Dalam sehari, paling sedikit ada 10 macam kue yang dijajakan.
Kue-kue tersebut bukan hasil olahannya sendiri. Melainkan titipan dari sejumlah tetangganya pembuat kue.
Mina berjualan kue di Kantor Gubernur sudah beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, dia menjadi pengantar makanan di kantin Pemprov Sulsel.
Namun, dia kemudian banting setir menjual kue-kue. Untung yang diperoleh dari hasil menjajakan kue tidak seberapa. Sistemnya, bagi hasil. Satu kue yang berhasil finial, Mina mengambil keuntungan Rp100 hingga Rp200. Jika 100 kue laku, Mina hanya mengantongi uang Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.
“Tergantung berapaji kue yang saya kasih laku. Kalau banyak, alhamdulillah. Kalau tidak, tetap disyukuri, ” ungkapnya.
Mina menjajakan kuenya bermodal kekuatan. Pasalnya, kue-kue itu dijajakan dengan jalan kaki. Dari rumah kosannya di Jalan Haji Kalla, pagi-pagi saat para pegawai bergegas ke kantor, dia juga sudah sibuk mempersiapkan barang dagangannya.
Dengan penuh harapan dan optimis, dia pun berharap kuenya bisa laris manis.
Kehadiran Mina cukup membantu para pegawai yang tidak sempat sarapan. Menggunakan sistem jemput bola, Mina mendatangi ruangan-ruangan yang ada.
Dia pun membebaskan para pegawai menikmati kue dan menghitung sendiri yang telah dimakan. Mina juga cukup akrab dengan para pegawai, khususnya yang ada di lingkup sekretariat. Tak jarang, ada yang berutang. Namun, Mina tetap mengandalkan kepercayaan para langganannya. (*)
