SUDAH hampir 21 tahun, Junari setia mengelola bisnis usaha jualan pakaian dan aksesoris milik keluarganya di pelataran teras Masjid Al Markaz di Jalan, Masjid Raya Makassar. Dompet, kopiah, serta baju muslim dan muslimah berbagai macam bentuk dijualnya.
Laporan; ARIF AL QADRY
Tidak sulit menemukan stand atau lapak jualan perempuan kelahiran Bima, 25 Desember 1976 itu. Jika masuk dalam Masjid Al Markaz bagian utara tepatnya di dekat tempat penitipan sendal dan sepatu, stand atau lapak jualan milik Junari menyambut mata jamaah yang ingin masuk atau keluar dari dalam masjid.
Setiap hari pada pukul 08:00 hingga 20:30 stand atau lapak jualan milik ibu satu orang anak itu selalu ramai dikunjungi jamaah masjid baik hanya sekadar melihat-lihat saja hingga membawa pulang bungkusan plastik berisi pakaian atau aksesoris yang dibeli. Jika tidak beli dan hanya tanya-tanya saja, Janari tidak permasalahkan dan tetap melayani setiap orang yang merapat di lapak jualannya.
Harga barang yang dijualnya cukup terjangkau dan tak kalah saing dengan harga barang yang ditawarkan para Pedagang Kaki Lima (PKL) lain. Harga baju koko pria dari Rp150.000 sampai Rp250.0000. Kopiah mulai dari Rp50.000 sampai Rp100.000, Sarung Rp50.000-Rp75.000, Mukenah dari Rp50.000 sampai Rp170.000. Adapun Sorban seharga Rp25.000 sampai Rp100.000 dan sajadah Rp50.000 sampai Rp85.000.
“Harganya tidak kalah saing dengan harga penjual lain, tergantung dengan kualitas dan bahannya saja. Pakaian yang saya jual mulai dari usia anak-anak sampai orang dewasa laki-laki dan perempuan,” katanya.
Barang-barang yang dijual Junari terbanyak dipasok dari Jakarta dan Surabaya. Semua barang yang dijual adalah barang usaha milik sepupunya yang dikelolanya karena kepercayaan. Meski demikian, ia tetap dibayarkan setiap bulan yang cukup untuk memenuhi hidup bersama satu anaknya.
Dalam cerita Junari kepada penulis, awal dirinya masuk ke Kota Makassar berjualan di pelataran masjid ketika masih berusia 20 tahun usai menyelesaikan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu juga dirinya mendapat ajakan dari sepupunya untuk jaga lapak pakaiannya di Masjid Al Markaz.
Tanpa berpikir panjang, dia meminta izin kepada ke dua orang tuanya untuk ke Makassar. Pilihannya membantu keluarganya mengelola usaha jual pakaian dan aksesoris. Hingga sampai saat ini, dia sudah menetap di Makassar.
“Dulu saya hanya berjualan aksesoris, tapi sekarang tambah dengan pakaian muslim dan muslimah yang didatangkan dari Jakarta dan Surabaya. Biasanya ada persenan dari hasil jualan, kalau saya tidak. Tetap digaji setiap bulan jadi menetap pendapatan,” terangnya.
Cukup banyak perbedaan yang dirasakan hasil penjualan ketika bulan suci ramadan dan hari-hari biasa. Kalau di hari biasa paling banyak laku terjual adalah kopiah dan untuk di bulan suci ramadan ratusan lembar pakaian dan aksesoris lain bisa laku terjual. Maka tidak salah ia mengatakan momentum masa panennya.
Meski demikian hari-harinya terkadang harus sedikit rugi. Di mana adanya berang-barang yany tercecer hingga lenyap ketika sedang ramai-ramai pengunjung datang ke tempatnya. Tetapi semua yang terjadi dia ikhlaskan dan sebagai sedekah. Apalagi sepupunya juga tidak permasalahkan.
“Dulu sepupu saya sebagai pengurus di Masjid Al Markaz dan pada waktu itu meminta untuk membuka jualan di pelataran. Saya dipanggil sejak awal untuk kelola dan sampai saat ini. Saya syukur masih dipercaya kelola ini usaha apalagi tempat tinggal saya ditanggung keluarga. Ada rumah yang dikontrakkan ke saya dan itu dibayarkan,” tutupnya.(*)
