MENJADI seorang pengasuh di panti asuhan tidak semudah yang diperkirakan. Mereka harus melakukan pendekatan seperti orang tua agar mereka dan anak panti bisa terjadi kontak batin yang tulus. Seperti yang dilakoni Asni Dg Siang sebagai pengasuh di Panti Asuhan Jabal Rahmah.
Laporan: JUNI SEWANG
Siang kemarin, penulis sempat singgah di panti asuhan tersebut. Di rumah kayu yang berukuran tidak besar tersebut terlihat anak-anak sedang bermain.
Seorang gadis berkerudung coklat terlihat cekatan memandikan anak-anak satu per satu.
Asni yang masih berusia 30 tahun itu, tidak pernah menyangka akan bekerja sebagai pengasuh di Panti Asuhan Jabal Rahmah yang tepatnya berada di Jalan Hertasning.
Awalnya ia hanya berniat mengunjungi kerabatnya di Makassar, tepatnya pemilik dari Panti asuhan Jabal Rahmah. Kunjungan pertamanya ini membawa kesan tersendiri. Ia senang dan merasa terhibur melihat bayi dan anak anak panti.”Rasanya senang melihat anak kecil banyak”, ungkap gadis lima bersaudara ini.
Tak terbayangkan olehnya jika ia yang mengalami nasib seperti anak anak panti disini. Asni Dg Siang bersyukur mempunyai orang tua. Gadis yang hanya lulusan tingkat SLTP cukup bertanggung jawab dalam mengurus panti. Sudah sekitar lima tahun Asni menjadi pengasuh di pantu Asuhan Jabal Rahmah.
Ajakan saudaranya untuk membantu tugas di panti asuhan ini ditanggapinya dengan tidak serius. Awalnya, ia diperbantukan untuk sementara waktu. Namun, setelah berjalan gadis lajang ini merasakan betah. Asni juga terkadang menangani bayi walaupun lebih dominan diurus oleh Ibu panti, dirinya mengurus anak anak diatas dari dua tahun. Layaknya orang tua, dirinya sedih bila ada anak panti yang sakit, sebaliknya saat mereka senang dan sehat, Asni pun merasa gembira. Dengan jumlah bayi sebanyak 1 orang berumur dua bulan dan puluhan anak anak dengan usia dari dua tahun hingga usia SMA Kelas Tiga yang Asni harus jaga.
Malam yang tenang menjadi saatnya untuk merenungi apa yang telah diperbuat. Ketika anak-anak asuhnya sudah tidur, Asni sering menangis. Sambil melihat anak-anak asuhnya tertidur pulas, benaknya berucap “apakah saya bisa membesarkan mereka menjadi orang, menjadi anak sholeh dan sholehah, mencapai cita-cita layaknya anak-anak lain yang punya orang tua”. Pada kenyataannya, ia dan rekan-rekannya berbuat semampu mereka untuk mengantarkan anak asuhnya meraih cita-cita. (*)
