TERBATASNYA keahlian, ditambah tuntutan ekonomi membuat seseorang terpaksa banting tulang bekerja apapun demi mengumpulkan uang. Begitupun yang dirasakan Dg Maya penjual bunga kuburan di Perkuburan Islam Panaikang.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Di umurnya yang sudah menginjak 72 tahun ini ia tetap bertahan berjualan bunga bersama penjual lainnya di depan pintu masuk perkuburan Islam Panaikang. Walaupun penghasilannya tidak menentu, Dg Maya tetap menjual sekalipun ia akui menjual bunga makam itu barang musiman.
“Salloma (lama) nak’ disini menjual sama anak dan cucuku, kah tidak ada mi’ bisa dikerja, kah tua ma nak’, “ungkapnya saat di temui penulis di sela-sela ia beristirahat di tempat jualannya, kemarin.
Semenjak ditinggal suami 40 tahun yang lalu, Dg Maya sudah berjuang menghidupi dirinya sendiri bersama dua cucunya. Belum lagi ia mengakui pekerjaan menjual bunga makam tidak setiap hari mendapatkan rezeki. Belum lagi, berjualan bunga diakuinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“Dipanggil kah sama anakku berjualan bunga, karena tidak bisa na bantu kah juga nak’, kah Tenna Kulle (tidak bisa) na bantu kah ada anak dan istrinya sendiri, baru cuman kerja menyapu makam ji kodong,” katanya.
Ia bersyukur masih diberi kekuatan untuk berjualan tanpa meminta belas kasihan ke anaknya. Demi menghidupi kebutuhannya Dg Maya mencari sumber penghasilan lainnya dengan menjadi pekerja rumah ditetangganya.
“Dulu saya kerja di rumahnya orang, ambil cucian, menyetrika atau memasak, nanti na kasih kah berasnya, atau pembeli ikan. Kah tidak mau kah saya nak minta-minta ke orang, kalau pulang ma menjual ini belima kaddokang (lauk pauk), ” ucapnya.
Dg Maya mengaku sudah 15 tahun menjual bunga tabur makam yang dibantu anak dan menantunya, rumahnyapun dekat dengan makam tempat ia menjual. Dijam 06.00 pagi ia sudah keluar rumah untuk menunggu pedagang bunga langgananya yang biasa ia beli dengan harga Rp500-2.000 kemudian ia campuran dengan daun pandan.
“Cepatkah nak saya keluar jam 06.00 keluar ma menjual, nah siang ini baru Rp10.000 ku dapat. Biasanya tidak ada juga tapi tetap ki bersyukur. Doakan kah nak supaya panjang umur,” ujarnya.
Selain itu Dg Maya mengaku penghasilannya tentu tidaklah cukup menghidupi dirinya sebab satu kantong bunga dijualnya seharga Rp5.000 begitupun air sari bunga ia jual seharga Rp 10.000. Bunganya bisa laku jika ada pelayat yang membawa jenazah untuk dikebumikan.
Begitupun saat memasuki bulan ramadan dan lebaran, Dg Maya biasanya mendapatkan untung yang banyak hingga bunganya habis 20 kantong dalam sehari. Hal itu ia rasakan seminggu menjelang ramadan dan sehari sebelum lebaran.
“Tidak banyak ji memang karena kalau masuk mi bulan ramadhan nanti, banyak yang juga menjual disini. Jadi untung-untungnya Rp 100 ribu paling banyak laku 20 kantong ji, kalau harga sama ji hari biasanya tapi biasanya sehari-hari rugi ki sediakan setiap hari, nanti ada penggali kubur bilang ada yang mau dimakamkan besok baru kita jual lagi, ” bebernya.
Begitulah yang dirasakan oleh Dg Maya penjual bunga tabur makam, dia mengaku hanya saat menjelang ramadan saja dagangannya akan laris manis. Karena biasanya masyarakat Bugis-Makassar sebelum memasuki bulan ramadan selalu melakukan ziarah ke makam keluarga.(*)
