MEMUTUSKAN menerjuni bisnis hijab tentu tidak gampang. Perlu banyak menguras tenaga dan pikiran. Seperti halnya yang dirasakan Fitriani Ulma saat di awal-awal menjual jilbab hingga memperkenalkan brand jilbabnya sendiri yang diberi nama Ulma Hijab.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Ulma selalu berkeliling kampus hingga membawah satu persatu brand jilbabnya. Ia memperkenalkan hijab miliknya ke teman-teman kampus. Awalnyapun, keinginan Ulma sangatlah mulia, ia hanya ingin semua muslim dapat memakai jilbab yang syar’i dengan harga yang sangat terjangkau.
“Awalnya hanya satu sampai tiga jilbab saya bawah ke kampus, itupun kadang laku kadang tidak. Tapi lambat laun sudah banyak yang tertarik hingga jilbab bisa dipesan hingga 50 pcs perbulan. Kalau sekarang sudah bisa habis 100-200 pcs setiap bulan,”ungkapnya saat ditemui penulis.
Selain itu, Ulma juga banyak bergaul dan bergabung dengan komunitas bisnis. Di komunitas tersebut, Ulma mendapatkan banyak teman yang dapat dijadikan tempat saling bertukar pendapat, serta diskusi mengenai bisnis untuk saling menguatkan. Pendapatan atau keuntungan yang didapatkan Ulma, Ulma tidak lupa menyisipkan tabungan untuk kaum duafa yang masuk dalam yayasan kaum dhuafa.
“Untuk memperdalam ilmu usaha, saya diajak teman untuk masuk komunitas bisnis dagang namanya, nah disitu saya banyak tahu soal berbisnis. Kenapa bisnis jilbab saya bertahan karena berawal dari situ. Sebagian keuntungan yang saya dapatkan itu ada terselip uang orang lain makanya saya selalu setiap bulan salurkan itu,” jelasnya.
Lanjut Ulma, suka maupun duka yang ia rasakan telah ia lalui artinya ia mendapatkan suka saat bekerja karena dapat mengatur waktunya sendiri, tidak ada yang menekan maupun mengaturnya. Ia juga dapat berkreasi untuk membuat produk jilbabnya sesuai selera ataua pesanan pelanggan.
“Ada kepuasan tersendiri ketika hasil tangan ku dipakai oleh orang yang membeli produk Ulma Hijab dan banyak yang suka dengan jilbab yang saya pakai makanya banyak yang pesan sekarang, “ujarnya.
Sedangkan dukanya pun juga banyak seperti ia harus sabar menghadapi konsumen yang memiliki karakter bermacam-macam, ada juga yang berutang.
“Duka keduanya, kadang-kadang konsumen yang membeli produk saya itu macet dalam hal pembayaran karena biasanya banyak yang utang dulu, dan orderan sepi. Kadang juga kalau ada orang kulihat mau sekali pakai jilbab syar’i tapi tidak bisai nabayar kadang saya niatkan mami untuk disedekahkan,” bebernya.
Bandrol harga jilbab ulma syari pun beraneka macam dan harga di mulai harga Rp100-200 ribu. Begitupum baju ulma hijab terusan ia jual dengan harga Rp150-250 ribu. Bahkan saat ini otlet dari Ulma Hijab sudah ada di Makassar, Gowa dan Jeneponto.
“Alamdulliah sudah ada saya buka butik saat ini. Pengennya sih lebih besar lagi dari yang sekarang. Pengennya punya rumah produksi hijab pribadi dan punya butik di beberapa lokasi biar tidak nebeng lagi di tempatnya orang,” terangnya.
Perempuan kelahiran Jeneponto, 23 mei 1994 ini membeberkan pasca dirinya mempunyai modal yang dibilang tak seberapa dari keuntungan menjualkan brand orang. Akhirnya Ulma memutuskan berhenti menjadi agen dropship sebelum menjalan bisnisnya sendiri, pelan-pelan Ulma kemudian memproduksi sendiri barang dagangannya dengan label Ulma Hijab.
“Jadi saya tabung uang beasiswaku sejak kuliah ditambah hasil jual hijab, semua itu saya kumpulkan sampai bisa beli kain dan mesin jahit. Saya mulai merintis bisnis jilbab dengan menjadi agen dropship sejak 2015, baru diakhir-akhir 2016 saya menjadikan namanya sendiri sebagai brand saya,” bebernya.
Selama itu, Ulma bercerita jika dirinya menjalankan bisnis memerlukan kegigihan. Ia sering mengkampanyekan label Ulma Hijab melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Namun, label Ulma Hijab baru dipasang ke dalam produk dagangan jilbabnya pada tahun 2016, karena pada tahun ini Ulma baru memiliki uang untuk memasang label tersebut.
Selain itu, Ulma juga bercerita bahwa memulai bisnis jilbab buatannya sendiri dengan modal minim, ia pun terpaksa membeli bahan jilbab semampunya. Kadang hanya membeli bahan sekitar 10 meter, 20 meter, dan 40 meter dengan harga eceran di pasar, kemudian dijahitkan ke orang lain. Begitulah Ulma memulai bisnis jilbabnya dengan kucuran keringat dan kerja keras.
“Awalnya cuman beli kain seadanya sesuai kemampuan keuangan, karena biasanya saya buatkan hijab orang berdasarkan pesanan. Karena kalau menjahit lebih dulu biayanya mahal dan belum tentu laku. Sekarang saja bisnis hijabku dijahitkan orang karena kewalahan,” terangnya.(*)
