BULAN Suci Ramadan menjadi momen spesial yang dinanti-nantikan Muh Alief Akbar bersama teman-temannya, yang bekerja sebagai penjaga sendal dan sepatu di pintu masuk bagian utara di Masjid Raya Makassar.
Laporan: ARIF AL QADRY
Disaat waktu salat zuhur, ashar, magrib dan tarawih, pria kelahiran Ujung Pandang 18 Februari 1999 selalu berada di pintu masuk masjid. Disana, Alief yang dibantu empat orang temannya merapikan sendal dan sepatu milik para jamaah yang datang. Ada yang menempelkan stiker ke sendal dan sepatu, menyusun ke rak besi dan ada juga yang melayani pengambilan barang milik jamaah.
Sendal dan sepatu milik jamaah yang telah ditempelkan stiker sesuai dengan nomor kartu yang diberikan, diatur dan disusun ke dalam rak besi. Stiker sengaja diberikan di bagian atas sendal dan sepatu guna menghindari ada barang yang tertukar.
Alief bersama teman-temannya tidak pernah memaksa ataupun mematok harga biaya jasa penitipan. Kalau ada, diterima dan jika tidak ada diberikan mereka juga tidak permasalahkan. Sebab apa yang dikerjakan hanya harap uluran kasih dan keikhlasan dari para jamaah pengguna jasa penitipan sandal dan sepatu.
“Kalau bulan puasa saya dan teman-temanku mulai jaga dari 11:00 sampai 22:30. Atau sebelum salat zuhur sampai selesai tarawih. Ramai jamaah kalau bulan puasa dan beda sekali perbandingannya kalau hari biasa jamaah yang masuk dan membagikan rezekinya di kotak penitipan barang,” sebut warga Jalan Barawaja 1.
Di bulan puasa, Alief membawa pulang uang sampai Rp150.000 per hari, setelah sisanya sudah dibagikan ke panitia masjid dan teman-teman yang membantunya. Sedangkan di hari biasa hanya mampu membawa pulang uang paling banyak Rp50.000 per hari bersih dari hasil menjaga sendal dan sepatu.
Tahun ini anak tunggal dari pasangan Akbar dan Jumriah merasa sedikit lega dari beban. Di mana beban sekolah dan biayanya sudah hilang. Tahun 2017 ia menyelesaikan pendidikannya jenjang SMK. Sehingga di tahun ini uang yang didapatkan dari hasil penitipan sandal dan sepatu di Masjid Raya Makassar digunakan untuk membantu biaya hidup neneknya yang sejak kecil setia dan ikhlas memeliharanya.
“Dulu uang yang saya dapat sebagian saya simpan untuk uang sekolah dan biaya hidup, tahun ini sedikit berkurang mi. Jadi bisa ma kasihkan ki nenek ku untuk uang makan dan baju baru,” sebutnya.
Anak yang dikenal oleh teman-temannya cukup prestasi di sekolah sejak SD itu berkeinginan dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi pelayaran. Karena sejak SMP dia bercita-cita ingin menjadi pelaut. Olehnya itu sedikit demi sedikit rezeki yang dia dapat dikumpulkan sebagai modal masuk di perguruan tinggi pelayaran.
“Kalau ijazahku sudah keluar, saya mau ji cari kerja lain yang gajinya sudah tetap dan bisa dikumpul untuk modal mendaftar di pelayaran. Karena saya mau jadi pelaut,” harapnya.
Selama tiga tahun menjadi penjaga sendal dan sepatu di Masjid Raya Makassar, bukan berarti Alief tidak pernah mengalami hari yang buruk. Pernah beberapa kali dialami sendal dan juga sepatu milik jamaah tertukar oleh orang lain. Mau tidak mau dia harus bertanggung jawab.
Jamaah yang tidak terima sendalnya hilang meminta ke Alief untuk menggantinya. Bukan berupa barang, tetapi berupa uang senilai dengan harga sendal milik jamaah yang hilang itu. Mau tidak mau, Alief patungan dengan teman-temannya bertanggung jawab dengan memberi uang ke jamaah yang sendalnya hilang sebesar Rp300.000.
“Ada juga pernah jamaah yang sepatunya hilang, sepatu harga Rp500.000. Untung orangnya baik cuma minta beli sendal biasa untuk dia pakai pulang ke rumahnya. Yang pusing kalau ada yang minta diganti berupa uang senilai harga sendal dan sepatunya. Dan itu pernah saya alami. Panitia masjid tidak ada urusan dengan itu, jadi kami di penitipan yang bertanggung jawab. Meskipun diberikan stiker dan nomor masih ada biasa yang mengaku punya barang padahal bukan. Jadi harus memang hati-hati,” pungkasnya.
Awal Alief menjadi penjaga penitipan sendal dan sepatu di Masjid Raya Makassar setelah mendapatkan tawaran oleh keluarganya. Dan diwaktu itu juga, Alief lagi butuh uang tambahan untuk membayar uang sekolah. Tanpa pertimbangan yang panjang, Alief menerima tawaran itu dan langsung ke masjid melayani jemaah yang datang.
Sejak duduk di bangku SD kelas III hingga selesai SMK, Alief hidup bersama neneknya. Seluruh biaya hidup dan biaya sekolahnya pada saat itu ditanggulangi nenek dari bapaknya.
Di mana ketika masih berusia sepuluh tahun, Alief yang masih duduk di kelas III SD ditinggal pergi ke dua orang tuanya. Ibu dan bapaknya pisah dan memiliki pasangan baru. Ibunya kandungnya sudah bersuami dan menetap tinggal di Kabupaten Gowa. Sedangkan bapaknya juga sudah beristri dan tinggal di Jayapura.
Sejak perpisahan itu, Alief mengaku tidak pernah lagi melihat sosok ibu dan bapaknya. Bahkan uang jajan tidak pernah dikirimkan.(*)
