MUH ALIEF tampak serius menerima kupon bertanda khusus yang disodorkan puluhan jamaah yang baru saja menunaikan salat di Masjid Raya, Kamis (10/5). Ia sibuk mengambil sepatu dan sandal jamaah yang dititipkan padanya.
Laporan: ARIEF AL QADRY
Muh Alief, tidak seperti teman sebayanya yang cenderung mengisi waktu libur sekolah atau lowongnya dengan berhura-hura.
Merapikan sendal dan sepatu milik jemaah di Masjid Raya Makassar telah menjadi pekerjaan rutin dilakukan setiap hari ketika pulang dari sekolah. Pekerjaan selingan mulai dilakoninya tahun 2016 lalu saat masih duduk kelas satu SMK II Bontoala Makassar.
Pintu bagian utara Masjid Raya Makassar adalah tempat Alief melayani jemaah yang ingin menitipkan sendal dan sepatu. Bagi jemaah yang menitipkan sendal dan sepatu diberikan kartu nomor sesuai dengan nomor stiker yang ditempelkan di sendal dan sepatu masing-masing jemaah.
Penulis yang berada di lokasi penitipan sandal dan sepatu melihat Alief begitu ramah melayani setiap jemaah yang masuk. Jemaah yang hendak masuk dalam masjid diminta untuk melepas alas kakinya. Tanpa jijik, Alief mengambil sendal dan sepatu milik jemaah untuk diatur dan disusun di rak besi.
Jasa penitipan sendal dan sepatu sama sekali tidak patok harga. Alief bersama teman-temannya hanya berharap uluran rezeki seikhlas dari para jemaah yang menitipkan sendal dan sepatunya dengan memasukkan langsung ke dalam celengan yang disediakan.
“Tidak ada ji patokan berapa yang harus dibayar jemaah menitipkan sendal dan sepatunya. Recehan atau kertas kami terima asal itu ikhlas dari jemaah. Tidak ada juga tidak apa karena kami disini hanya berharap keikhlasan dari jemaah,” sebut warga Barawaja 1.
Awal Alief menjadi penjaga penitipan sendal dan sepatu di Masjid Raya Makassar setelah mendapatkan tawaran oleh keluarganya. Dan diwaktu itu juga, Alief lagi butuh uang tambahan untuk membayar uang sekolah. Tanpa pertimbangan yang panjang, Alief menerima tawaran itu dan langsung ke masjid melayani jemaah yang datang.
Sejak duduk di bangku SD kelas III hingga selesai SMK, Alief hidup bersama neneknya. Seluruh biaya hidup dan biaya sekolahnya pada saat itu ditanggulangi nenek dari bapaknya.
Di mana ketika masih berusia sepuluh tahun, Alief yang masih duduk di kelas III SD ditinggal pergi ke dua orang tuanya. Ibu dan bapaknya pisah dan memiliki pasangan baru. Ibunya kandungnya sudah bersuami dan menetap tinggal di Kabupaten Gowa. Sedangkan bapaknya juga sudah beristri dan tinggal di Jayapura.
Sejak perpisahan itu, Alief mengaku tidak pernah lagi melihat sosok ibu dan bapaknya. Bahkan uang jajan tidak pernah dikirimkan.
“Jadi saya kerja jadi panitia penitipan sendal dan sepatu untuk biaya sekolahku bantu nenek. Sekalian untuk jajan karena kalau tidak kerja, kasihan nenek ku juga,” sebutnya.
Pengalaman unik didapat Alief. Pada hari Jumat atau Lebaran, ia biasanya kewalahan untuk bisa melayani jamaah yang menitipkan sepatunya. Meski sudah dibantu beberapa teman, ia kadang masih kerepotan lantaran jamaah biasanya tidak sabaran ketika menyerahkan kupon.
Karena buru-buru ingin pulang dan enggan antre, ia seringkali dibingungkan hingga salah menyerahkan alas kaki. Sehingga, Alief pernah menerima komplain dari jamaah yang tidak mendapatkan alas kaki yang dipakainya ketika datang ke masjid.(*)
